Pulang

1213 Words
Pagi ini, sepertinya hanya apartemen Hanan dan Hana yang tengah sibuk dengan beberapa pekerjaan. Pasalnya, hari ini tepat pukul delapan mereka akan keluar dari apartemen, pulang ke rumah Hanan. Keduanya merapikan barang masing-masing, satu koper besar dan satu koper kecil sudah berada di atad kasur, terisi penuh. Sejak subuh, pekerjaan demi pekerjaan tak henti-hentinya mereka lakukan. Kini, sepasang pengantin baru itu tengah menikmati sarapan. Dalam keheningan, keduanya mengunyah dengan pikiran entah ke mana. Membayangkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. “Mas ....” “Han ....” Panggil Hanan dan Hana secara bersamaan, mendongak, saling menatap dengan kedua tangan memegang sendok dan garfu masing-masing. Hana menunduk, merasa salah tingkah. “Ah, emm ... Mas mau ngomong apa?” “Kamu duluan yang ngomong,” ujar Hanan, kembali memakan sarapan berupa nasi goreng. Mungkin ini yang dikatakan takdir, jodoh adalah cerminan diri. Mereka sama-sama menyukai nasi goreng untuk dijadikan sarapan. Maka, selepas salat Subuh Hana segera memasaknya, penuh gembira. Sejak semalam, suasana hatinya menjadi hangat. Senyum yang merekah senantiasa mengiringi pagi kali ini. Hal itu membuat Hanan merasa heran, sekaligus kagum dengan senyuman itu. “Kita akan pulang ke mana?” tanya Hana, ragu. Menatap Hanan dengan lembut. “Ke rumah saya atau ke rumah kamu?” “Emm ... aku ikut Mas saja. Kalau pun sudah ada rumah sendiri, nggak papa.” Hanan tampak berpikir. “Kita ke rumah Papah sama Ibu.” Gadis itu mengangguk paham. Dia tidak bisa menolak atau pun menawar, bukan? Sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri, untuk mengikuti suami ke mana pun nahkodanya itu pergi. Keheningan kembali menyapa. Keduanya foku menghabiskan sarapan. Karena tidak baik jika terus berbicara di depan makanan. Sampai akhirnya, bulir-bulir berasa yang sudah menjadi nasi goreng itu sudah berpindah ke perut mereka. *** Masih sepagi ini, tetapi sang mentari sudah menyapa bumi. Teriknya sampai menembus kulit, haus terasa. Padahal, jarum pendek baru saja menunjukkan pukul delapan. Jalanan tampak ramai dipadati pengendara. Hana, gadis itu mengibaskan tangannya di depan wajah. Guna memberikan sedikit kesegaran berupa angin. Cuaca yang mendukung, mentari sudah menyapa, juga kemacetan yang terjadi di depan sana, membuatnya kepanasan berada dalam mobil. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Mendadak hawa dingin mulai masuk ke dalam pori-pori. Hana menoleh, ternyata Hanan sudah menyalakan AC mobil. Pantas saja, terasa berubah cuaca. Hana tersenyum. “Terima kasih,” ucapnya, tetapi hanya dibalas anggukan oleh Hanan. Sedan putih itu perlahan melangkah maju, sedikit demi sedikit akhirnya keluar dari jalur kemacetan. Membuat sepasang suami istri itu menghela napas lega. Sepertinya, bukan hanya Hana dan Hanan. Namun, juga orang lain. Siapa, sih, yang betah dengan macet? Tidak ada. Namun, karena harus merantau, menatas masa depan, mereka harus bertahan di kota. Demi cita-cita, demi keluarga, demi orang tua, dan demi orang yang dicintai, disayangi. Melesat dengan kecepatan sedang, akhirnya mobil sedang yang dikemudikan Hanan berhenti di pekarangan rumah yang megah nan luas. Sopir, satpam, dan dua asisten rumah tangga berhambur menghampiri mobil mereka. Sopir membukakan pintu, satpam membuka bagasi, mengeluarkan barang-barang bersama asisten rumah tangga. Hanan segera ke luar, begitu juga dengan Hana. Keduanya bak putri dan pangeran, diperlakukan dengan semestinya. Hanya membawa tubuh dan tas selempang, Hana berjalan mengikuti sang suami tanpa membawa barang apapun. Pintu terbuka lebar, ruangan cokelat menyapa pandangan. Hana tersenyum girang, ruangan ini adalah ruangan yang menjadi saksi perjodohan dia dan sang suami. “Assalamualaikum!” ucap Hana dan Hanan, bersamaan setelah masuk ke dalam rumah. “Waalaikumsalam warohmatullah. Duduk, Nak,” ucap Maya, mempersilakan putra dan menantunya untuk duduk setelah mereka menyalami tangannya. Hana tersenyum, lalu duduk tepat di samping sang ibu mertua. Kini, mereka sudah berada di ruang keluarga. Arya, lelaki paruh baya dengan kemeja berwarna telur asin itu juga ikut bergabung, duduk di kursi utama. Hanya satu. “Baru sampai, Nak?” Arya terkekeh, Hanan segera menyalami punggung tangannya, diikuti Hana. Mereka saling pandang, seperti sudah tidak bertemu sekian lama, menimbulkan kerinduan yang mendalam. Sorot mata mereka menujukan hal seperti itu. “Bagaimana perjalanan kamu, Hana?” “Alhamdulillah baik, Pah. Walau tadi sempat macet,” jawab Hana kemudian terkekeh pelan, rasanya masih kaku untuk sekedar mengobrol santai seperti ini. “Aku ke atas dulu, Bu, Pah. Mau mandi,” pamit Hanan, lantas melenggang pergi. Hana menatap punggung sang suami yang sudah menaiki anak tangga, dia menghela napas pelan. Kemudian, pandangannya beraling menatap kedua orang tua yang masih bergeming menunggu ucapan selanjutnya. “Pah ... Bu ...,” panggil Hana, sedikit ragu. “Kenapa, Han? Apa Hanan memperlakukanmu dengan baik?” Maya menatap sang menantu, begitu juga dengan Arya. “Iya. T-tapi ... se-sejak kapan Mas Hanan minum alkohol?” Wajah kedua orang tua itu tampak terkejut, lalu saling pandang. Beralih menatap Hana yang sudah menampilkan ekspresi tak enak hati. “Hanan minum alkohol? Tidak mungkin. Selama ini, dia baik-baik saja, Han,” tolak Maya, memang itu kenyataannya. Hanan putra yang baik, dia tidak pernah berbuat yang macam-macam. “T-tapi ... kemarin luas, Mas Hanan pulang dengan keadaan mulutnya bau alkohol, Bu.” Hana berdesis, merasa tak enak hati mempertanyakan ini pada mereka. Mereka bergeming cukup lama. Arya berniat berdiri, tetapi langsung dicegah oleh sang istri. Maya menggeleng pelan, pertanda ‘jangan marah'. Akhrinya, Arya menghela napas dengan kasar, duduk kembali. “Nak ... mungkin Hanan hanya minum minuman sejenis penenang. Bukan alkohol, hanya baunya memang sedikit mirip.” “Begitu ya, Bu? Mungkin aku yang salah.” “Nggak papa. Wajar jika bertanya perihal suami. Ya sudah, sana, kamu bersih-bersih dulu. Setelah itu ikut ibu, ya.” Hana mengangguk, lalu berpamitan sembari menyunggikan senyuman. Berjalan ragu menuju kamar di atas. Barang-barang sudah diantar oleh para asisten rumah tangga dan berada di kamar beberapa menit yang lalu. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu, dia menghela napas dengan pelan. Kemudian, mengetuk pintu beberapa kali. Memanggil nama Hanan. “Masuk saja, tidak dikunci.” Suara seseorang dari dalam, membuat Hana mau tidak mau harus masuk. Dengan tangan yang sudah berkeringat dingin, Hana memutar knop pintu pelan. Ruangan serba putih sudah menusuk pandangan. Indah sekali desain arsitektur dan interiornya. Apakah ini yang dinamakan surga dunia? “Assalamualaikum,” ucapnya, pelan, membawa kaki jenjangnya masuk ke dalam. “Saya ada pekerjaan. Kamu diam di sini atau ikut sama Ibu. Saya akan pulang sedikit terlambat,” papar Hanan seraya mengancingkan jas, merapikan dasi, lalu melenggang pergi begitu saja. Hana mengangguk, menatap kepergian sang suami. Baru saja dia akan meminta tangan Hanan untuk dia cium, lelaki itu sudah pergi begitu saja menyisakan sedikit kekecewaan. Langkah Hanan sedikit tergesa-gesa. Akibat cuti pernikahan yang menurutnya cukup lama, beberapa pekerjaan di kantor tidak terurus. Membuat dia harus mendouble waktu beberapa hari. “Hanan, tunggu!” cegah Arya, menghentikan langkah sang putra. Sementara Maya, mengusap bahunya agar tetap bersikap tenang. “Ada apa, Pah? Aku sudah terlambat,” ujar Hanan, menghampiri kedua orang tuanya. “Apa benar, kamu minum alkohol? Sejak kapan, hah?” “Pah ... sabar, jangan emosi dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan sampai Hana mendengar, kasian dia.” Hanan bergeming. “Jadi, Hana sudah mengadu? Heh, dasar tukang ngadu.” “Tak peduli dari mana papah tau ini semua. Jawab pertanyaan papah, sejak kapan kamu minum alkohol?” Arya sedikit meninggikan suara, urat-urat di lehernya seketika terlihat menegang. “Jawab, Hanan. Jangan buat papahmu semakin marah,” desak Maya, menatap putra tunggalnya dengan penuh tanda tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD