BAB 7

3935 Words
CHRYSTAL “Setidaknya Re, aku bahagia dengan keberadaan Sen di sampingku dan terima kasih sudah membuat Sen menarikku dari ruangan waktu itu,” ucapku sembari menatap kedua mata berbeda warna milik Sen. Regan meneriakkan berbagai makian di dalam pikirannya. Dia begitu marah, kecewa, seolah dia yang dikhianati, bukan diriku. Aku menoleh kembali kepadanya dan menatapnya selama beberapa detik. Pria itu masih bergeming di tempatnya.  Segera saja aku berbalik dan meraih tangan Sen ke dalam genggamanku. Menariknya menjauh dari suasana yang sudah tidak nyaman lagi. Untung saja, percakapan singkat kami tidak terlalu menarik banyak orang, hanya beberapa orang sempat menoleh karena mendapati Sen berdiri bersamaku, atau lebih tepatnya mulai membicarakannya. Bagaimanapun Sen, diusianya masih terbilang cukup muda sudah menduduki kursi CEO di FAL. Dia pantas dipuji. “Kamu hebat,” pujinya saat kami hanya berdua. Sen berjalan mendahuluiku menuju ke pinggir balkon tanpa melepaskan genggaman tangan kami. Dari sini aku bisa memperhatikan pria itu. Dia langsung menengadah sembari menatap hamparan bintang di langit malam. Aku yang sejak tadi berdiri di belakangnya, segera menyusulnya untuk berdiri di sampingnya. Tanpa sadar kepalaku ikut mendongak menatap hamparan bintang-bintang di langit malam. “Kamu benar-benar hebat,” puji Sen sekali lagi. Seketika Aku menoleh kepadanya. Ternyata pria itu tengah menatapku sembari melemparkan sebuah senyuman lembut. Mungkin dia tidak sadar, bahwa senyum miliknya begitu menawan bahkan seluruh wanita bisa meleleh dibuatnya. Sayangnya kurangnya pencahayaannya di sini, aku jadi tidak bisa menatap kedua mata indahnya juga. “Terima kasih,” balasku. “Tapi, aku tidak sehebat itu.” “Menurutku, wanita hebat adalah wanita yang mau menghadapi dan berdamai dengan masa lalunya. Meskipun, dia tahu betapa kamu harus menahan rasa sakit untuk tersenyum di depannya. You are great woman, Rys.” “Bukankah itu yang sejak tadi kamu inginkan dariku, Sen? Aku hanya berusaha sekuat tenaga untuk menuruti apa yang kamu inginkan.” Pria itu terkekeh pelan, lalu menggeleng. “Aku hanya mengatakannya untuk memotivasimu. Jika kamu melakukan apa yang aku minta, itu bukan karena aku, melainkan karena dirimu sendiri, Rysta.” “Terima kasih, Sen.” Sen mengangguk sebagai jawaban, lalu kembali menoleh menatap hamparan bintang. Entah setan mana yang merasuki diriku, aku bahkan tidak ingin melepaskan genggaman tangan kami. Bahkan, yang paling menenangkan saat ini, dia juga sama-sama menggenggam erat tanganku. Aku menatap wajah tampan Sen dari samping. Menganggumi pelan pahatan indah yang Tuhan berikan ketika membentuk wajahnya. Kenapa pria ini begitu baik kepadaku? Kami baru bertemu beberapa hari, bahkan belum genap sebulan kami kenal. Aku masih ingat di hari pertama kami bertemu pun aku mengakui bahwa aku penasaran kepadanya karena aku tidak bisa membaca pikirannya. Lalu, tiba-tiba saja Sen datang tepat waktu di saat Regan, kekasihku atau mungkin mantan kekasihku itu, tengah memarahiku serta menyakitiku dengan kata-katanya. Tuhan, aku bahkan baru mengenal Sen hari itu, tapi anehnya dia tetap menolongku begitu saja tanpa peduli bahwa di situ ada Regan. Setelah dia mengetahui rahasia kecilku. Dia memintaku untuk pindah dari  kos-kosan kecilku untuk tinggal di rumahnya yang besar bersama dengan adik kembarnya. Keesokannya dia segera mempekerjakanku menjadi sekertaris pribadinya dan yang lebih mengangetkan lagi adalah dia memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya di depan saudara kembarnya, bahkan ke Regan dan kepada semua orang. Tapi, dari semua keanehan yang telah terjadi. Malam ini adalah malam yang paling aneh menurutku. Meskipun aku sedih setengah mati melihat Regan bersama dengan Jessica malam ini, tapi ketika melihat kedua mata Sen tadi, aku benar-benar merasa bahwa aku sanggup menghadapi Regan jika aku bersama dengan pria ini. “Sen,” panggilku padanya. Sen menoleh, lalu mengangkat salah satu alisnya menunjukkan bahwa dia bingung. “Ada apa?” “Apa ini tidak terlalu cepat?” bisikku. Dia menatapku cukup lama, lalu tersenyum seolah dia mengerti maksudku. “Aku tahu, tapi aku tidak ingin memikirkannya. Biar waktu yang menuntunku dan kamu sampai ke akhir bukunya.” “Sen,” panggilku kembali padanya. “Ya?” “Terima kasih sekali lagi.” Lagi-lagi dia memamerkan senyum menawannya dan mengangguk. Tangannya yang bebas merogoh saku celana untuk mengeluarkan sebuah koin dari sana. Bentuk koin itu sedikit berbeda dengan koin yang dicetak di Indonesia. Berukuran lebih kecil, sedikit tebal dan berwarna perunggu. Cent coint, uang sen. “Yap, this is one cent coint from United States. Aku selalu membawanya ke mana-mana, karena aku merasa koin ini adalah barang keberuntunganku Cent and Sen, sama bukan?” Sen mengulurkan uang sen di tangannya kepadaku. Aku meraihnya, lalu memperhatikan detail koin itu. “Orang tua mu pasti terinspirasi dari koin ini saat menamainmu, ya?” Dia menggeleng cepat sembari tergelak. “Tidak, hanya kebetulan saja. Tapi, entah kenapa pas sekali. Nama Chrysant yang artinya sendiri adalah bunga krisan. Lalu, panggilan Sant yang arti lainnya adalah bidadari. Sedangkan, aku sendiri Sen yang artinya adalah uang Sen. Dikebanyakan negara uang sen adalah salah satu barang keberuntungan. Dan, aku mau kamu menyimpannya.” Aku terbelalak mendengarnya. “Kamu… yakin? Kenapa, Sen?” “Aku rasa kamu yang lebih membutuhkan banyak keberuntungan daripadaku.” Sen mengambil kembali koin itu dan memegang kedua sisinya, lalu ditunjukannya tepat di depan mataku. “Mungkin saat ini kamu hancur berkeping-keping karena pria itu, tapi harus ada yang kamu syukuri karenanya, bukan? Setidaknya kamu tidak dengan bodohnya terjerumus terlalu jauh hingga menikahinya. Tapi yang paling harus kamu syukuri adalah … pria itu tidak akan berani macam-macam padamu, karena kamu berada di bawah kekuasaanku.” Dia berbicara dengan nada sombong dan penuh percaya diri miliknya. Nada yang sama saat dia menyadarkanku bahwa betapa bodohnya aku bisa mencintai pria seperti Regan. Dia meraih tangan dalam genggamanku, lalu membukanya pelan. Diletakkannya koin tersebut di atas telapak tanganku. “That’s yours now. Semoga keberuntungan akan berpihak kepadamu. Di tangan kamu lah, kamu akan membuat sebuah keberuntungan. Semoga berhasil, Rys.” “Semoga kamu juga beruntung, Sen.” Kami berdua saling melempar senyum, lalu menatap kembali hamparan bintang di langit malam. Tanpa Sen sadari, dia terus menggenggam erat tanganku dan tak melepasnya bahkan hingga kami berdua sudah berada di dalam mobil yang tengah menuju ke Villa keluarga Kendrick . ***** Beberapa hari setelah malam itu, semua keadaan kembali normal. Maksudku, semuanya bahkan termasuk sikap Sen. Pria itu kembali menjadi tuan menyebalkan yang selalu membuatku gemas dan ingin mencekiknya hidup-hidup. Dia masih saja suka menyuruh-nyuruhku melakukan hal-hal seperti; membuatkan cokelat panas setiap pagi, membelikan makanan untuknya, dan hal-hal lain yang sebenarnya adalah tugas OB. Bukan hanya itu saja yang membuatku masih tidak habis pikir. Sifat hangat dia pada malam itu seolah lenyap dalam semalam. Aku masih ingat keesekon paginya, dia kembali bersikap dingin dan acuh tak acuh padaku. Aku juga masih teringat percakapan singkat kami saat itu. Sen menutup kedua matanya dengan sebuah sunglasses hitam sembari membaca novel di tangan. Kami berdua duduk bersisian di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Kendrick. Terlihat Sant dan juga Louis tengah asyik tertidur sembari berangkulan di samping kami. Aku menghela napas pelan dan berusaha merilekskan diriku dan mencoba untuk memejamkan mata, padahal sebenarnya aku tidak ngantuk-ngantuk amat. “Kamu tidak bisa diam ya?” desisnya padaku. Aku segera membuka mata, lalu meliriknya. Dia tetap fokus dengan bacaannya tanpa sedikitpun menoleh kepadaku. Mungkin dia merasa terganggu denganku yang sejak tadi terlalu banyak tingkah untuk membuatku merasa nyaman dalam tidurku. “Iya,” bisiku. “Kalau kamu tidak bisa diam, lebih baik pindah duduk saja.” “Kamu mengusirku?” “Tidak secara eksplisit!” Seketika aku merasa sakit hati. Entahlah, perasaanku tiba-tiba sedih saat dia mengusirku seperti itu. Aku menghela napas, mungkin kemarin malam dia sedang kesurupan jadi dia bertingkah semanis itu terhadapku. Dengan sediki kesal, aku berbisik kepadanya. “Ke mana perginya Sen yang manis semalam?” “Dia di sini. Memangnya semalam aku manis kepadamu? Aku saja tidak ingat dengan apa yang aku lakukan,” balasnya dengan nada datar seperti biasanya. “Apa?” Aku membelalakan kedua mataku. Astaga, sudah kuduga semalam itu bukan dirinya. Aku yakin itu dan sekarang sudah kembali menjadi Sen si manusia menyebalkan. Dengan wajah kesal bahkan menahan amarah. Aku segera bangkit dari kursi dan berjalan ke tempat duduk lain yang pokoknya jauh dari manusia bunglon macam pria ini. Tiba-tiba telepon kantor berbunyi. Tanpa sadar aku menggerutu pelan saat menduga itu pasti bosku yang menyebalkan. Apalagi yang akan dia perintahkan padaku? Membelikannya nasi goreng di bogor? Setelah kemarin dengan gilanya dia memintaku untuk membeli nasi padang langganan orang tua mereka di dekat rumah mereka. Memang sih masih di daerah Jakarta, tapi hotel ini kan terletak di perbatasan Jakarta Selatan dan Tanggerang itu rasanya sangat-sangatlah jauh jika harus pergi ke Jakarta Pusat hanya untuk membeli nasi padang. Memangnya dia pikir aku tidak memiliki pekerjaan lain? “Kamu pikir, aku menggajimu untuk melamun?” Sebuah suara tiba-tiba melenyapkan lamunanku. Aku menengadah dan menemukan Sen, bos bunglonku itu tengah berdiri tepat di depan mejaku. Wajahnya lagi-lagi terlihat menyebalkan dengan menampakan wajah datarnya. Astaga, andai aku bisa membaca pikirannya. “Maaf, sir.” Dia berdecak