See tak pernah merasa selemah ini sebelumnya. Seluruh persendian tubuh terasa kaku. Sampai-sampai butuh tenaga ekstra bagi si gadis membuka kelopak mata yang memberat. Hal pertama yang irisnya lihat ialah wajah Kama yang menunduk terpejam. Sepertinya masih pulas tenggelam dalam lautan mimpi. See menarik oksigen kuat-kuat, berharap dengan demikian segumpalan energi jua turut memenuhi rongga d**a, lalu menyebar ke dalam setiap engsel tubuh. Si gadis ingin bangkit, tetapi tubuh seakan tak berkerangka. Begitu lemas bagai tak makan berbulan-bulan. See tak mengerti ada apa dengan tubuhnya. Mesin-mesin yang beroperasi di dalam otak tak mampu menemukan alasan mutlak akan apa yang terjadi. Cuma satu hal yang dapat See asumsikan saat ini. Bahwasannya ini efek akibat telah terlalu lama berkelana

