Hari demi hari pun terus berlalu. Sejak bertemu dengan Ayra, Evan akui kalau dia tidak bisa melupakan sosok wanita itu. Bayang-bayang Ayra yang mengibaskan rambut panjangnya masih terus menari-menari di pelupuk matanya. Dan entah dapat ide konyol dari mana. Malam ini Evan pun berinisiatif mengantarkan beberapa macam obat yang dibutuhkan oleh Pak Ibrahim. "Silahkan diminum, Pak. Maaf adanya cuman ini,” ucap Ayra lalu menaruh segelas teh manis hangat itu di atas meja. "Makasih, Dek. Kalau gitu saya minum." Evan mulai menyesap sedikit minumannya. Dan untuk panggilan “Dek” tadi Evan hanya refleks menyebutnya karena Evan pikir usia Ayra jauh di bawahnya. "Oh iya ini saya bawakan obat untuk, Pak Ibrahim,” kata Evan lalu mengeluarkan sekantung obat dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas

