Kembali terlintas di benakku saat malam itu. Malam di mana dia menyatakan cinta dan menciumku. Ah, sial. Itu membuatku semakin gerogi. Entah mengapa, kejadian itu masih sangat terasa. Rio, kamu itu misterius. Terkadang sikapmu bisa begitu menyebalkan, terkadang bisa begitu manis. Kamu membolak-balikkan perasaanku seakan itu sangat mudah bagimu. Kamu tidak memikirkan bagaimana rasanya jadi aku. Memendam perasaan terlarang di saat aku memiliki Erza. "Rio," panggilku. Rio menoleh. Sejenak aku merasa malu untuk menanyakan ini pada Rio, tapi aku sudah tidak tahan. "Di saat lo mabuk beberapa malam sebelumnya, lo inget sesuatu?" "Sesuatu?" tanya Rio menaikkan alis. Aku mengangguk. "Ya, sesuatu. Kayak apa gitu misalnya." Rio mengingat-ingat. Kemudian menggeleng. "Gue mabuk, jadi gue nggak