kesal, membuatku tanpa sadar menggerutu pelan padanya. “Sudahlah, sekarang kamu harus ikut aku.” “Ke mana, sir?” “Tidak usah terlalu banyak bertanya. Berdiri, ambil barang-barangmu dan kita pergi.” Sen mengetuk-ngetuk meja kerjaku dengan tidak sabar. Setelah aku benar-benar berdiri dan membawa tasku, dia langsung pergi begitu saja meninggalkanku. Membuatku harus belari kecil untuk bisa mensejajarkan langkah. Tuh kan, aku bilang apa? Pria itu memang menyebalkan. “Sir,” panggilku padanya. Dia seolah-olah tidak mendengarkanku dan terus saja berjalan dengan langkahnya yang panjang-panjang. Tuh kan, sudah menyebalkan, bunglon lagi. Ke mana sih pria baik yang ada di Bali malam itu? Kenapa yang ada sekarang adalah pria yang menyebalkan dan suka sekali menyuruh-nyuruhku seenaknya saja? “Sir,” teriakku. Aku terus berlari untuk meraihnya, hingga aku benar-benar kesal saat melihat bos sialanku itu masuk ke lift. Sepertinya juga, dia berniat meninggalkanku, karena tidak berusaha menahan pintu lift untuk tetap terbuka. Oh tidak bisa, pria itu memang sangat menyebalkan. “Tidak, tidak,” lagi-lagi aku berteriak. Pintu lift di hadapanku sudah tertutup sempurna, bahkan sebelum aku mencapai lift. Argh, golok mana golok! Pria itu kenapa menyebalkan sekali sih? Sudah menyuruhku untuk mengikutinya, tapi sekarang dia malah meninggalkanku. Maksud dia apa coba? Untung saja saat ini sudah jam makan siang, jadi tidak ada seorang pun yang ada di lantai ini yang melihatku berlari-lari mengejar Sen. Bukankah dia tadi menyuruhku untuk mengikutinya, lalu dengan teganya dia meninggalkanku begitu saja. Aku menengadah untuk memperhatikan panel lift yang dikhususkan untuknya itu. Panel itu berhenti tepat di lantai basement, segera saja aku menekan panah turun agar lift bisa segera naik dan aku bisa menyusulnya. Tiba-tiba aku merasakan ponselku berdering pelan di dalam totebag ku. Sembari memasuki lift, aku mencari-cari barang itu hingga aku menemukan ponselku di dalamnya. Aku mendengus saat menemukan sebuah chat w******p dari bosku itu. Dasar lambat! Arrgh!! Pria menyebalkan. Karena, terlalu kesal akan sikap menyebalkannya, aku sampai menekan-nekan tombol basement berulang kali. Yang lambat siapa? Bukankah dia yang meninggalkanku tadi. Dengan cepat aku mengetik untuknya dan segera mengirim untuknya. Dasar bos bunglon menyebalkan! Pintu lift terbuka tepat ketika aku melihat notif read di chat Whatsappnya. Aku mengalihkan pandanganku dari ponsel dan mulai menengadah. Ternyata pria itu sudah berdiri tepat di hadapanku dengan tatapan kesal. Kenapa dia jadi yang kesal padaku, bukannya ke balik ya? “Kamu pikir, kamu siapa memanggilku bunglon?” desisnya sembari menarikku keluar dari lift. “Sir, kamu kan memang bunglon. Tiba-tiba baik kepadaku dan tiba-tiba saja keesokan harinya berubah menjadi pria yang menyebalkan kembali. Itu namanya bunglon, sir,” jelasku. Sen mendengus kesal dan masih memegang erat tanganku. Dia menggeretku menuju ke mobil miliknya dan menyuruhku untuk duduk di kursi belakang. Aku melihat sopir kantor sudah duduk dengan manis di balik kemudinya. Pria itu segera memutari mobil setelah menutup pintu di sampingku dan masuk ke dalam kursi di sebelahku melalui pintu satunya. Mobil berjalan perlahan setelah pria itu sudah duduk