BAB 1.3

1023 Words
Kunci rumah itu masih berada di tempat yang sama, terselip di saku kecil bagian depan kopernya, terbungkus kain saputangan lama yang warnanya sudah memudar dimakan usia. Ayla menatap benda kecil itu cukup lama sebelum akhirnya memasukkannya ke lubang kunci. Jemarinya sempat berhenti ketika logam dingin tersebut menyentuh permukaan pintu, karena dalam sepersekian detik ingatan yang selama ini ia tekan begitu keras kembali menyeruak tanpa izin. Terakhir kali ia memegang kunci ini, ia masih berusia dua puluh tahun. Masih terlalu muda untuk memahami kehilangan. Masih cukup naif untuk percaya bahwa rasa sakit sebesar apa pun pada akhirnya akan mengecil seiring waktu. Ia salah. Waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang waktu hanya mengajarkan seseorang cara hidup berdampingan dengan luka yang tak pernah benar-benar menutup. Kunci itu berputar dengan bunyi klik pelan. Pintu terbuka. Aroma debu, kayu tua, dan udara pengap langsung menyergap begitu keras sampai Ayla refleks menahan napas. Rumah itu sunyi, tetapi bukan sunyi yang damai. Kesunyian di dalam rumah ini terasa berat, seperti sesuatu yang telah mengendap terlalu lama dan menunggu untuk disentuh kembali. Ia melangkah masuk perlahan. Setiap pijakan seakan membangunkan kenangan yang tertidur. Ruang tamu. Sofa lama yang masih berada di tempat yang sama. Lemari pajangan dengan kaca yang sedikit retak di sudut kiri. Jam dinding yang menggantung miring, mati pada waktu yang bahkan tak lagi ia ingat. Ayla berdiri di ambang pintu tanpa bergerak. Dadanya terasa sesak. Tidak ada yang berubah. Atau mungkin justru terlalu banyak yang berubah. Karena benda-benda ini tetap sama, tetapi orang-orang yang menghidupkannya telah lama tiada. Matanya perlahan bergerak ke arah sudut ruangan. Di sana masih ada kursi favorit ayahnya. Seketika sebuah memori menghantamnya. Ayahnya duduk sambil membaca koran. Ibunya datang dari dapur membawa teh. “Ayla, sini bantu Ibu kupas bawang.” “Ayah aja dong.” “Enak aja. Ayah habis kerja.” “Tapi Ayah kan lagi santai!” “Makanya, jangan ganggu Ayah.” Lalu tawa. Tawa hangat yang dulu memenuhi rumah ini hampir setiap hari. Napas Ayla tersendat. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, seolah dengan begitu kenangan itu bisa didorong menjauh. Namun tidak ada yang bisa menjauhkan masa lalu ketika ia sedang berdiri tepat di jantungnya. Ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap bergerak. Kalau ia berhenti sekarang, ia tahu dirinya bisa hancur bahkan sebelum sempat melakukan apa yang harus dilakukan. Ia datang ke sini bukan untuk bernostalgia. Ia datang karena butuh uang. Dan satu-satunya aset yang tersisa hanyalah rumah ini. Pikiran itu terasa kejam, tetapi itulah kenyataannya. Kalau ia ingin bertahan hidup, rumah ini harus dijual atau setidaknya diagunkan. Untuk itu, ia harus menemukan sertifikat rumah. “Di mana Ayah biasa simpan dokumen penting...?” Suara sendiri terdengar asing di tengah kesunyian. Ia mulai mencari. Laci ruang tamu. Lemari. Rak buku. Kamar ayah dan ibunya. Semua dibuka satu per satu. Debu beterbangan setiap kali sesuatu disentuh. Berkali-kali ia batuk karena udara yang terlalu pengap, tetapi hasilnya tetap nihil. Tidak ada sertifikat. Tidak ada map dokumen. Tidak ada apa pun. Frustrasi mulai merayap. Ayla berdiri di tengah kamar orang tuanya dengan tangan mengepal. “Jangan bilang hilang...” Kalau sertifikatnya hilang, masalahnya akan jauh lebih rumit. Ia memijat pelipis. Lalu sebuah ingatan kecil muncul. Gudang belakang. Ayahnya. Lemari kayu tua. Dulu ayahnya sering menyimpan barang-barang lama di sana. Jantung Ayla berdetak lebih cepat. Ia segera berjalan ke arah belakang rumah. Lorong menuju gudang terasa lebih dingin dibanding ruangan lain. Lampunya mati. Jendela kecil di sisi tembok hanya membiarkan sedikit cahaya masuk. Saat pintu gudang dibuka, engselnya mengeluarkan bunyi keras yang membuat bulu kuduk Ayla meremang. Ruangan itu jauh lebih berantakan dari yang ia ingat. Kardus usang bertumpuk di berbagai sudut. Kain-kain lama. Peralatan rusak. Lemari kayu tua berdiri miring di dinding belakang. “Nggak lucu kalau ternyata nggak ada.” Ia berjalan mendekat. Tangannya langsung menyentuh gagang lemari. Terkunci. Ayla mengerutkan kening. Aneh. Kalau hanya lemari barang bekas, kenapa dikunci? Rasa ganjil mulai tumbuh di dadanya. Ia mencoba menarik lebih keras. Matanya menyapu sekitar. Tak jauh dari sana tergantung paku kecil dengan sebuah kunci berkarat. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia mengambil kunci tersebut dan memasukkannya ke lubang kunci lemari. Klik. Terbuka. Pintu lemari berderit pelan. Bagian dalamnya tidak penuh seperti yang ia bayangkan. Hanya ada beberapa map tua. Album foto. Dan sesuatu yang langsung menarik perhatian Ayla. Sebuah kotak besi. Kotak itu terletak di bagian paling bawah, sebagian tertutup kain kusam. Permukaannya dipenuhi debu tebal, menandakan benda itu sudah sangat lama tidak disentuh. Ayla membeku. Ia tidak pernah melihat kotak itu sebelumnya. Tidak pernah. Padahal semasa kecil ia sering bermain di gudang ini. Tangannya terasa dingin ketika mengangkat kotak tersebut ke lantai. Tidak terkunci. Hanya berkarat. Dengan jantung yang kini berdetak keras sampai telinganya berdengung, Ayla membuka penutupnya perlahan. Debu halus beterbangan. Isi kotak itu membuat dahinya semakin berkerut. Setumpuk dokumen usang. Beberapa foto lama. Dan sebuah amplop cokelat yang warnanya telah menguning dimakan usia. Ayla menelan ludah. Ada sesuatu pada amplop itu yang membuat perutnya mendadak mulas. Seolah nalurinya berteriak bahwa benda ini tidak seharusnya ada di sini. Tangannya gemetar ketika meraih amplop tersebut. Di bagian depan terdapat tulisan tangan. Tinta hitamnya sedikit pudar, tetapi masih jelas terbaca. Dan ketika matanya selesai membaca kalimat pertama, seluruh tubuhnya membeku. Jika sesuatu terjadi padaku, jangan percaya laporan kecelakaan itu. Darah Ayla seperti berhenti mengalir. Napasnya tercekat. Pikirannya kosong. Ia membaca ulang kalimat itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kalimatnya tidak berubah. Tetap sama. Tetap mustahil. Jemarinya mulai bergetar hebat. Matanya terkunci pada bentuk huruf-huruf itu. Lengkungan huruf J. Cara menulis huruf k yang sedikit miring. Tekanan pena yang selalu lebih kuat di akhir kalimat. Ayla mengenali tulisan itu. Mengenalinya sebaik ia mengenali wajahnya sendiri. Karena selama bertahun-tahun ia melihat tulisan itu di catatan kecil, daftar belanja, dan pesan-pesan sederhana yang ditinggalkan di meja makan. Air mata menggenang tanpa ia sadari. Bibirnya bergetar. “A-ayah?” Bisikan itu nyaris tidak terdengar. Namun satu kenyataan menghantamnya begitu keras sampai seluruh dunia terasa berputar. Tulisan itu milik ayahnya. Dan jika ayahnya menulis kalimat itu sebelum meninggal… Maka satu hal menjadi sangat jelas. Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya lima belas tahun lalu. Mungkin ... bukan kecelakaan. Tetapi, sudah direncanakan. Dan Ayah ... sudah mengetahui hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD