"Ambil itu!" "Yang ini juga!" "Bukan itu, yang sana!" "Bawa sini!" Aku menggeram kesal dan meremas kaleng buah leci ketika si-manusia-batu-bertanduk-dua-itu tidak berhenti menyuruhku mengambil ini dan itu. Bahkan dia tega menyuruhku untuk mengangkat dua keranjang berat, sedangkan dia tidak ingin menggunakan keranjang dorong. Lihat! Wajah menyebalkannya itu menjadi semakin menyebalkan ketika dia memanggil namaku untuk mengambil beberapa macam saus untuk barbeque nanti malam. "Berapa totalnya?" tanya Rio saat kami berdua sudah berada di ujung perjuangan hidup dan mati. Membawa dua tas belanja berat di kedua lenganku. "21 euro, Giovane Maestro," ucap seorang gadis di balik meja kasir. Rio memutar badannya ke samping. Menghadapku. Dia menatapku datar, sedangkan aku membalasnya dengan