manis di dalamnya. Dia bahkan tidak mengucapkan satu katapun padaku padahal mobil sudah meninggalkan kantor sekitar setengah jam yang lalu. Aku menoleh dan mendapati pria itu tengah sibuk dengan iPadnya, entah apa yang sedang dia sibukkan saat ini. “Sir,” panggilku pelan. Sen mengalihkan pandangannya dari iPadnya dan menatapku. “Ini sudah di luar kantor.” Aku menghela napas frustasi, baiklah-baiklah aku tahu maksud dia apa. “Sen, jadi kita akan ke mana sekarang?” “Meeting,” jawabnya singkat, lalu kembali lagi sibuk dengan iPadnya. Manusia menyebalkan, kalau memang mau meeting dia seharusnya tinggal bilang kepadaku dan semua selesai. Tidak perlu membuatku berlarian meraihnya dan mengata-ngataiya bunglon. Tapi, tunggu dulu hari ini dia sama sekali tidak ada jadwal meeting. “Bukankah hari ini jadwal meeting-mu sudah kamu cancel semua?” tanyaku memastikan. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Sabar Rys sabar. Tarik nafas, hembuskan ya begitu terus Rys. “Baiklah, jadi kita ada meeting di mana, Sir?” Pria itu terdiam cukup lama, lalu mematikan iPad di tangannya. Dia menoleh dan sekarang matanya menatap tepat di kedua mataku. “Kenapa kamu begitu cerewet dan menyebalkan sekali?” Astaga, matanya benar-benar membuatku tidak bisa berpaling darinya. Aku seakan tersihir oleh keindahan yang Tuhan ciptakan di depanku. Bahkan kedua mata beda warnanya yang sebenarnya kelainan itu bisa membuatnya menjadi ribuan kali lebih tampan dan aku harus mengakui bahwa Regan kalah tampan dengan bos menyebalkanku ini. “Kenapa kamu diam saja?” tanyanya. Aku mengerjabkan mataku beberapa kali, lalu mengalihkan wajahku darinya. Berdeham pelan sembari membetulkan posisi dudukku. “Kamu yang membuatku cerewet dan menyebalkan, Sen. Bahkan dulu aku tidak pernah mencereweti ataupun bersikap menyebalkan bersama Regan.” “Karena kamu menyukainya hingga kamu takut jika kamu melakukan hal yang dia benci maka dia akan lari darimu. Mudah sekali ditebak!” Oke, ini sebenarnya menyebalkan sekali. Sebegitu mudahkah aku dibaca olehnya? Aku saja yang memiliki kekuatan untuk membaca pikiran seseorang tidak bisa membaca pikiran pria itu, bahkan dari raut wajahnya sekalipun, tapi kenapa dia dengan mudahnya membaca pikiranku? Tapi, yang dia ucapkan barusan memang benar. Aku memang melakukan hal itu kepada Regan. Kata adikku, aku sebenarnya sangatlah cerewet, bahkan dia mengatakan bahwa andai dia bisa merekatkan mulutku dengan lem, maka dia akan melakukan. Lalu, apa aku semenyebalkan itu? Apa dia tidak sadar diri, dia juga menyebalkan menurutku. Lalu, karena Regan pernah mengatakan bahwa dia tidak menyukai wanita yang cerewet. Aku jadi bersikap manis dan sedikit tutup mulut, tapi sayangnya di depan keluarga dan teman-temanku sifatku tetap seperti biasanya. Ya, Regan mengubahku menjadi orang lain ketika bersamanya. “Kamu benar,” bisikku tanpa sadar. Terdengar dengusan geli. Aku menoleh dan mendapatinya masih menatapku. Dia benar-benar, astaga, tampan sekali apabila dia tersenyum seperti itu. Mungkin jika aku bertemu pria ini sebelum aku bertemu Regan, aku pastikan aku jatuh cinta padanya bukannya pada Regan, sayangnya tidak seperti itu. “Kamu ingin tahu kita akan ke mana?” tanyanya pada akhirnya. Aku mengangguk mantap. “Kita akan ke