Chapter 2

1378 Words
    Dua insan manusia yang masih tertidur dengan nyenyak sambil berpelukan ini tampak sangat nyaman sampai rasanya tidak rela hanya untuk melepas pelukan itu. "Kak Ed." panggil Rachelta dalam dekapan Edgar. "Apa?" tanya Edgar "Bisa lepaskan tanganmu dulu." pinta Rachelta sambil mendorong d**a Edgar pelan. Bukannya menuruti permintaan Rachelta, Edgar malah mempererat pelukannya pada tubuh wanita itu, bahkan ia sampai menyelusupkan kepalanya ke leher Istrinya itu. "Kak." ucap Rachelta geli. Dering ponsel Rachelta membuat Edgar sedikit melonggarkan pelukannya dan menunduk menatap wanita itu. Rachelta mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur, ia melihat siapa yang meneleponnya, seketika wajahnya menjadi malas mengangka panggilan tersebut. "Halo Hel." sapa Ghazy semangat, karena Rachelta mau menerima panggilan telepon darinya. "Emm." balas Rachelta. "Apa kau bersama Edgar?" "Tentu saja." jawabnya malas Edgar yang penasaran pun langsung merebut ponsel Rachelta, sedetik kemudian rahangnya mengeras saat melihat nama pria yang menghubungi Istrinya pagi-pagi "Sekarang kau di mana Hel?" tanya Ghazy. "Aku merindukanmu, ayo kita bertemu." lanjut Ghzy. Tidak ada jawaban dari Edgar, pria itu masih ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Ghazy selanjutnya. "Hel, kenapa diam saja?" tanya Ghazy. "Ini aku SUAMI Rachelta." balas Edgar. menekankan kata suami. Ghazy membelalakkan mata, ia terkejut saat suara Edgar yang menjawabnya. Perasaan tadi dirinya masih mendengar  suara Rachelta. "Mana Rachelta?" tanya Ghazy masih. "Rachelta sedang melanjutkan tidurnya, dia masih lelah dan mengantuk, jadi jangan ganggu kami karna kita sedang Honeymoon." "Aku ig-" Edgar mematikan ponsel Rachelta dan setelah itu menaruhnya kembali di atas nakas. "Bahkan ini masih pagi." gerutu Edgar sambil berbaring dan memeluk Rachelta lagi. "Kak.?" tanya Rachelta sambil mendongak. "Apa?" "Apa kita hanya akan di kamar seharian?" tanya Rachelta karena Edgar kembali memeluknya seperti tadi. "Kau ingin jalan-jalan?" tanya Edgar dan di balas anggukan cepat dari Rachelta. "Baiklah, kalau begitu cepat mandi." ucap Edgar sambil tersenyum. "Iya." balas Rachelta semangat. "Tunggu." ucap Edgar lalu mencium bibir Rachelta sekilas, setelah itu menatap Istrinya tersebut yang juga sedang menatapnya. "Morning kiss dan setiap pagi kau harus memberikannya tapi harus lebih dari ini." ucap Edgar serius dan diangguki oleh Rachelta dengan muka polosnya. Rachelta langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah lebarnya.           Setelah setengah jam mereka pun sudah selesai melakukan rutinitas paginya. Edgar memaki kemeja putih polosnya dan celana hitam sedangkan Rachelta memakai dress putihnya, mereka tampak seperti memaki baju couple. Edgar menggandeng tangan Istrinya lalu berjalan keluar hotel untuk pergi ke restoran terlebih dulu, mereka akan membeli sarapan sebelum pergi jalan-jalan. "Mau makan apa?" tanya Edgar saat mereka sudah duduk di salah satu bangku restoran. "Samakan saja." jawab Rachelta. Edgar menyebutkan pesanan mereka pada salah satu pelayan, dan setelah itu pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka berdua. Rachelta sibuk memainkan ponselnya dan mengabaikan Edgar yang berada di depannya. "Edgar" sapa seseorang yang ada di sampingnya. Hal itu membuat Rachelta yang sedang fokus melihat ponselnya pun jadi ikut menoleh, pandangannya langsung bertemu dengan seorang wanita sedang tersenyum menatap Suaminya "Irene." balas Edgar. "Apa aku boleh duduk?" tanya Irene. "Tentu." jawab Edgar. "Ed, kau tambah tampan saja." puji Irene sambil terkekeh. "Kau juga lebih cantik sekarang." balas Edgar memuji. Mereka terus saja mengobrol sampai-sampai membuat Rachelta jadi bertanya-nya siapa sebenarnya wanita itu. Sadar atau tidak, ternyata meskipun Edgar sedang serius berbicara denfan temannya, matanya juga bisa menangkap tatapan tidak nyaman Rachelta ke arahnya dan Irene. Edgar pun menganggap itu wajar, karena mereka sudah menikah, jadi rasa saling memiliki pasti ada. "Kenal kan, Rachelta, Istriku." Ucap Edgar memperkenalkan Rachelta pada Irene. "Aku sudah menduganya. Maaf tidak bisa datang ke pernikahan kalian, kau tahu kam pekerjaanku tidak bisa diam di satu tempat." ucap Irene. "Iya aku mengerti." balas Edgar. "Perkenalan namaku Irene, teman SMA dan Kuliah Edgar." ucap Irene sambil menjabat tangan Rachelta dengan ramah. "Ed sepertinya aku harus pergi, aku harap kita bisa bertemu lagi." ucap Irene sambil berdiri. "Padahal aku masih ingin bicara lebih banyak denganmu." balas Edgar sambil berdiri mengikuti Irene.                                                                                                   ***   Sekarang mereka sudah sampai di pantai. Rachelta pun memilih hanya berjalan di pinggiran pantai dengan Edgar yang juga berjalan di sampingnya. "Kau suka liburan ke pantai?" tanya Edgar sambil memainkan pasir di kakinya. "Bukan menjadi tempat favoritku tapi aku cukup suka." jawab Rachelta. "Tapi pantai bisa membuat pikiran kita jadi lebih tenang." ucap Edgar. "Benar, apalagi untuk orang sibuk sepertimu pasti membutuhkan liburan ke alam seperti ini." balas Rachelta. "Iya aku juga inginnya seperti ini tapi aku juga tidak bisa banyak mengambil cuti." ucap Edgar. Apa aku boleh bertanya?" tanya Rachelta. "Tentu, apa?" tanya Edgar. "Kenapa kau berubah?" tanya Rachelta hati-hati. "Maksudnya?" tanya Edgar balik. "Dulu sikapmu sangat dingin dan sekarang berubah, kenapa? " tanya Rachelta. "Kenapa bertanya seperti itu? Apa kau tidak suka jika aku seperti ini? " balas Edgar dingin. "Bukan begitu maksudku, jelas aku lebih suka sikapmu yang sekarang" jawab Rachelta gugup, khawatir dan takut di saat yang bersamaan. Ia takut salah bicara tadi. Edgar menatap Rachelta datar tanpa menanggapi ucapannya, dan Rachelta yang mendapat respons seperti itu hanya bisa melihatnya takut. "Ma...maaf" lanjut Rachelta sambil menunduk. Tiba-tiba Edgar tertawa di depan Rachelta dengan cukup keras, entah hal apa yang membuatnya sampai tertawa sampai seperti itu Tentu saja hal itu membuat Rachelta bingung dengan Edgar sekarang. Sebenarnya kenapa pria ini? "Sudahlah Kak, kenapa kau tertawa seperti itu? Tidak ada yang lucu." ucap Rachelta kesal karna Edgar masih saja tertawa. "Apa kau takut?" tanya Edgar yang sudah bisa menghentikan tawanya. "Aku takut sikapmu kembali seperti awal kita bertemu." balas Rachelta jujur. "Tidak usah khawatir. Aku berpikir untuk serius dan menerima keadaan hubungan kita sekarang." balas pria itu sambil senyum yang menenangkan. Sungguh senyuman itu bisa hati Rachelta meleleh rasanya, bahkan mungkin bukan Rachelta saja yang terpesona jika melihat Edgar tersenyum, tapi semua wanita yang melihatnya pasti akan sama. "Ayo kita kembali ke hotel." ajak Edgar sambil menggandeng Rachelta.                                                                                                   ***   Rachelta dan Edgar sekarang sedang sudah kembali ke Hotel tempat mereka menginap, saat  ini mereka sedang bersantai di sofa dengan posisi Edgar yang tidur di paha Rachelta, Edgar juga menyuruh wanita itu untuk mengelus rambutnya. Rachelta jadi bertambah tahu beberapa sifat asli pria itu yang sangat manja, pemaksa dan keras kepala tapi terkadang juga manis Tiba-tiba ponsel Edgar berdering membuat mereka berdua menoleh. Edgar yang merasa panggilan itu sangat mengganggu sekarang, memilih untuk mendiamkan-nya jasa tanpa mau menjawab. "Kak, ada telepon." ucap Rachelta memberi tahu, meskipun ia rasa Edgar juga sudah tahu. "Tidak mau." balas Edgar. "Ini" Rachelta memberikan ponsel pria itu. "Aku tidak mau, kau saja." suruh Edgar sambil menutup mata. "Ini dari Papa." ucap Rachelta. "Benarkah? Sini" balas Edgar lalu duduk dan mengambil ponselnya di tangan Rachelta. "Hallo, Pa." sapa Edgar. "Kenapa lama sekali?" "Maaf, ada apa Papa menelpon?" "Sebelumnya Papa minta maaf tapi ini memang perlu bantuanmu. Kau harus pulang Ed, ada masalah di kantormu dan Papa tidak bisa membantu karena sedang ada di Jepang." jelasnya. "Baiklah, kami akan pulang." jawab Edgar sambil menghela nafas berat. Bahkan mereka sampai Kemarin. "Ed, kau bisa pulang lusa, sudah Papa siapkan jadi kalian bisa langsung pulang." ucap Ayah Edgar yang membuat pria itu sedikit tenang karena setidaknya mereka tidak harus pulang hari ini juga. "Iya, Pa." balas Edgar. Lalu sambungan pun terputus. Edgar menatap Rachelta yang sedari tadi memperhatikan-nya. "Rachelta ada masalah di perusahaanku, jadi lusa aku harus pulang tapi jika kau masih ingin di sini aku akan suruh bodyguardku untuk menjagamu." ucap Edgar. "Aku akan ikut pulang saja." balas Rachelta. "Baiklah terserah dirimu." ucap Edgar. "Sebaiknya kita tidur." lanjut Edgar yang diangguki oleh Rachelta. Rachelta langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai leher, Edgar yang melihatnya pun mendekat lalu memeluk pinggang wanita itu yang membuatnya menoleh dan tersenyum. Edgar mendekatkan wajahnya dan Rachelta hanya diam dengan badan yang sedikit menegang, pria itu mendekatkan lagi wajah mereka sampai bibir mereka menempel. Rachelta hanya pasrah dan menutup matanya. Mereka terus saja berciuman sampai merasa cukup lama karena Rachelta mendorong d**a pria itu pelan untuk memisahkan ciuman ini. Rachelta mengatur nafasnya saat ciuman mereka terlepas dan begitu juga dengan Edgar. "Rachelta, apa aku boleh melanjutkan nya?" tanya Edgar pelan dan hati-hati. "Kak, kau tidak harus bertanya karena ini merupakan hakmu dan aku adalah milikmu seutuhnya." balas Rachelta yakin yang membuat Edgar tersenyum membalasnya. Rachelta tidak hanya jujur, dia juga dewasa dan pengertian. Hal itu membuat Edgar semakin menyukainya. Pria itu yakin setelah ini cinta itu akan bersarang di hatinya hanya untuk wanitanya yaitu Rachelta Natasya Istrinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD