CHRYSTAL “Kejutan!” sebuah teriakan berhasil mengalihkanku dari pertanyaan Sen barusan. Di ambang pintu ruangan sudah berdiri seorang pria tampan. Dalam balutan pakaian kerjanya, dia terlihat berseri. Tangannya terbuka lebar. Dia terlihat, bahagia. Tiba-tiba saja aku merasakan pelukan Sen mengerat. Sen yang seperti ini pertanda tidak baik untukku. “Sedang apa kamu di sini?” desis Sen kepada pria itu. Nada suaranya telah berubah dingin. Terakhir kali yang kuingat, nada suara itu pernah Sen keluarkan saat kami berdua belum menjadi sepasang kekasih. Saat di mana Sen memperbudakku. Hebatnya, pria itu tadi tidak gentar. Padahal dia tahu, bahwa Sen adalah atasan tertinggi Hotel tempatnya bekerja sekarang. Malah dengan santainya, pria itu berjalan mendekati meja. Senyum penuh kepercayaan dir