Singapura.” Seketika kedua mataku melotot mendengarnya. Apa yang dia bilang tadi? Singapura, tidak tidak. Bahaya jika aku ke sana sekarang, apalagi dengan pria ini. Bagaimana ini, mereka akan mudah mengaksesku jika aku berada di daerah kekuasaan mereka. “Kamu tidak serius kan, Sen?” “Tentu saja aku serius.” Aku menggeleng pelan. “Aku tidak ikut, Sen.” “Terlambat, Sayang. Karena kita sudah berada di depan pesawat jet pribadiku. Jadi kamu tidak memiliki alasan untuk menghindar. Lagi pula, memangnya kenapa dengan ke Singapura? Negara kecil yang begitu makmur itu.” Argh, pria ini! Bagaimana aku bisa menjelaskan kenapa aku tidak ingin ke sana. Ini lebih sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lalu, ini juga janggal sekali. Kenapa dia baru mengatakan setelah kami sampai di depan pesawat jetnya, seolah-olah dia akan tahu bahwa aku akan kabur jika dia mengatakannya di awal tadi. Jangan-jangan, Sen telah mengetahuinya? ***** “Sen, sen,” lagi-lagi aku berteriak memanggil namanya. Pria itu terus berjalan mendahuluiku, tanpa peduli jalanan orchard seramai ini. Hobi sekali sih dia meninggalkanku, astaga. Bukannya tadi dia mengatakan akan rapat dengan kliennya di Singapura, tapi kenapa malah mengajakku ke orchard road. Setahuku, jarang ada kliennya yang mengajak bertemu di Mall. Tapi, bukan itu yang mengganggu pikiranku, melainkan keberadaanku. Tempat ini adalah tempat biasanya mereka berkeliaran dan itu mempermudah mereka untuk menemukanku. Apalagi, jika memasuki salah satu pusat perbelanjaan di orchard road dan semoga pria itu tidak menuju ke tempat itu. “Sen,” teriakku sekali lagi. Aku berlari, benar-benar berlari lebih tepatnya. Segera saja aku meraih tangannya dan melingkarkan tanganku di lengannya. Dia melirikku sekilas, lalu seolah tak memedulikanku, dia tetap saja melanjutkan jalannya. Dasar menyebalkan! Setidaknya si Tuan Bunglon tidak akan kabur lagi, karena aku sudah mengikatnya erat. “Kamu memang sangat-sangat lambat,” desisnya. “Kamu menyebalkan sekali sih? Meninggalkanku di tengah keramaian seperti ini!” Dia menyeringai. “Kamu takut kutinggalkan, huh?” “Bukan seperti itu, maksudku ….” Maksudku itu kamu harus dekat-dekat denganku agar mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku kan bisa menutupi diriku dengan tubuh besar Sen. Tapi, aku tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Cari alasan Rys, cari alasan. “Maksudmu?” tanyanya dengan kening mengernyit. Aku melirik wajahnya. “Maksudku, aku hanya takut tersesat di tempat seperti ini,” jelasku. Sen mengangguk mengerti. Untung saja dia percaya dengan ucapanku itu. Dia terus berjalan dengan tanganku yang melingkar erat di lengannya, bahkan mungkin karena tanganku ini, dia jadi memelankan langkahnya. Tunggu-tunggu kenapa kita berjalan memasuki Mall itu. Mall yang terletak di tengah-tengah orchard road. Mall tersebut menjulang tinggi dan megahnya dan tepat di depan bangunan tersebut nama Mall tersebut dipajang dengan jelas C2M Orchard. Jangan bilang Sen akan masuk ke dalam Mall tersebut. “Kamu mau apa ke dalam?” tanyaku was-was sembari menarik lengannya agar dia berhenti. “Belanja pakaian. Lihat penampilanmu yang seperti ini.” Dia menelitiku dari atas hingga bawah. Membuatku merasa kikuk, karena diperhatikan sedetail itu. “Memangnya penampilanku seburuk itu?” Sen mengangguk malas. “Lumayan. Kamu hanya perlu sedikit berdandan. Aku tidak mau klien melihat penampilan sekretarisku terlihat buruk seperti ini.” Sifat menyebalkannya mulai keluar, membuatku mendengus dengan kesal. “Kenapa tidak di Mall lain? Di ujung jalan sana ada Mall bagus dan barusan di buka.” “Tidak, tidak. Dari seluruh Mall di sini C2M Orchard yang paling lengkap, megah dan mewah.” Ya, kalau hal itu aku tidak bisa menampik. C2M Orchard adalah satu-satunya Mall terbaik di Orchard road ini. Tapi, Bagaimanapun tempat ini berbahaya untukku. “Sen, sebenarnya siapa yang ingin kamu temui nanti?” tanyaku tepat setelah kami memasuki Mall tersebut. “Kenapa kamu penasaran sekali?” “Aku ini sekretarismu, Sen.” “Kamu ingat aku sedang ingin membangun kembali FAL di Singapore bukan?” Aku mengangguk pelan. Kedua mataku mulai menatap liar sekeliling Mall, takut saja bahwa salah satu dari mereka ataupun mereka berada di sekitar sini. “Ada investor yang mau menginvestasikan uang mereka di FAL. Lagi pula, aku ingin bisa membangun FAL sendiri, tanpa perlu campur tangan FAL pusat yang berada di Inggris.” Perasaanku seketika tidak enak ketika mendengar investor yang akan membantu Sen dalam membangun FAL Hotel ini. Jangan-jangan yang Sen maksud adalah mereka. Jangan sampai mereka menemukanku dalam keadaan hancur seperti ini. “Sen,” panggilku pelan. “Ya?” “Siapa investor itu?” “Pemilik C2M Mall dan Singapore Bank, Mr. Maxwell.” Seketika aku membeku mendengar nama itu disebut. Tuhan, aku memang sudah di temukan oleh mereka dan semuanya pasti hanya akal-akal salah satu dari mereka untuk menangkapku. Aku berdecak kesal, aku benar-benar tertangkap sekarang dan semua itu gara-gara pria bernama Chriseon Kendrick sialan satu ini. ***** Kali ini aku dibuat stress oleh Sen. Sejak tadi, aku dibuat gusar. Pria itu sama sekali menutupi mengenai pertemuannya dengan investornya ini, Mr. Maxwell. Siapa sih yang tidak mengenal nama Maxwell di Singapura ini? Pemilik C2M Orchard, satu-satunya Mall paling megah yang berada di sepanjang jalan orchard. Bukan hanya itu saja. Pria yang hampir setengah abad itu memiliki sebuah bank yang bernama Singapore Bank, salah satu bank utama di negara ini. Lalu, apa lagi yang bisa aku ceritakan tentang Mr Maxwell. Mr Maxwell betubuh tinggi dan tegap. Masih terlihat mudah di umurnya saat ini. Sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Ya sepertinya hanya itu saja yang bisa aku ceritakan tentang beliau. Aku masih ingat bagaimana Sen menyuruhku memasuki satu butik ke butik lainnya untuk membelikan gaun kerja untukku. Sialnya hampir semua pegawai butik itu mengenalku, bahkan mereka semua hampir saja memanggil namaku. Untung saja aku segera memelototi mereka, membuat mereka diam dan melakukan pekerjaan mereka. “Sen, kenapa kita harus meeting dengan dandanan seperti ini?” bisikku saat memasuki sebuah restaurant mewah yang aku tahu, ini adalah salah satu milik keluarga Maxwell. Semakin berbahaya saja. Ditambah sejak tadi Sen terus menyuruhku untuk melingkarkan tanganku di lengannya. Sen, terlihat tampan malam ini. Padahal, dia hanya mengenakan sebuah black suit seperti biasanya dengan kemeja maroon yang dipadupadankan dengan gaunku. Mungkin suasanya membuat dia bahkan lebih tampan dari tadi sore. “Karena kita diajak makan malam juga di restaurant ini. Mana mungkin aku ataupun kamu mengenakan pakaian kerja. Memalukan sekali,” balasnya yang juga sama-sama berbisik. Aku mengangguk. Restauran berkelas ini terlihat mewah. Sebuah ornamen dari pahatan batu puala khas yunani berdiri di tengah-tengah ruangan. Warna merah dan putih tulang yang mendominasi terlihat. Semua ditata seapik mungkin. Demo masak chef langsung di beberapa meja. Kualitas bahan makanan nomor wahid. Semua yang terbaik diberikan, menunjukan betapa berkelasnya tempat ini. “Kita mau kemana, Sen?” Aku benar-benar takut jika dia membawaku menaiki tangga yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Namun, harapan tinggalah harapan karena pria itu mulai menggiringku menaiki tangga. Astaga, aku ingin kabur saja. Jika aku tidak kabur pasti aku akan tertangkap. Tapi, bagaimana caranya aku kabur jika Sen terus mengeratkan apitan tanganya itu. Sen membuka pintu di hadapan kami. Dalam hitungan detik, aku bisa melihat sebuah ruang makan khusus. Warna hitam mendominasi, terkesan maskulis. Pria yang ingin kami temui, Mr. Maxwell duduk di tengah ruangan. Wajahnya merunduk sembari  menatap iPadnya. Oh, jangan ditanya apa aku bisa membaca pikirannya atau tidak, jelas sekali aku tidak bisa membaca pikiran beliau. Bahkan sejak aku turun dari mobil Sen hingga berakhir di ruangan ini, yang aku dengar hanya bisikan-bisikan dari para pelayan ataupun orang-orang yang mengenalku. Mereka terlihat  heran dan yang paling menyebalkan kebanyakan dari mereka lebih tertarik dengan pria yang berada di sampingku. Ketika memasuki ruangan dan pintu di belakangku telah tertutup rapat, maka aku tidak bisa kabur. Aku tidak bisa membaca Sen maupun Mr. Maxwell yang sejak tadi masih sibuk dengan hidupnya. Sen berjalan mendekati pria itu, bermaksud untuk membuat Mr Maxwell menyadari kehadiran kami. Baru beberapa langkah berjalan Mr Maxwell menengadah, lalu kembali menatap iPadnya. “Wǒ ài nǐ, wǒ de àirén –I love you, my wife-. Aku akan pulang secepatnya.” Mr Maxwell mematikan iPadnya, lalu meletakkan benda itu di atas meja. Beliau berdiri dan menghadap kami. Dia tersenyum penuh arti kepadaku yang hanya kubalas dengan tatapan menderita milikku. Apa yang sedang beliau pikirkan saat ini, aku tidak tahu. “Mr. Maxwell,” sapa Sen sembari mengulurkan tangannya. “Chriseon Kendrick,” balas pria itu sembari tersenyum dan membalas uluran tangan Sen. Mr Maxwell menatap Sen dari atas ke bawah. Aku tahu pria itu tengah menilai Sen. Tiba-tiba dia tersenyum penuh arti kepada Sen. Lalu, beliau menoleh kepadaku dan tersenyum lembut sembari mengulurkan tangannya. Membuatku merasa sangat sedih. Aku meraih tangannya, lalu bergumam pelan, “Rysta.” Pria itu mengangguk pelan dan belum juga melepaskan jabatan tangan kami. Dia bergumam pelan dengan bahasa Mandarin yang sejak tadi dia gunakan, “Papa merindukanmu, Sayang.” Seketika itu juga air mataku meleleh mendengar gumaman Papa padaku. Ya, di sini yang mengerti bahasa Mandarin memang hanya aku dan juga Mr Maxwell yang tidak lain adalah Papaku sendiri. Tuhan, aku juga merindukan Papa, Mama dan adik kecilku. Aku merindukan keluargaku. *****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD