Dia menatapku dengan mata tajam, menunggu reaksi, dan aku bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara—antara khawatir, lega, dan sesuatu yang lain yang tak bisa aku ungkapkan. Lalu dia menarikku langsung kesan, memesan kamar yang paling bagus dan mahal. Begitu pintu kamar motel tertutup, suasana langsung berubah. Nafas Mas Gilang masih berat, matanya menelanjangiku tanpa malu-malu. Dia menarikku ke pelukannya lagi, kali ini lebih panas. Tubuhku didesak ke dinding, ponsel hampir terjatuh dari genggaman saat bibirnya menyerbu leherku, meninggalkan jejak basah dan hangat. Tangannya meremas pinggangku, naik turun, tak sabar ingin menyentuh lebih banyak. “Aku cari kamu kesemua tempat, sampai rasanya mau gila,” gumamnya kasar di antara ciuman. Aku hanya bisa mendesah, merasakan detak

