Jam terus berdetik, mengisi malam yang sunyi di meja kami. Semua ini sudah pasti ide Alano dan Tiara. Terlihat dari ekspresi mereka berdua yang antusias. Tak mungkin Rio, karena ekspresinya saja datar bak papan seluncur. Dari dalam jaketnya, Alano merogoh sesuatu sambil menyengir penuh siasat. “Tadaaa!” Perbacco! Aku memasang ekspresi kecut saat melihat benda yang diletakkan Alano ke atas meja. “You must be kidding me,” kata Rio menggeleng-geleng tak setuju. “Nope.” Tiara tersenyum. “Let’s rock this night! Happy birthday to you, Vania!” “Thanks. Ha ... ha.” Aku tertawa kaku sembari melirik botol itu. “Sebuah kejutan yang ... well, luar biasa.” “Tentu, dong!” balas Alano. Dia kemudian memotong-motong daging di atas panggangan. “Tak perlu kujelaskan lagi, kalian pasti tahu what game

