Bab 17c

1089 Words

“Ayah kenapa nangis?” Dafa yang duduk di sebelahku rupanya menyadari saat aku mengusap anak sungai yang mengalir di pipiku. Mendengar kata-kata Dafa, Namira yang sibuk dengan Dafi, seketika menatapku. “Oh, klilipan, Kak!” ujarku berbohong. “Kok bisa, Yah? Kan ngga ada debu. Ngga ada angin. Biasanya klilipan kalau ada debu yang tertiup angin, trus masuk ke mata…” ujar Dafa lagi. Matanya menatapku lekat yang masih berusaha mencari alasan. Ya Tuhan, anak umur tiga tahun saja ngerti kebohonganku. Bagaimana dengan Namira? Apakah aku saja yang bodoh, yang menganggap semua orang bodoh? Aku mencuri pandang pada Namira. Wanita ibu dari anak-anakku itu terdiam menatapku. Dafi juga menghentikan celotehannya. "Ayah ke kamar mandi dulu," ucapku saat menyadari suasana menjadi aneh. -- “Jan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD