CHRYSTAL “Aku hamil empat bulan.” Sebuah senyuman lebar mengembang di wajahku. Sedetik, dua detik bahkan hampir satu menit aku tersenyum, Sen sama sekali tidak merespon. Dia hanya terdiam sembari menatapku. Ekspresinya tidak terbaca. “Sen,” panggilku sembari menggoyangkan tangan di depan wajahnya. “Kenapa baru bilang sekarang, Rys?” desisnya. Wajahnya sekarang tampak menahan marah. Aku jadi merasa sangat bersalah. Bagaimanapun juga ini adalah berita penting bagi kami dan aku tetap bungkam selama berminggu-minggu, bahkan sempat kabur dan memutukannya. “Maaf. Aku tidak punya kesempatan untuk mengatakannya, hingga masalah itu datang. Astaga, maafkan aku Chriseon.” Mataku kembali memanas. Butiran air mataku kembali berurai. Tanganku segera meraih tangan Sen untuk kugenggam erat. Mencium

