Beberapa hari berlalu, bu Lusi pulang lebih dulu, meninggalkan pak Hartawan menunggui ibunya di rumah sakit. Langkahnya terburu, ia berpapasan dengan Sasfa di ruang tamu.
"Mama udah balik? papa ga ikut? gimana kabar nenek?" melipat buku yang barusan ia baca, Sasfa menyalami sekaligus menerima oleh-oleh yang disodorkan oleh ibu mertua.
"Kondisi ibu udah stabil, dimana Bastian?" ucapnya kembali bertanya.
"Ada di kamarnya, dia juga baru datang sepuluh menit yang lalu."
Bu Lusi melangkah cepat, seperti ada sesuatu yang amat mendesak. Sasfa memperhatikan, pun ikut penasaran. Mengekor di belakang mama mertua, benaknya diselimuti perasaan cemas.
Tiba di depan kamar Bastian.
Mengetuk secara kasar, si empunya menampakkan diri, menyambut kedatangan mamanya yang panik.
"Mama udah pulang?" pertanyaan serupa, tatapannya berpindah kepada Sasfa.
Adik iparnya hanya menggeleng, keduanya menyimpan keingin tahuan yang sama.
"Pak Yusuf tadi kemari kan? dokumen yang ada padamu, berikan kepada Mama!"
Bu Lusi menengadah satu tangan, raut wajahnya serius, garis rahangnya nampak menegang.
"Ma, tolong, kali ini biar aku yang pegang kendali. Bukankah papa sedang tidak di rumah?" Bastian berniat mempertahankan wilayahnya.
"Papamu masih hidup, Mama harap agar kamu tahu diri! jangan ngelunjak!"
Kuping Sasfa mendengar perdebatan tersebut, ia diam mematung, baru kali ini melihat cara bicara bu Lusi terdengar kasar.
"Ma, memang apa salahnya? aku udah dewasa, dan layak untuk memimpin, aku janji akan membuat Mama dan papa bangga nanti."
Tidak terima dengan penolakan si putra sulung, bu Lusi menerobos masuk, menyingkirkan Bastian yang berdiri di ambang pintu.
Benar saja, sampainya di dalam kamar yang luas, berkas penting dalam balutan map warna biru tergeletak di atas meja, posisinya terbuka, ada sebuah bolpen tak jauh dari sana.
"LANCANG YA KAMU!!!" Lusi murka, mengambil benda penting, ia dekap di depan da-da.
"Ma, aku CEO di perusahaan papa, apa salahnya jika menggunakan wewenang itu sebagai bentuk tanggung jawab?"
Bastian mendekat, berupaya melancarkan tipuan, dengan sikap lembutnya, Bastian ingin terlihat seperti anak yang baik.
"Selama suamiku masih hidup, kamu tidak berhak untuk ini. Kamu memang CEO, tapi bukankah kamu juga memperoleh gaji yang sepadan setiap bulan? urusan internal biar menjadi pekerjaan kami. Lagian....." ucap Lusi tercekat. Keputus asaan mengambang di wajahnya yang mulai keriput.
"Mama berharap Andra sembuh?" tebak Bastian. Sesaat kemudian senyum berbentuk ejekan terlukis di bibirnya. "Mama harus sadar. Itu mustahil! keadaan Andra bahkan tidak ada peningkatan!! sampai kapan Mama mau menipu diri sendiri?"
"Tutup mulutmu Bas! daripada sibuk mengurus masa depan Andra, sebaiknya kamu segera cari hunian baru. Setelah menikahi Vivian, kalian tidak akan tinggal di sini kan?"
Lusi membalas tak kalah sangar, ia menunjukkan taring di depan putra angkatnya itu.
"Mama mengusirku?"
Giliran bu Lusi menyeringai puas. "Semua orang juga tau, bagaimana pacarmu selalu jijik jika di dekat Andra, lantas, bagaimana mereka akan berbaur di rumah ini?"
Yang dikatakannya memang benar, terkadang, Andra tiba-tiba memeluk erat, atau mengangkat siapa saja yang ada di dekatnya. Bagi Andra, itu merupakan cara interaksi sesama teman.
Bastian kehabisan kata, rahangnya mengeras disertai tatapan nyalang. Bu Lusi enggan membuang waktu, segera pergi dengan menarik lengan Sasfa supaya mengikuti langkahnya.
Mereka menuruni anak tangga, Sasfa bertanya-tanya di dalam benak, ada apa gerangan? apa yang mereka ributkan sebenarnya?
******
Usai menyimpan berkas terkait perusahaan, Lusi menggenggam erat tangan Sasfa, kemudian mengajaknya untuk duduk bersama.
"Ma, kalau boleh tau, kenapa sikap Mama begitu keras kepada kak Bastian? selama papa di luar kota, ku rasa tidak masalah jika ia menggantikan posisinya di kantor?"
Senyum bu Lusi tipis, ketegangan di wajahnya pada momen sebelumnya berangsur luluh. "Untuk itu Mama akan memberitahumu nanti, Mama punya satu permintaan terhadapmu Nak."
Ucapnya lembut, nyaris memohon.
"Soal apa Ma?" kening Sasfa berkerut.
"Bisakah kamu dan Andra, bersatu layaknya pasangan normal? itu belum tentu menjamin kesembuhannya, tapi, menurut penilaian Mama, hanya itu satu-satunya cara, agar jiwa dewasa di dalam diri Andra segera bangkit."
Genggaman tangan itu terlepas, Sasfa tersentak luar biasa.
"Maksud Mama? ber--sa--tu?"
Keduanya saling menatap dalam beberapa saat, Sasfa berubah canggung, permintaan Lusi begitu berat untuk ia lakukan.
"Mama janji Fa, jika kamu berhasil menyembuhkan Andra, apapun permintaanmu akan Mama penuhi," cetusnya kemudian.
"Entahlah Ma, aku ga yakin." Raut wajah Sasfa meredup.
"Nak, kamu pasti bisa, secara fisik, Andra sangat normal, sama seperti lelaki lain, Mama pernah konsultasi dengan dokter, menurutnya, jika Andra mengalami suatu emosi luar biasa dalam dirinya, itu akan berpengaruh terhadap perkembangan sensor otak. Dan artinya sangat bagus."
SUNYI
Sasfa tidak punya kata-kata lagi, di sisi lain ia pikir akan sulit membimbing Andra melakukan hubungan b4dan. Tapi tawaran bu Lusi yang bersedia bersedia memberikan segalanya, seolah memantik keinginan lain dalam benak Sasfa.
*****
Waktu berganti......
Malam nan dingin, jendela setinggi dua meter masih terbuka sejengkal. Sasfa berdiri di sana sembari menatap langit malam yang perlahan menghitam.
"Kata mama aku boleh minta apa saja, misal aku mengungkap ingin bercerai, itu artinya mama akan mengabulkan?"
Pikirnya berkecamuk, tak lama pintu kamar terbuka pelan, Andra masuk, dengan sebuah cangkir di tangan kanan.
Mereka tidak saling sapa, Sasfa memperhatikan betul sosok suaminya yang memang terlihat normal. Tinggi badannya setara dengan Bastian, wajahnya juga tampan, hanya ada satu perbedaan.
"Fa, bisa tolong nyalakan AC-nya?" seru Andra membuyarkan lamunan istrinya.
"Cuaca sangat dingin, di luar hampir turun hujan. Tapi kamu meminta AC?"
Sasfa menolak, usai merapatkan jendela ia memilih duduk di sisi ranjang. Tubuhnya dibalut gaun malam berbahan satin, sesuai saran dari bu Lusi. Pikirnya ragu, Andra tidak akan tertarik. Buktinya, sejak memasuki ruang yang sama, ekspresi Andra biasa saja. Jika lelaki lain di posisinya sekarang, sudah pasti mereka bergumul panas di atas ranjang nan empuk.
Bibir Sasfa mendesah berat, merebahkan dirinya lantas menarik selimut tebal sebatas d4da.
Andra meneguk minuman hingga habis, mematikan sakelar lalu bersiap tidur.
"Fa kok rasanya panas, jangan-jangan aku sakit?" Andra yang terlentang kemudian melepas kaos yang ia kenakan, mengambil buku tipis dari atas nakas, ia kibaskan di depan wajah.
"Tunggu, tadi apa yang kamu minum??" Sasfa antusias, kedua matanya sampai melotot. Kebetulan, ia sedang dalam posisi menyamping, menatap ke arah suaminya.
"Itu jamu, dikasih mama. Katanya biar badanku sehat. Tapi rasanya malah aku kegerahan begini."
Andra segera bangun, ia duduk diselimuti perasaan gelisah. Kedua tangannya mengusap bagian lengan bersamaan, ada keinginan lain mencuat di dalam jiwa.
Semakin tidak nyaman, Andra buru-buru ke kamar mandi, gemericik air terdengar nyaring, Andra mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Sasfa bergidik ngeri, "Apa mungkin, mama memberikan obat p3rangsang kepada Andra?"
Jantungnya berdebar tidak karuan, ia sendiri belum siap jika harus menambah jarak untuk hubungan mereka.
"Sebaiknya, aku pindah kamar saja. Di bawah masih ada kamar tamu kan?"
Gerakannya kilat, takut jika Andra keburu keluar dari ruangan lembab pada sudut ruangan. Sasfa bangkit dari posisinya, menuju pintu kemudian berniat membukanya.
Sayang, pintu warna coklat itu dikunci dari luar, hanya satu orang yang bisa melalukan semua itu.
"Mama......." desis Sasfa gusar. Menarik-narik gagangnya namun usaha Sasfa hanya berbuah kekecewaan.
CEKLEK!
Kamar mandi terbuka, Andra keluar dari sana dengan wajahnya sedikit memerah. Ia dan Sasfa sama-sama kikuk, mengunci pandang beberapa detik, lalu membuang muka ke arah lain.
"Kamu belum tidur Fa?" tanya Andra.
"Eum.... itu, aku haus, jadi ingin mengambil minum," kelitnya cepat.
"Ah begitu, apa pintunya rusak?" imbuh Andra.
"Entahlah, tidak bisa dibuka,"
"Biar aku bantu," Andra selangkah lebih maju. Namun Sasfa segera menjauh.
"Eh tidak perlu, biarkan saja. Aku tidak terlalu haus... besok saja...."
Meraih selimut, kemudian memilih duduk di atas sofa.
"Oh bagitu, lalu kenapa kamu di situ? tadi bilangnya dingin?"
Sofa yang ditempati Sasfa letaknya di samping jendela kaca. Dari sana, pemandangan luar dapat ia tangkap secara jelas.
Sasfa memutar otak, sibuk mencari alasan agar kecurigaan Andra sirna.
"Eum... tidak apa-apa, kamu tidur gih. Aku lagi ingin bersantai, melihat rintik hujan dari sini rasanya menyenangkan."
Kondisi Andra sudah jauh lebih baik, obat yang diberikan bu Lusi memang masih bereaksi, namun Andra menahan gejolak hasratnya sebisa mungkin. Merebah di sisi ranjang, kemudian memejamkan matanya erat-erat.