"Aku boleh buntutin kalian biar tau kost kalian di mana?" pinta Karu.
Riza menjadi bingung dibuatnya. Dia takut kalau-kalau Karu akan memberitahu ke Meri kalau dia tinggal di sana. Dia berpikir bagaimana menyuruh Karu agar tak bilang ini ke siapapun.
"Emm, sebaiknya Ibu nggak usah ikutin kami dulu ya. Soalnya takutnya Ibu juga ikutan capek. Nanti aja ya nanti kalau sudah beres saya akan beritahu Ibu kok alamatnya biar Ibu tau," jawab Riza ramah mencoba menjelaskannya kepada Karu.
Karu agak cemberut saat mendengarnya. Namun, ia mengiakan apa yang dikatakan Riza. Riza tersenyum sumringah saat Karu mau menurutinya.
"Makasih banyak ya Bu, maaf nggak bisa jamu Ibu dengan baik hari ini karena saya ngemasi barang-barang saya Bu," ujar Riza mengerutkan keningnya malu.
"Ehhe, nggak papa. Seharusnya aku yang minta maaf datang ke sini, saat kalian sibuk," jawab Karu merasa bersalah.
"Nggak papa kok Bu nggak salah kok Ibu kan atasan saya," pungkas Riza.
Karu hanya mencibir maklum lalu tersenyum kepada Riza.
"Ya udah, hati-hati ya. Kalau begitu aku pamit dulu, semoga berjalan lancar dan lekas selesai," ucap Karu memberikan semangat.
"Ah iya baik Bu, Ibu juga hati-hati ya di jalan, maaf kalau saya izin terus ke Ibu," jawab Riza.
"Iya nggak papa kok, sebenarnya aku hari ini emang nggak masuk kantor. Jadi, aku ke sini sebenarnya mau ngajak kamu temenin aku pemotretan, tapi, kamu juga sedang sibuk jadi nggak papa," tutur Karu sembari menyeringai malu.
Riza terkejut mendengar itu tetapi Karu menepisnya dan langsung berpamitan pulang karena Karu ingin pemotretan.
***
Riza sangat bahagia, akhirnya semua urusannya lancar dan selesai. Saidi izin mandi dan istirahat duluan kepada Riza. Riza mengangguk. Jam juga sudah menunjukkan pukul 5 sore hari.
"Semoga aku aman di sini, aku akan terus berhati-hati saat pulang kerja nanti. Aku nggak mau pakai motor sendirian sekarang, mulai saat ini aku akan pakai angkutan umum saja biar anak buah Ibu Meri nggak bisa berbuat jahat sama aku, karena kan otomatis pasti banyak orang selain aku di tempat umum," ucapnya merasa lega dan aman.
"Bosen, aku beli cemilan aja deh keluar, tapi... ahh nggak mungkin Ibu Meri tau keberadaanku di sini, paling dia marah sama Kak Shella biarin aja kan Kak Shella yang nipu dia nggak berhasil dapetin aku," ujarnya ragu.
Dalam benaknya terniat ingin belanja jajanan untuknya malam nanti bersama Saidi, dia memutuskan untuk mencoba jalan-jalan sembari menikmati suasana sore hari. Dia nekat keluar meski masih takut di teror Meri.
.
Riza berjalan terus sampai keluar, dia melihat kiri kanan memilih makanan apa yang dia inginkan.
Tak di sangka-sangka ternyata dari kejauhan anak buah Meri wanita berpakaian sangar yang sedang minum di pinggir jalan itu melihat Riza lewat situ. Matanya terbelalak dan mencoba untuk memastikan apakah itu memang benar pemuda yang kabur dari Meri kemarin atau bukan.
Riza malah membuatnya melihat dengan jelas, ia pun dengan sigap menelpon semua temannya untuk menangkap Riza.
"Halo, lu di mana? Cepat datang ke jalan Sarkawi tempat gue minum es kelapa nih. Akhirnya setelah kita nggak tidur dari malam tadi, pemuda malam tadi yang kabur udah ketemu cepat!" perintahnya sembari terus memantau Riza.
Riza tergoda dengan jajanan bermacam gorengan yang ada di pinggir jalan itu, dia membelinya dan hanya makan di sana dengan santai.
***
Takdir seakan berbicara dan menolong Riza, Mounara seakan memang diadakan untuk Riza.
Saat Riza sudah membayar gorengannya. Dia seperti memiliki firasat buruk dan memang benar, syukurlah dia tersadar bahwa tak jauh darinya anak buah Meri sedang menatapnya. Saat Riza membuang mukanya ia langsung mencoba menghampiri Riza. Riza membelalakkan matanya panik.
"WOY! LU DAPET GUE HAHA MAU KABUR KEMANA LAGI LU HA?"
Tak di sangka Riza berhasil di cegatnya. Riza panik bukan main.
"LEPASIN!" gertaknya.
"LU JANGAN MACEM-MACEM LAGI! IKUT SINI!" ancamnya marah menyeret Riza kasar, walau ia seorang wanita kekuatannya memang luar biasa, tak salah jika Meri mengambilnya untuk dijadikan sebagai bodyguardnya.
Riza menggigit tangannya dengan sangat kuat hingga ia teriak, Riza memang cerdik akhirnya dia kembali berhasil kabur dan lepas dari wanita sangar itu. Riza mendorongnya hingga ia terjatuh lalu Riza berlari. Teman-temannya akhirnya datang dan menolong wanita itu.
"CEPAT! KITA KEJAR DIA!" perintahnya marah dan mereka langsung menyusul Riza.
Riza sangat ketakutan bukan kepalang dia berlari sekencang-kencangnya hingga nyaris menabrak semua penjual yang ada di situ. Mereka juga berlari mengejar Riza, semua orang-orang di sana heran dan ikut panik. Salah satu dari mereka akhirnya bisa menyusul Riza. Dia mencoba menangkap Riza tapi Riza bisa menangkisnya dengan sigap walau dia terkena tamparan, dia kembali berlari.
Mounara yang ternyata juga berada di sana terlihat sedang membalas chat dari seseorang. Namun, orang itu malah menelponnya.
"Aduhh nyebelin banget sih Candra,"
"HALOO!" teriaknya menjawab Candra.
"Dra, iya gue nanti nemuin lu kok. Gue lagi di pinggir jalan nih mau balik udah dulu ya," jelas Mounara sembari mengutak-atik helmnya dan handphonenya hanya ia jepit dengan bahu yang ia rapatkan ke telinganya.
Ia mematikan telponnya ditaruhnya di ranselnya lalu memasang helmnya. Ia terkecoh saat mendengar seperti ada keributan dan heboh tak jauh dari tempatnya. Ia heran dan mencoba melihat-lihat apa yang sedang terjadi. Tak menyangka ia melihat pemuda yang pernah ia temui berkali-kali lewat di depannya berlari kencang.
"Loh? Dia?" tanya Mounara heran melihat Riza lari dengan sangat cepat dan dikejar banyak warga.
Riza berlari kalang kabut di susul oleh banyak orang yang meneriakinya copet. Ia melotot kaget dan langsung menyalakan starternya mencoba ikut mengejarnya.
Riza terlihat sudah sangat kelelahan dan bingung harus bagaimana lagi tetapi dia tak menyerah dan terus berlari menghindari anak buah Meri.
Wanita itu malah meneriaki Riza dan memfitnahnya.
"WOY! TOLONG BU! PAK! DIA COPET TOLONG KEJAR DIA COPET!" teriaknya.
Semua orang menjadi panik dan percaya kepadanya. Mereka malah membantu anak buah Meri mengejar Riza. Riza semakin gelagapan saat dia tengok semua orang mengejarnya dan meneriakinya copet.
Riza menangis tak tahan lagi. Dia bingung dan seakan sudah tak kuat akhirnya dia tumbang juga dan tersungkur keras. Namun, saat itu juga klakson dari sebuah motor berbunyi panjang seperti memang untuk mengalihkan perhatian semua orang di sana. Anak buah Meri heran dan orang itu langsung menerobos di kerumunan tanpa ragu membuat mereka terpaksa memberi jalan dan menghentikan aksi mereka. Anak buah Meri serta beberapa warga yang kaget dan tumbang terkekeh saat melihat motor Vespa matic Grey Delicato itu nyaris menabrak mereka. Helmnya tertutup rapat dan mengarah kepada Riza. Mereka hanya menatapinya heran dan masih terpaku.
Riza melihat ke arah motor itu sembari menahan tangis dan sakitnya. Mounara mencoba membantunya.
"AYO CEPAT NAIK!" perintahnya.
"Kamu siapa?" tanya Riza bengong senang tak percaya.
"UDAH JANGAN BANYAK BACOT AYO NAIK CEPETAN!" gertak Mounara sembari menarik tangannya untuk naik motor bersamanya.
"WOY! MEREKA MAU KABUR AYO KEJAR!"
"IYA WOYY AYO KEJAR JANGAN KABUR!!"
Teriak warga-warga mulai mengejar mereka.
Mounara membalikkan kepalanya dengan kaca helm yang masih tertutup rapat mengarah mereka seakan menatap dendam ke mereka semua. Wanita bawahan Meri itu tersadar ternyata itu adalah Mounara, Mounara langsung menggas motornya kencang dan Riza memeluknya erat pergi dari situ.
Namun, wanita berpenampilan sangar itu mengetahui bahwa yang menolong Riza tadi adalah Mounara. Ia mencegat seluruh warga agar tak lagi mengejar mereka.
"BIAR! BIARKANLAH SUDAH! NGGAK PAPA, BUBAR!" perintahnya lantang.
Semua warga pun terheran dan menghentikan aksi mereka kesal lalu bubar. Wanita itu terlihat sangat kesal dan heran mengapa Mounara menolong pemuda itu.
"LU? LU KENAPA BIARIN DIA KABUR t***l!!" geram salah satu pria bergaya preman dan berambut gondrong.
"Lu tau siapa yang ngenolong pemuda tadi?" tanya wanita itu marah.
Mereka hanya menggelengkan kepala.
"DIA KEPONAKAN BOS MERI!" tampik wanita itu.
Mereka pun terkejut melotot kaget.
"JADI KITA NGGAK BISA MACAM-MACAM, KALAU SAMPAI TU ANAK TERIKUT, HABIS KITA!" jelas wanita itu merasa kecewa.
Mereka akhirnya pasrah dan bubar juga dari tempat itu.
.
Mounara membawanya ke tempat yang aman. Saat berhenti Riza sangat penasaran siapa yang menolongnya.
Ia mematikan mesin motornya. Riza turun dengan rasa yang sangat senang sekaligus lega seakan selamat dari maut.
"Terimakasih banyak ya, kamu nolongin saya kan dari mereka? Jika tidak kamu mungkin saya sudah habis babak belur di hajar mereka," ucap Riza senang sekali sekaligus haru.
Saat Mounara membuka helmnya, senyuman Riza menjadi kelu, matanya terbelalak dan terdiam seribu bahasa. Mounara membuka helmnya dengan sangat elegan, rambutnya yang lurus di bawah sedikit bergelombang itu ia kibas pelan lalu menatapi Riza melirik ke arah Riza. Wajah cantiknya kini terlihat jelas kepada Riza. Riza kaget bukan main saat tau yang menolongnya itu ternyata Mounara.
"TA-TANTE?!"
Riza terhenyak terdiam, bibirnya kelu. Dia terpaku melotot tak percaya.
Mounara hanya menatapinya dengan sebelah keningnya terangkat. Mereka saling berpandangan. Riza terus menatapinya hingga Riza terpaku dan tak bisa menutup mulutnya rapat. Wajah cantik serta bola mata Mounara yang bulat indah itu seakan menghipnotisnya dari segalanya.
"Woy," Mounara membuyarkan lamunannya.
Riza menggeleng mengedipkan matanya berkali-kali.
"Ah iya, pantesan aku kayak nggak asing saat ngeliat motor Tante dan ternyata memang Tante!" seru Riza merasa lucu.
"Iya, motor yang pernah lu bikin oleng," sahut Mounara mengerutkan keningnya.
Riza terdiam sedikit malu. Dia tersenyum kepada Mounara.
"Terimakasih banyak ya Tan, Tante benar-benar menolong saya saya nggak tau harus balasnya seperti apa, sekali lagi terimakasih banyak Tan!" ucap Riza bahagia dia tersenyum lebar dan haru kepada Mounara.
"Lebay," pungkas Mounara meremehkannya.
Riza terkekeh dia melotot heran.
"Lu kenapa sih tadi di kejar-kejar warga kek gitu. Diteriakin copet lagi," tanya Mounara.
"Sa-saya..."
"Apa jangan-jangan lu beneran..." potong Mounara sembari menunjuk Riza.
Riza yang awalnya senang dengannya seketika menjadi sebal kembali dengan Mounara.
"IH BUKAN! SAYA BUKAN COPET KOK! SAYA TADI JUGA DI TUDUH JUGA KAYAK TANTE NUDUH SAYA," tolak Riza tak terima.
"Ya terus kenapa lo diteriakin kek gitu, terus dikejar-kejar lagi," tambah Mounara.
Riza semakin kesal dibuatnya.
"Duh ya udah kalau Tante nggak percaya," kesalnya kecewa.
"Gue nggak perduli sih mau lu copet beneran atau apa," ucap Mounara sembari melirik Riza dengan mengangkat kedua alisnya. "Gue nolong lu cuman mau balas kebaikan lu kemaren aja, karena lu sudah nemuin dompet gue," ucap Mounara malas sembari memasang kembali helmnya.
Riza hanya ternganga heran dengan kelakuan Tante satu ini.
Mounara menyalakan motornya lalu menggasnya hingga Riza kaget dan pergi tanpa perduli sembari menatap Riza sedikit sinis.
Riza menganga dan mengerutkan kedua keningnya terheran dengan sikap menyebalkan Mounara tadi padanya.
"HIH!! Perhitungan banget sih baiknya jadi orang," ketusnya geregetan.
Tetapi, dia menyeringai kembali mengingat Mounara menolongnya. Dia sangat senang Mounara berhasil menyelamatkannya.
"Terimakasih ya Allah engkau sudah menyelamatkan hamba lewat perantara orang baik kaya Tante Mounara tadi," syukurnya.
"Tapi, aku ini lagi di mana ya?" tanyanya heran sendiri.
Dia pun mencoba pulang dan mencari angkot namun lebih waspada.
***
Mounara masih berpikir keras kenapa saat ia mencoba menolong Riza tadi, anak buah dari Tantenya juga ada di sana. Ia berpikiran bahwa Riza apakah memang dikejar oleh mereka.
"Perasaan tadi emang bener dah itu anak buahnya Tante Meri yang pernah gue lihat waktu itu," ujarnya berusaha mengingat wajah-wajah mereka saat ia bertamu ke rumah Meri mendadak.
Ia membelalakkan matanya terpaku.
"Apa jangan-jangan, Tante Meri emang ngincar anak itu?" lontarnya panik melotot.
Ia mengkhawatirkan semua itu, ia terlihat takut sendiri dan merasa kasihan kepada Riza.
"Kalau memang benar, gua nggak akan ngebiarin Tante Meri ngegangguin anak orang, gua akan selidiki ini apakah dugaan gue bener atau enggak," ucapnya dengan kedua kening berkerut.
Ia lalu masuk ke dalam rumahnya dan mencoba untuk tenang dulu dengan hal itu.
***
Angga dan Asisten Rumah tangganya Bibi Surti terlihat sedang serius melihat CCTV yang di adegan ulangkan di cafe di mana Angga pingsan dan kumat saat itu. Angga sengaja membujuk staff cafe untuk me reka ulang CCTV saat dia pingsan minggu lalu karena Angga membayar mereka dengan tarif lumayan, mereka pun mau menuruti Angga.
Terlihat jelas Riza juga wajahnya terpampang sedang panik dan memangku Angga saat itu serta menolonginya.
"OOALAHHH, INI TO TUAN ANAKNYA YANG NOLONGIN TUAN!" seru Bibi Surti senang.
Angga melihat itu sangat senang dan tak percaya.
"Wahh iya ni Bi, ya sudah nanti kamu bilangin ya ke Mounara ini orangnya. Kalian cari saja dia siapa tau ketemu. Mounara soalnya kepengen banget nemuin dia Bi," ucap Angga tersenyum sumringah.
Bi Surti merasa ragu dengan itu tetapi ia menuruti semua permintaan Angga.
"Oke terimakasih kalian sudah memberikan kami melihatnya. Kalau begitu kami permisi saja," kata Angga merasa puas. Sebelum mereka mengeluarkan reka ulang itu, Bibi Surti memoto Riza agar lebih mudah di ingat. Angga sangat senang Surti memiliki ide yang brilian.