Kebohongan Ayra

1611 Words
Evan pulang lebih larut malam ini. Ya, telat pukul sembilan bahkan ia baru tiba di rumah. "Dek,” panggil Evan sedikit berteriak. Ia baru saja masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan keberadaan sang istri. "Iya, Mas. Aku disini,” jawab Ayra denhan suara keras, sebab Ia sedang mencuci piring di dapur sekarang. "Kenapa nyuci piring larut malam begini, Dek?” tanya Evan kemudian menghampiri Ayra. “Besok pagi kan bisa,” kata Evan yang kini sudah berdiri tepat di samping istrinya. "Gabut aja, Mas. Bingung juga mau ngapain,” sahut Ayra asal jawab. “Mas sendiri kok baru pulang? Bukannya tadi kirim pesan kalau jam enam udah sampai di rumah?” Dalam hati Ayra bertanya - tanya. Kemana suaminya itu pergi? Apa iya Evan tengah janjian bertemu dengan Baby? Jujur, semenjak kejadian malam itu Ayra selalu berpikiran negatif tentang suaminya. Ingin bertanya langsung tentu saja Ayra sungkan. Posisinya baru saja menjadi istri selama seminggu. “Maafin Mas ya. Tadi ada urusan urgent yang nggal bisa ditinggalkan.” Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Evan. Evan tidak mungkin jujur ‘kan. Kalau tadi ia baru saja datang menemui Baby. Bukan karena merindukan Baby, bukan sama sekali. Evan terpaksa datang ke sana setelah mendapat kabar dari mamanya Baby. Dan mengatakan bahwa anak gadisnya sedang tidak baik-baik saja dan mengancam akan bunuh diri. Untuk itu Evan datang ke sana. Ayra hanya menganggukan kepalanya mencoba percaya. "Ayo ikut Mas sebentar." Evan lalu mengajak istrinya untuk duduk di ruang tengah. "Ini buat kamu,” kata Evan. Tangan pria itu terulur dan mengambil paper bag di atas meja lalu ia serahkan ke arah sang istri. Ayra pun mengernyitkan dahinya bingung. "Apaan ini, Mas?" tanya Ayra enasaran. "Buka aja, Dek!" Karena rasa penasaran yang tinggi Ayra pun langsung membuka paper bag tersebut. "Laptop?" tanyanya pada sang suami. Evan pun mengangguk kepalanya sebagai jawaban. "Iya ini buat kamu, Dek." Evan lalu membuka laptop tersebut dan mencobanya. "Kamu hobby menulis novel ‘kan? makanya Mas beliin ini buat kamu.” Evan pun tersenyum sambil menatap sang istri. "Makasih ya, Mas." Mata Ayra bahkan sudah berbinar senang. Akhirnya Ayra punya laptop keluaran terbaru yang diidam-idamkan beberapa bulan lalu. "Tapi, Mas tau dari mana kalau aku hobby nulis?" tanya Ayra heran. Pasalnya ia tidak pernah menceritakan hal apapun itu pada suaminya. "Mas tahu segalanya tentang kamu, Sayang,” aku Evan jujur. Kini ia tampak tengah mengelus puncak kepala Ayra dengan lembut. Ayra menundukkan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus. Lagi-lagi hanya dengan perkataan Evan, sudah berhasil membuatnya tersipu malu. Kadang di satu sisi Ayra sampai lupa, jika Evan membohongi nya saat malam pertama mereka menjadi sepasang pengantin. "Mas, aku ngantuk. Aku tidur duluan ya,” pamit Ayra hendak berdiri. Namun, belum sempat hal itu terjadi sang suami sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya dengan lembut. "Dek,” panggil Evan pelan. Ia lalu melirik ke arah sofa, memberi isyarat pada sang istri untuk duduk kembali. "Kenapa?” tanya Ayra dan ia pun patuh. Kembali duduk di samping Evan. Evan terlihat menarik nafasnya pelan, sebelum akhirnya ia berkata."Dek, Mas minta mulai sekarang kita harus belajar saling mencintai." Evan berucap dengan sungguh-sungguh. "Karena apapun ya terjadi nanti Mas nggak akan pernah menceraikan kamu. Kamu paham kan?" tegas Evan. Ia lalu menatap dalam manik mata sang istri. Ayra langsung terdiam. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Untuk soal cinta, jujur Ayra sama sekali belum memiliki perasaan cinta pada suami tampannya ini. Terlebih Ayra belum paham betul watak suaminya, Ayra hanya tidak mau jika suatu saat dirinya akan merasakan sakit hati seorang diri. “Gimana, Dek?” Evan terus mendesak. Ayra menoleh dan membalas tatapan suaminya itu. Sepertinya mencoba tak ada salahnya bukan. "Iya, Mas. Insha Allah aku akan mencobanya,” jawab Ayra bergumam lirih. Ayra mencoba yakin, meski di dalam hatinya masih menyimpan sedikit keraguan. * * * Hari demi hari Evan dan Ayra telah lalu sebagai pasang suami istri. Hubungan mereka sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat dan tanpa terasa, ternyata sudah dua bulan mereka menjalani pernikahan ini. Senin pagi sebelum berangkat dinas. Evan lebih dulu mengantar sang istri ke rumah kedua orangtuanya. "Mas nggak mampir dulu?" tanya Ayra saat akan turun dari mobil. "Udah siang, Dek,” tolak Evan halus. “Salam aja ya buat Ayah sama Ibu,” kata Evan lalu tersenyum. Ayra pun mengangguk paham. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang suami. “Makasih ya, Mas. Udah nganterin aku." “Anytime, Sayang.” Evan memajukan bibirnya untuk mengecup kening sang istri dengan sayang. “Nanti pulangnya Mas jemput,” kata Evan memberi tahu. “Siap, Bos,” jawab Arya terkekeh pelan. Dan tak lama Ayra pun keluar dari mobil dan pamit untuk segera masuk ke dalam rumahnya. * * * Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Ayra langsung nyelonong masuk begitu saja ke dalam rumahnya. "Assalamualaikum. Ibu,” sapa Ayra saat sudah menemukan keberadaan ibunya di dapur. "Wa'alaikumsalam salam. Lho mana suamimu, Ra?” tanya Ibu Indah. Beliau lalu menoleh kebelakang mencari keberadaan sang menantu. "Mas Evan cuma nganter aku sampai depan gerbang, Bu,’ ujar Ayra memberi tahu. “Tadi dia titip salam buat ayah sama Ibu. Mau mampir tapi, udah kesiangan,” jelas Ayra. Ayea alu berjalan masuk menuju kamarnya dulu. Dan tak lama Ibu Indah pun mengikuti langkah sang anak dari belakang. "Kamu udah isi belum, Ra?" tanya Ibu Indah to the point tanpa basa-basi. "Isi?” Ayra membeo. “Maksud Ibu, isi apanya?" tanya Ayra terlihat bingung. Ibu Indah lalu menepuk pelan dahinya. "Isi, Ra. hamil maksud Ibu. Masa kamu nggak tau,” ucap Ibu Indah lalu menggelengkan kepalanya heran. "Aku belum isi, Bu,” jawab Ayra santai. Bagaimana mau isi dan hamil. Bahkan sampai saat ini pun Evan belum menyetuhnya dan Ayra pun belum memberikan hak Evan sebagai suami. "Kok bisa sih, Ra? kamu nggak pake KB kan?" tanya Ibu Indah penuh selidik. Ayra pun langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, Bu ngapain KB segala. Orang aku sama Mas Evan aja belum melakukan.” Ucapan Ayra pun terputus. Ayra langsung sadar ketika ia salah bicara. Buru-buru Ayra menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Jangan bilang kamu belum melakukan hubungan suami istri sama suami mu, Ra?” tebak Ibu Indah sambil menatap manik mata anaknya. “I-iya, Bu,” jawan Ayra tergugu. Dan karena takut kena tegur sang Ibu, Ayra buru-buru melangkah pergi. "AYRA, ASTAGFIRULLAH, YA ALLAH.” Ibu Indah refleks berteriak saat melihat anak bungsunya itu malah pergi menghindari dirinya dengan cara masuk kedalam kamar mandi. “AYRA, KELUAR KAMU IBU MAU BICARA,” kata Ibu Indah yang kini tengah berteriak dari luar kamar mandi. Tak lama pintu pun terbuka dan muncullah sosok Ayra sambil memandang Ibu nya dengan penuh ketakutan. Jika sudah marah Ibu nya memang sangat menakutkan. Ibu Indah yang kesal pun langsung menarik pelan telinga sang anak. "Astagfirullah, Ayra. Kamu mau di laknat sama Allah,” pekik Ibu Indah kesal. "A-ampu, Bu. Aduh sakit.” Ayra mengaduh kesakitan lalu mengelus telinga nya yang sudah memerah. Tak lama Ibu Indah terlihat menghela nafasnya berat. "Ayra?" panggil sang Ibu halus. Ayra pun langsung menoleh. "Maaf Bu,” kata Ayra lirih. Ia lalu mendekat kearah sang Ibu. "Ra, biar bagaimanapun Mas Evan itu sudah jadi suamimu sekarang. Hanya dia satu-satunya pria yang halal menyentuhmu,” kata Ibu Indah memberi nasihat sambil mengelus rambut sang anak dengan lembut. “Maaf, Bu.” Ayra kembali meminta maaf. "Layanilah suamimu sebaik mungkin, Ra. Jangan sampai Mas Evan mencari kepuasan di luar sana. Apa kamu mau, suamimu begitu?" tanya Ibu Indah. Ayra pun menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak mau lah, Bu. Masa iya aku mau diselingkuhi!" ucap Ayra tidak terima. Ayra tidak mau kalau sampai hal itu terjadi. "Sekarang Ibu tanya sama kamu. Apa yang buat kamu nggak mau melayani suamimu?" Ibu Indah bertanya lagi. Beliau begitu penasaran dengan rumah tangga anaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? "Aku belum cinta sama Mas Evan, Bu. Dan aku mau nya ngelakuin hal itu atas dasar sama-sama cinta, Bu,” aku Ayra dengan jujur. Ibu Indah pun langsung memijat kepalanya yang sedikit pusing. Ia heran dengan cara berpikir anak bungsunya itu. Akhir nya dengan penuh kesabaran Ibu Indah pun kembali menasehati anaknya. "Intinya kamu nggak boleh nolak ya, Ra. Jika nanti suamimu meminta 'Hak' nya,” kata Ibu Indah dengan lembut. Ayra pun mengangguk paham. "Iya, Bu. Insha Allah,” jawab Ayra lalu tertunduk lesu. Memikirkan malam pertama membuatnya menjadi takut, menurut buku yang Ayra baca rasanya akan sakit sekali. Di tambah cerita dari temannya dulu, yang mengatakan tidak bisa berjalan selama dua hari lantaran merasakan perih di bagian miss V nya. membayangkan hal itu terjadi padanya membuat Ayra sontak bergidik ngeri. * * * Setelah berseteru pada sang Ibu, akhirnya Ayra mendapatkan izin untuk pergi main kerumah Mela, tentu saja Ayra berbohong. Karena pada kenyataannya saat ini Ayra sedang menonton balapan mobil di sirkuit bersama kedua sahabatnya. "Banyak cowok ganteng, Ra di sini,” ucap Mela berseru senang. Mela terlihat tengah merapikan sedikit penampilannya agar terlihat sempurna. "Ah biasa aja sih menurut gue,” kata Ayra cuek. Ayra kembali fokus melihat balapan mobil di depannya. "Ih, Lu mah nggak tau cowok ganteng.” Ucapan Mela terputus saat melihat seorang pria sudah berdiri di depan Risa, sahabatnya. "Hai, Sayang. Udah lama nunggu?" sapa Alex kekasih Risa. "Lumayan kok, kamu kesini sama siapa, Yang?" tanya Risa pada sang kekasih. "Sama Radit, Yang,” jawab Alex lalu tersenyum. "Dit, kenalin tuh Mela sama Ayra sahabat nya pacar gue,” ucapnya kemudian. Ayra dan Mela pun mengulurkan tangan mereka. Tak lama mereka terlihat berbincang-bincang dengan akrab, hingga tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Ayra yang tersadar pun langsung buru-buru pamit pada kedua sahabatnya itu. Bisa gawat urusannya kalau sampai Ayra telat tiba di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD