3.5

1466 Words

  Genangan merah mendominasi. Di hadapannya Meya tewas dengan mata terbuka. Jeritan histeris lain menyusul, memecah siang Deltaepsilon. Langkah kaki berdatangan, perlahan lapangan Gedung D dipadati orang-orang. Tanpa sempat berpegangan Hilara limbung, sayup namanya dipanggil berkali-kali. "Hilara, Hilara!" Ken menepuk-nepuk pipi Hilara. Memancing kesadarannya ke permukaan. Nihil, rongga parunya terlanjur panas untuk menanggapi Ken. Sesak bukan main. Sekadar meraup udara dengan cara biasa saja rasanya sulit. Lalu kabut hitam perlahan mengaburkan pemandangan lautan darah, raut khawatir Ken, juga seseorang di atas gedung sana .... Orang itu memakai pakaian serba hitam. Wajahnya tidak jelas. Ayah, tolong aku .... Hilara tenggelam dalam hening panjang. Ia berada tempat asing srrba puti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD