Bab 10

1154 Words
“Reno, kok kamu di rumah? Namira mana?” Ibu mertuaku itu langsung memberondong pertanyaan. Matanya memindai setiap sudut rumah dari pintu masuk ruang tamu. Kedua tangannya membawa kantong kresek. Aku yakin itu pasti oleh-oleh. Mertuaku ini tak pernah datang dengan tangan kosong. “Bunda kerja, Nek!” Aku kalah cepat. Dafa sudah menyahut sambil mendongakkan kepalanya, menatap neneknya yang masih berdiri di ampang pintu. Duh! Anak ini pake ngaku kalau bundanya sudah kerja. Dimanapun, anak kecil memang selalu jujur. “Namira kerja?” Tatapan mata ibu mertua berpindah kepadaku. Biasanya, neneknya anak-anak ini padahal langsung sibuk dengan cucu-cucunya setiap datang. Kini, malah seolah ingin menginterogerasiku. Ada rasa bersalah menyelinap atas pertanyaan ibu mertua. Tampak sekali aku menjadi menantu yang tak becus, hingga Namira yang dulu aku paksa berhenti kerja kini harus kembali bekerja. Masih ingat saat aku meminta Namira berhenti kerja dan fokus mengurus anak-anak, ibu mertuaku yang paling tidak setuju. Dia sudah menyekolahkan putrinya tinggi-tinggi dan berharap masih bisa terus bekerja tanpa meninggalkan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Sama dengan ibu mertuaku juga yang dulunya juga wanita karir. Namun, aku selalu meyakinkan, kalau aku akan mampu sebagai pencari nafkah. Namira tak perlu repot bekerja karena aku akan mencukupinya. Mertuaku dulu berdalih, meskipun suami punya penghasilan, istri pun harus punya uang sendiri untuk pegangan. Karena nasib rumah tangga siapa tahu. Kenapa apa yang terjadi, seperti de javu dengan apa yang dikatakan ibu mertuaku. Apa ini bagian dari firasat seorang ibu? “Iya, buk. Dari kemaren dia merengek minta kerja. Ya sudah, aku kasih ijin aja.” Aku beralasan. Dafi yang sudah ikut keluar menyambut neneknya segera aku gendong, berharap interogerasi ibu mertuaku segera terhenti. Misiku untuk istirahat setelah menidurkan anak-anaknya gagal sudah. Mata anak-anak sudah terang benderang gara-gara kehadiran neneknya. Namun, Aku tetap pura-pura menyibukkan diri menggiring anak-anak ke kamar. Kalau tidak, ibu mertua masih saja akan melanjutkan investigasinya. Bisa-bisa, mentalku akan runtuh karenanya. Tapi, kalau dipikir-pikir, kedatangan ibu mertuaku ada bagusnya juga. Pasti beliau lebih telaten mengurus anak-anak dibanding aku. Aku masih ingat saat hendak meminta Namira berhenti kerja, malah ibu mertua ini yang mengajukan diri hendak mengasuh cucu-cucunya dan memintaku membiarkan Namira bekerja. Tapi, aku sendiri yang tidak menyetujuinya. Aku nggak mau kualat sama mertua. Nanti harga diriku bisa runtuh. Apalagi kalau mertua yang mengasuh anak-anak seringnya ikut campur dan mau tahu urusan rumah tangga anak dan menantunya. Ibu mertuaku langsung masuk ke rumah tanpa dipersilahkan. Beliau sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri. Jarak rumah mertua dengan rumah kami hanya beda kecamatan saja. Tak sampai setengah jam dengan ojek atau angkutan umum sudah bisa menjangkau. Tak heran jika tiba-tiba beliau datang berkunjung seperti ini. Tak mudah menidurkan anak-anak saat ada orang lain. Dafa sudah kabur. Sementara hanya Dafi yang dapat kukendalikan. Ternyata menidursiangkan dua anak itu tak mudah. Mereka selalu bercanda tak henti-henti. Justru aku lah yang lebih duluan capek dan emosi. Kepalaku sampai pusing dibuatnya. “Kalau mau nidurin bayi, dikasih susu.” Ibu mertuaku sudah berdiri di ambang pintu. Tangannya memegang botol berisi s**u untuk cucunya. Pantas saja Dafi malah ketawa cengengesan, bukannya merem. Selama ini, meskipun aku sering menidurkan anak-anak, aku tak perlu memikirkan amunisinya. Semua sudah disiapkan oleh Namira. Aku tinggal merem menemani mereka saja. Bahkan, kalau sesekali ada yang kabur, aku tak repot mengejarnya, karena masih ada Namira yang akan membujuknya untuk kembali. Terpaksa aku bangkit dan mengambil botol berisi s**u hangat dari tangan ibu mertuaku. Benar juga, tak lama, bocah di sebelahku ini sudah terlelap. Aku pun pura-pura tidur, sebagi usaha agar tidak kena ceramah ibu mertua. Aku mengerjapkan mata ketika indera penciumanku mengendus aroma masakan dari dapur. Ini sudah jam makan siang dan aku memang belum makan, meski Namira sudah menyiapkan makan siang untukku dan anak-anak. Pasti ibu mertuaku sedang memasak. Ibu mertua memang selalu menganggap rumah ini seperti rumahnya. Tak hanya berinisiatif memasak, biasanya juga beres-beres dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Begitulah, beruntungnya kami. Perlahan aku keluar kamar, setelah memastikan Dafi masih terlelap. Sampai di dapur, rupanya Dafa sedang disuapi oleh neneknya. Aku bernafas lega. Artinya satu tugasku sudah diambil alih oleh ibu mertua. “Makan dulu, Ren!” tawar ibu mertua. Tak perlu ditawari dua kali, aku memang ke dapur untuk mencari sumber aroma sedap yang mengaduk cacing di perutku. Saat aku sengaja melirik ke piring Dafa, seketika lemas. Dafa hampir selesai makan. Artinya, aku hanya akan berdua saja dengan ibu mertua. Ini artinya saat aku akan menerima wejangan beliau seperti biasanya. “Kamu kenapa nggak kerja?” Akhirnya pertanyaan itu terucap juga. Wanita paruh baya ini menatap ke arahku dengan tajam. Aku harus menghembuskan nafas, mengusir grogi. Ini persis saat aku datang berkenalan dengan calon ibu mertuaku dahulu. Tatapannya masih sama. Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat. Ibu mertuaku ini pintar. Kalau aku salah menjawab, bisa-bisa wejangannya jadi tambah panjang. Padahal aku ingin segera melahap makanan karena perutku sudah bernyanyi. “Kamu dipecat?” tanya ibu mertua dengan nada datar namun terdengar mengejek, tanpa memberiku kesempatan mencari alasan. “Bu! Kata-kata itu doa lho." Aku berusaha berkilah dengan ekspresi setenang mungkin. “Halah, paling juga dipecat. Ngga mungkin ‘kan manajer baru diangkat sudah cuti?” tanya ibu mertuaku ini retoris. Nadanya sungguh merendahkanku. Padahal saat aku masih bekerja, ibu mertuaku ini nggak pernah bersikap seperti ini. Dia selalu memanggilku dengan lembut dan sebutan "Nak Reno". Baru kali ini beliau menyebutku langsung nama, tanpa embel-embel "Nak". Apa aku seperti orang yang sudah menelantarkan anaknya? Padahal aku kan baru beberapa hari tidak bekerja. Belum setahun. Tapi, pandangannya kepadaku sinis, mirip punya menantu pengangguran. Beginilah kalau memiliki mertua pintar. Beliau susah dibohongi. Jelek-jelek begini, ibu mertua ini adalah pensiunan guru. Jadi, sedikit banyak mengerti dunia kerja. “Baguslah kalau kamu dipecat. Kalau kamu nggak bisa nafkahi anak dan cucuku, mendingan kamu pergi saja sekalian. Sama perempuan gatel itu,” ucap ibu mertua dengan nada menyindirku. Untung Dafa sudah sibuk di ruang depan. Jika masih di sini, pasti bocah berumur tiga tahun itu akan bertanya-tanya tentang apa yang sedang diucapkan neneknya. “Ibu bicara apa sih. Reno di sini saja nggak kemana-mana,” sahutku sambil mencoba menelan cah kangkung yang aromanya menggoda ini, namun, mendadak seperti berhenti ditenggorokan. Aku mencari air putih dan segera menegaknya. Jika tidak, aku bisa tersedak. “Reno pasti sebentar lagi akan kerja lagi, Bu. Tenang saja,” tambahku jumawa setelah berhasil menelan makananku. Segera aku beranjak ke kamarnya Dafi setelah suapan terakhirku masuk ke mulut. Lebih baik akuikut rebahan, daripada kena ceramah ibu mertua. “Dafa, yuk bobok sama Ayah!” bujukku ke si sulung. Meski perut begah habis makan, lebih baik kabur dari hadapan ibu mertua yang mulai mengancamku berpisah dari Namira. Mana bisa? Aku tetap suami Namira. Lihat saja, Namira saja masih mencintaiku. Bahkan rela bekerja demi keutuhan rumah tangga kami. Kenapa orang di luar yang sewot? Begitu Dafa tertidur, aku langsung mengambil ponsel untuk menghubungi Namira. Aku harus memberitahukan padanya kalau ibunya ada di rumah. Biar dia cepat pulang dan menghadapi ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD