Suara itu. Gilang. Aku tak sadar pintu terbuka, ia sudah berdiri di ambang. Aku menggeleng pelan. “Aku panggil dokter.” “Gak perlu, Mas. Aku cuma mau tidur.” Aku berjalan kembali ke ranjang. Melisa masih duduk di sana, menatapku khawatir. “Kness kenapa?” “Mungkin cuma kecapekan karena perjalanan panjang,” jawabku datar. “Lebih baik Mas Gilang dan Kak Melisa balik ke kamar. Aku mau istirahat.” Melisa menatap Gilang sejenak, lalu tersenyum tipis. “Baiklah.” Dia meletakkan mangkuk di meja. “Yuk, Mas.” Aku hanya diam, menatap keduanya berjalan keluar. Begitu pintu tertutup, aku mengembuskan napas panjang dan merebahkan tubuhku. Untuk pertama kalinya, kamar ini terasa benar-benar asing. Pagi menjelang, embun masih menggantung di pepohonan halaman rumah keluarga Santoso. Knessa me

