Bertemu Pacar

1262 Words
“De! Kamu lihat apa, sih!” bentak Klara yang mengetahui sorot mata pacarnya tak fokus pada dirinya. Ketika Klara ingin menoleh ke belakang untuk memastikan ada apa di sana hingga membuat Deryl melebarkan mata, lelaki di hadapannya kembali tersadar dan segera meraih tangan mulus milik Klara. Tentu, Deryl tak ingin kalau Klara tahu ada Afsana juga di tempat itu. “Nggak, Sayang. Bukan apa-apa. Tadi aku hanya melihat orang yang agak aneh saja, tapi dia sudah pergi. Kamu mencarinya pun, dia sudah nggak ada.” Ya, hanya alasan agar Klara tak menoleh ke belakang. Meski sebenarnya, wajah Afsana tak akan kelihatan karena posisinya memunggungi tempat duduk mereka. Hanya berhati-hati demi kedamaian dunia. Wanita berparas cantik yang memakai crop top berwarna putih dipadukan dengan hot pants warna senada membuat Klara tampak begitu mempesona. Tentu, tampak begitu indah di mata para kaum lelaki. Berbanding terbalik dengan Afsana yang serba tertutup. Pakaiannya saja over size. Celana yang dipakai pun kulot yang tak ketat di kaki. Kerudung tentu menutupi rambut yang sempat membuat Deryl berdebar di kala pagi menyapa ketika tak segaja melihatnya sebab kerudung telah lepas dari tempatnya. “Kalau lagi diajak ngomong, fokus dong! Jangan tambah bikin kesal, kenapa, sih! Nggak tahu apa, kalau aku gelisah ketika kamu menikah sama wanita itu. Kamu ini, beneran cinta sama aku nggak, sih!” Kejengkelan tampak jelas di wajah Klara. Kerutan di kening pun muncul. Alisnya pula sampai hampir bertabrakan. “Aku cinta sama kamu, Sayang! Iya, maaf, kalau aku malah nggak fokus saat berbicara, Sayang. Jangan ngambek terus, dong. Aku mau bertemu sama kamu kan, pengen lihat wajahmu yang tersenyum bahagia. Senyum, dong, Sayang. Senyumanmu itu, kayak obat, loh, Sayang. Bikin aku sembuh karena teramat merindukanmu. Wajahmu yang lagi bahagia juga membuat aku bersemangat hidup. Jangan ngambek terus, dong, Sayang,” pinta Deryl dengan meluncurkan berbagai jurus rayuan. Ia pun menggenggam tangan wanita itu. Meski mulutnya pandai merangkai kata, tetapi di benaknya tak bisa dibohongi. Deryl mempertanyakan siapa orang yang berani duduk di hadapan Afsana. Meski tak ada rasa cinta, bagi Deryl, rasanya tak pantas saja kalau Afsana bertemu dengan lelaki lain apalagi dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Apakah Afsa sengaja menghubungi lelaki itu? Berani banget kalau dia sampai melakukan semua itu. Wanita salihah apaan, masa pergi sama suami sendiri ketemuan sama pria lain. Parah banget! Ketika Klara sedang lengah, Deryl sengaja melirik ke tempat duduk Afsana. Ia mengatai perbuatan istrinya, padahal dirinya sama saja. Apalagi ketika melihat Afsana yang sepertinya fokus berbincang dengan lawan bicaranya tanpa sibuk dengan ponsel, berbanding terbalik ketika sedang berbicara dengan dirinya. Deryl merasa tak adil. Apa-apaan mereka? Kenapa kelihatannya ngobrolnya serius gitu. Apalagi, laki-laki itu kan, pakai sarung dan peci. Apa pantas ngobrol begitu dan hanya berdua sama wanita? Afsana kan, sudah menikah. Deryl menggelengkan kepala pelan. Batinnya sedang berperang dengan apa yang dilihat. Semua dilakukan tentu dengan hati-hati sebab ia tak mau lagi dimarahi oleh Klara. Embusan napas terasa berat. Lama-lama, kesal juga saat melirik ke arah istrinya malah masih ditemani oleh seorang lelaki. Deryl mulai gelisah, tetapi tak ingin diperlihatkan di hadapan Klara. Ia ke tempat ini kan, memang untuk berjumpa dengan kekasih hatinya. Namun, entah, perasaan gelisah itu datang ketika melihat wanita yang baru menjadi istrinya duduk hanya berdua dengan seorang lelaki. *** “Apa kabarmu? Kenapa di sini sendirian? Di mana suamimu?” Pertanyaan dari arah depan dan pemilik suaranya begitu dikenal membuat Afsana mendongak dengan cepat. Sorot mata yang tadinya fokus melihat ponsel, kini telah dialihkan lurus ke depan. Ketika tebakannya benar, Afsana merasa tak percaya. Matanya sempat melebar dengan mulut yang terbuka. Namun, hanya sebentar. Setelah itu, ia membenarkan posisi duduknya agar bisa merasa sedikit lebih nyaman. Suara lelaki itu milik seorang yang sampai saat ini masih mengisi ruangan di hatinya. Antara senang bercampur sedih sebab mengingat saat ini dirinya sudah menjadi istri dari orang lain. Lelaki yang sedang duduk di hadapan Afsana adalah Arsakha. Sebelum menikah, bahkan sampai saat ini, hubungan yang bisa dikatakan sebagai berpacaran belum ada kata putus. Kepergian Arsakha yang mendadak dan sulit dihubungi membuat keduanya bertahan dalam hubungan yang masih sama seperti sebelumnya. “Ma—mas Ar! Kenapa ada di sini?” Afsana tentu sangat gugup. Jantungnya berdebar dengan tempo yang lebih laju dari sebelumnya. Ia langsung meletakkan ponsel yang digenggam di atas meja. Ia ingin tersenyum karena merasa bahagia, tetapi denyutan nyeri terasa ketika mengingat apa kini statusnya. “Aku di sini karena ada keluarga yang meninggal. Aku harus pulang. Sebenarnya, aku diajak pergi ke acara nikahanmu, tapi aku menolak. Eh, malah aku melihatmu sendirian di sini. Di mana suamimu?” Wajah tampan itu berusaha keras untuk tampak baik-baik saja. Senyum yang diberikan begitu canggung. Afsana menangkap semua itu. Perasaan di dalam dadanya semakin nyeri seperti ditusuk jarum-jarum yang tajam. “Kenapa kamu nggak pernah mengabariku, Mas? Oh, atau mungkin, kamu memang hanya mempermainkan perasaanku.” Entah mengapa, kalimat itu terucap. Afsana ingin melampiaskan rasa sakit yang telah berkumpul di d**a. Padahal, Afsana bisa memahami kalau lelaki yang ada di hadapannya pun merasa kecewa. Ya, kecewa karena telah ditinggal menikah oleh wanita yang punya hubungan dekat dengannya. Afsana hanya teringat lagi tentang perkataan kakaknya Arsakha yang bernama Najwa. Tentang perjodohan yang telah ditentukan untuk Arsakha. “Bukankah kamu yang mempermainkanku? Nyatanya, kamu malah menikah dengan laki-laki lain? Tentang aku yang nggak bisa kasih kabar, begitulah peraturan di sana. Aku juga sudah pernah memberitahumu kan? Tolong, jangan membuatku jadi membencimu.” Sorot mata dialihkan. Arsakha melakukannya seraya membuang napas pelan. Beban di dalam d**a semakin terasa berat hingga rasanya jadi engap. “Atau mungkin, membenciku akan lebih baik. Toh, kemungkinan besar, kamu bukan jodohku.” Afsana ingin bertanya langsung tentang wanita yang akan dijodohkan dengan Arsakha, tetapi ia takut kalau kenyataan yang akan didengar malah semakin menyakiti hatinya. “Karena kamu yang telah mencari gantiku. Kamu yang telah mencari jodohmu sendiri.” Arsakha melihat wajah wanita yang tulus dicintainya itu dengan tatapan sendu. Afsana menggeleng. Matanya mulai terasa panas. Sakit yang dirasa di dalam d**a pun semakin menjadi. Bagaimana lelaki yang dicintainya itu malah mengatakan sesuatu yang semakin menggores perasaannya? “Aku terpaksa menikah sama suamiku. Semua gara-gara utang. Tapi, kami akan bercerai secepatnya karena kami memang nggak saling cinta. Apa seperti itu bisa disebut sebagai mencari jodohku sendiri?” Air mata telah menetes. Afsana tak bisa membendung lagi rasa panas yang terasa di mata. Juga, perasaan sesak yang mendera sesuatu di dalam dadanya. Namun, jemarinya seketika mengusap benda cair itu. “Tapi, meski aku nantinya akan sendiri lagi, nggak mungkin kalau kita akan kembali menyatu kan, Mas Ar? Kamu mungkin bukan jodohku karena kamu sendiri sudah ditentukan jodohnya oleh keluargamu. Dan aku yang bukan siapa-siapa, nggak pantas mendapatkan lelaki sepertimu.” Afsana melanjutkan perkataannya walau menahan kepedihan yang mendalam. Semua telah dikatakan sesuai apa yang diketahui selama ini. “Tahu dari mana kamu semua itu?” tanya Arsakha dengan wajah yang cemas. “Nggak penting dari siapa, yang penting, semua itu adalah kebenaran kan?” Afsana ingin mempertegas segalanya. Arsakha mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya kasar. “Benar, semua itu memang benar. Tapi, aku nggak mencintainya. Aku ini mencintaimu, Afsana. Kalau memang nanti kamu bercerai dari suamimu, aku bersedia menunggumu. Aku serius berhubungan denganmu.” Rasa bahagia datang menyusup. Senyuman pula ingin merekah, tetapi Afsana menahan diri. Apa benar, semua yang dikatakan oleh Arsakha tadi? “Ar! Ayo! Aku tunggu kok malah nggak keluar-keluar!” Seorang lelaki memanggil Arsakha hingga lelaki yang duduk di depan Afsana itu menjawabnya sambil mengangguk, “Iya! Ini mau ke situ, kok.” Arsakha kembali melihat Afsana. “Aku pergi dulu. Ingat kata-kataku. Jaga dirimu.” Arsakha bangkit dan berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD