Tawanan

2160 Words
Shera menatap kamar perawatan ayahnya, setengah menganga. Ini ICU untuk kelas VVIP? Satu ruangan hanya berisi satu pasien dengan segala peralatan medis yang lengkap. Shera tidak mau memikirkan berapa biaya perhari di kamar ini, bisa-bisa dirinya pingsan jika tau nominalnya. Shera mengamati dokter muda berhati dingin yang sedang memeriksa dan mengecek rekam medis sang ayah. Ia menghela napas keras, mengingat perjanjiannya dengan dokter patung itu. Iya, wajahnya mirip pahatan patung, tanpa ekspresi, datar dan tidak pernah tersenyum sekalipun. Ada ya manusia seperti itu? Apa otot di wajahnya tidak kaku semua karena jarang dipakai bergerak? "Ada apa?" Shera gelagapan, karena tiba-tiba saja patung itu menoleh ke arahnya. Waaahh, dia berjalan mendekat. Bagaimana ini? Shera meremas roknya. Gugup. "Ti-tidak ada." Shera menjawab dengan suara bergetar. Ale sampai di depan Shera. Ia membungkuk dan berhadapan langsung dengan wajah Shera. "Heh cebol, kau pikir aku tidak tau sejak tadi kau terus mengamatiku?" "Ce-cebol?" Shera tak percaya dengan pendengarannya. Dia mengatainya cebol? Ya Tuhan, seorang dokter yang dihormati banyak orang, direktur rumah sakit yang disegani, ternyata mulutnya tak lebih baik dari comberan. Tidak tau sopan santun!! Shera mengumpat dalam hati. "Iya, memang kakimu pendek kan?" Ale berkata tanpa perasaan. Shera menunduk mengamati kakinya. Iya! Memang kakinya pendek, lalu apa masalahnya?! Ia memejamkan mata, menenangkan diri. Sabar Shera, sabar... ayahmu sedang sakit, jangan meladeni lelaki patung itu. "Huaaa!" Shera terkejut, karena begitu membuka mata, wajah patung itu berada persis di depan matanya, hidung mereka bahkan hampir saja bersentuhan. Shera mengusap dadanya. Ale kembali menegakan badannya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi dan sama sekali tidak ada senyum. "Kenapa terus melihatku tadi?" "Sa-saya... ehh..." Shera bingung menjawab. "Kau tertarik padaku?" Ale bertanya sok percaya diri. "Sama sekali tidak! Bukan itu, ehmm, hanya saja saya bingung, nanti jika ada yang bertanya soal biaya rumah sakit, kenapa pindah ruangan dan lain-lain." Shera menunduk. Ale terkejut dengan jawaban Shera, tapi ia tetap memasang wajah datarnya. Gadis sialan! Dia sama sekali tidak tertarik pada seorang Aleron? Dokter spesialis bedah termuda, sekaligus direktur rumah sakit yang memiliki banyak cabang di kota-kota lain. "Suruh mereka menemuiku dan bertanya langsung padaku!" Aleron berkata dingin sambil berlalu meninggalkan kamar perawatan ayah Shera. Shera bisa bernapas lega, akhirnya patung berjalan itu pergi juga. Ia mengempaskan tubuhnya di sofa. Lelah. Sejak dua hari yang lalu Shera tak bisa tidur nyenyak. Bukan tak bisa, memang tidak ada tempat untuk tidur. Hanya sebentar-sebentar saja Shera tidur di kursi tunggu atau duduk di lantai dengan kepala ia tumpukan pada lututnya yang ditekuk. Beruntung saat ini ayahnya mendapat kamar yang lumayan luas, sehingga Shera bisa menjaga sang ayah sambil beristirahat. Bukan beruntung, tapi memang sudah seharusnya ia mendapatkan ini semua, mengingat dokter patung itu telah membeli kedua ginjalnya. Entah apa yang dipikirkan Shera saat itu, sehingga dirinya setuju untuk memberikan kedua ginjalnya sebagai pembayaran semua biaya perawatan ayahnya di rumah sakit ini. Perawatan terbaik tentu saja. Shera tau konsekuensi dari menjual kedua ginjalnya adalah mati, tapi ia tidak punya pilihan lain. Semua ia lakukan demi kesembuhan sang ayah tercinta. Satusatunya keluarga yang masih ia miliki saat ini. Shera meluruskan kakinya yang rasanya mau copot karena beberapa hari ini tidak sempat istirahat. Nyaman sekali merebahkan badan. Niatnya, mau rebahan sebentar, Shera ingin pulang untuk mengambil baju ganti, tapi apa daya, tubuhnya yang terlalu lelah memaksa sang mata untuk terpejam. Shera tertidur. *** Shera terbangun karena merasakan ada angin yang menerpa wajahnya. Ia membuka mata dan mengerjap beberapa kali, samar matanya menangkap seraut wajah dingin yang tepat berada di hadapannya. Seperti wajah dokter sinting itu? Tunggu! Shera mengucek kedua matanya, dan terlihat jelas jika saat ini Dokter Ale sedang duduk di samping sofa sambil meniupi wajahnya. "Aaar...hoek, uhuk..." Shera batuk dan mual saat dokter muda itu meniup mulutnya yang setengah menganga. Sinting! "Sudah bangun? Bagus!" Ale berdiri dan duduk di sofa yang lain. Shera bangun dan duduk dengan kesal. "Ada apa? Mengapa membangunkan orang dengan cara seperti itu?" Shera berkata ketus, jengkel sekali karena tidur nyenyaknya terganggu. Ale menatap Shera tanpa ekspresi, ia duduk bersedekap dengan kaki disilangkan. Ale sama sekali tak menjawab pertanyaan Shera. Shera mendengus kesal. Rasanya kepingin sekali menonjok muka patung itu! Tapi ia urungkan niatnya, mengingat hutangnya yang sangat banyak pada pria itu. Shera menunduk lesu. "Kau tau, dengkuranmu terdengar sampai nurse station di depan sana." ujar Ale. Ia mengatakan itu juga dengan wajah yang datar, tidak terlihat senyum mengejek atau bergurau. Shera melongo. Apa tadi? Dirinya mendengkur? "Ti-tidak mungkin!" Shera mengelak. Ia tak pernah mendengkur sekalipun. Aleron berdecih pelan, "kau menganggu ketenangan pasien di rumah sakit ini." Ale berkata keji. Shera menjadi pias. Benarkah? Lalu bagaimana? Terlepas dari benar dia mendengkur atau tidak, tapi bagaimana nasib ayahnya? Jangan-jangan dia batal membeli ginjalnya. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Hiks. "A-apa yang harus sa-saya lakukan?" Shera bertanya terbata. Ale tidak langsung menjawab. Ia mengamati perubahan ekspresi di wajah Shera. Unik sekali. Wajahnya bisa merona merah karena malu, berapi-api karena kesal, pucat karena gugup. Ale menikmati pemandangan itu. "Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, para perawat dan dokter jaga akan terus memantau kondisi ayahmu." Ale berbicara dengan nada datar. Ah ya, Shera memang berencana pulang, sekalian mengambil ganti. Ia melirik jam dinding. Sudah pukul 10 malam. Itu artinya, ia tertidur selama lima jam? Ya Tuhan, lama sekali. "Ehh, su-sudah malam, rumah saya ja-jauh." Shera menunduk sambil meremat jari. "Demi kenyamanan seluruh pasienku yang terganggu suara dengkuranmu, aku antar. Pergilah ke kamar mandi dulu! Bersihkan bekas iler dan tai matamu yang belepotan ke mana-mana itu!" Ale berkata acuh tak acuh. Shera lagi-lagi cuma bisa cengo. Iler? Tai mata? *** "Masih jauh?" Aleron yang sedang mengemudikan mobil bertanya pada gadis di sebelahnya. Ck! Gadis itu, sudah tidur sekian lama masih saja mengantuk! Beberapa jam tadi Ale menunggu sampai dia bangun. "Hmm, masih." Shera menjawab setengah mengantuk. Biar saja ketiduran, salah sendiri memaksa untuk mengantar pulang. "Jangan tertidur di mobilku! Jika sampai iler-mu itu menodai kulit jok mobilku, aku tidak hanya akan mengambil ginjalmu, tapi juga hatimu!" Shera yang sudah setengah tertidur langsung duduk tegak mendengar ancaman dokter sinting di sebelahnya ini. "Ma-maaf." Ale membelokkan mobilnya di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Setelah memarkir mobilnya dan mematikan mesin, ia menghadap Shera."Cepat keluar!" Shera memandang sekelilingnya, bingung. Di mana ini? Kenapa berhenti di sini? "Ini bukan rumah saya, dok." Aleron sudah keluar dari mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Shera, "keluar, atau aku harus menggeret tubuhmu?" "Iya, iya, ini keluar." Shera keluar mobil sambil menghentakan kaki. Jengkel rasanya, apa susahnya ngomong?! Ale berjalan mendahului masuk ke dalam rumah makan. Ia tahu Shera mengikutinya. Ale memilih meja di samping air terjun buatan di bagian dalam rumah makan. "Kau mau pesan apa?" Ale bertanya pada Shera. "A-apa?" Shera benar-benar bingung. "Nasi goreng kambing dua, jus jeruk dua." Ale memesan makanan tanpa bertanya pada Shera lagi. Shera memanyunkan bibirnya. Saat ini dirinya jadi merasa seperti boneka tali yang bisa digerakan kesana kemari sesuka hati. "Kenapa?" tanya Ale ketika melihat wajah manyun Shera. "Sa-saya bukan boneka!" Shera mengeluarkan isi hatinya. Ale menatap Shera lama. "Memang bukan." "Lalu kenapa sa...?" "Kau tawananku, ingat?" Ale memotong ucapan Shera. Shera merengut. Ia tidak jadi mengeluarkan argumennya. Pria itu benar, sekarang ia adalah tawanannya. Sesaat tadi ia lupa. "Kenapa tawanan harus diajak makan?"Shera nggerundel pelan. "Karena aku harus memastikan ginjal yang kubeli sehat dan terawat, maka mulai sekarang aku akan mengatur pola hidupmu, termasuk pola makanmu." Shera melotot pada Ale, "pola hidupku? dok, saya hanya menjual ginjal, bukan seluruh kehidupan saya..." "Sama saja, jika kuambil kedua ginjalmu saat ini juga, kau tahu apa yang akan terjadi padamu?" Ale menyeringai, "kau akan mati! Jadi, hidupmu tergantung padaku." Ale berkata dengan nada yang sangat menjengkelkan. "Baik. Ambil saja ginjalnya sekarang!" Shera berkata kesal. "Lalu ayahmu? Siapa yang akan menjaganya dan memastikan bahwa dia benar-benar mendapat perawatan terbaik?" Ale tersenyum setan. Skak mat! Shera mati kutu. Dokter Aleron benar-benar keterlaluan! Dasar iblis! Shera mengumpat dalam hati. Ale mengamati wajah Shera. Gadis itu terlihat sedang bergulat dengan amarahnya, sekuat tenaga ia terlihat menahan diri agar tidak memaki Ale. Sedang menikmati hiburannya, Ale dikejutkan oleh getaran ponsel di celananya. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat siapa si penganggu kesenangannya. Ada pesan masuk di w******p-nya. Siapa gadis itu? Arrgh, sial! Ale mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah makan. Mencari siapa pun yang terlihat mencurigakan, tidak ada! Ale mendengus kesal. Mengapa sang ayah selalu saja mengetahui apa yang dilakukannya? Ayaaaaaahhh! Aku sudah dewasa, tolong jangan terus menguntitku!!! Ale mengirimkan balasan pesan kepada ayahnya. Heran sekali, bagaimana caranya sang ayah selalu mengetahui ke mana dan di mana anak-anaknya berada. Bunda minta, bawa gadis itu ke rumah besok!!! Ale membanting ponselnya ke atas meja dengan frustrasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD