Misterius?

1067 Words
Adhira berjalan menuju sekolahnya, terlihat lebih ramai. Ia juga melihat motor sahabatnya yang sudah terparkir cantik di parkiran. Ia pun segera menuju ke kelas, Adhira tak sabar ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sahabatnya itu. Terima kasih Tuhan, telah mengirimkan orang-orang baik di hidup Adhira. “Hallo eperibadeh,” sapa Adhira dengan mengapit leher kedua sahabatnya. Tak lupa ia memberikan Cipika-cipiki untuk mereka. Renna dan Zella yang tadinya sedang sibuk dengan buku-buku mereka pun terkejut. Tentu saja mereka terkejut, bagaimana tidak, jika leher mereka diapit begitu kencang dan membuat mereka hampir susah untuk bernafas. Sungguh tingkah Dhira ini. “Lep-pass-in b**o, Gue kagak bisa napp-pas,” ucap Renna tercekat-cekat. “Iya Dhhiiir,” imbuh Zella sambil mencoba melepas tangan Dhira dari lehernya. Adhira yang melihat sahabatnya kesakitan karenanya langsung melepaskan tangannya dari leher Renna dan Zella. Mereka pun langsung meraup nafas banyak. Kesal? Tentu saja, tapi mau bagaimana lagi Adhira memang sahabat laknat mereka. “Sorry gaees hehe,” ucap Dhira dengan cengiran khasnya, tak lupa ia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Renna yang terlampau kesal pun menoyor kepala Dhira pelan, mungkin juga efek galaunya semalam belum reda. Sedangkan Zella, ia melihat kantong keresek Dhira dan langsung memrebut daa membukanya. Ia bahkan tak peduli lagi, yang penting permintaannya semalam terpenuhi. “Duuh Reen, jahat amat ih,” ucap Dhira yang tadi mendapat toyoran dari Renna. “Ya Elu gak waras,” ucap Renna ketus. Dhira pun mengelus d**a mendengar perkataan Renna, karakter Renna memang seperti itu kadang absurd dan kadang juga psikopat seperti sekarang ini. Mulutnya juga seperti sambal geprek yang pedas dan panas seperti habis disiram minyak panas, kemenbul. Jika kalian ingin menguji kesabaran kalian, mendaftarlah menjadi teman Renna. Dan kalian akan tahu seberapa sabar kalian hehe. “Iye Ren, Gue kagak waras, gila, segleng, edan. Dah, puas Lo! Sabar banget Gue mah jadi sahabat LO, Allahu Akbar,” ucap Dhira menggebu, “Lha kok jadi Elu yang ngamok Dhir? Kan Gue dong yang seharusnya ngamok. Gak bener nih temen Lo Zell,” ucap Renna sambil geleng-geleng kepala. “Sabar-sabar Dhir, orang sabar jodohnya lebar-“ Dhira berkata dengan meletakkan telapak tangan kanannya di d**a kirinya. Namun, belum selesai ia berbicara, Renna sudah memotong perkataanya. “Annjiiiieerrr jodohnya lebar Zell hahaaha,” ledek Renna kepada Adhura yang tadi salah bicara. “Hahhahaha, gendut dong Dhir,” ucap Zella, kemudian tertawa terbahak-bahak lagi. “Lha diperjelas lagi, hahaaha. Ngakak bet buset Dhiir, duuh,” ucap Renna, Perkataan Renna menambah suasanya gelak tawa yang semakin menjadi. Bahkan murid lain yang mendengar percakapan mereka pun tak kuat menahan tawa. Adhira kesal, namun saat ia pikir-pikir kembali, benar juga jodoh lebar itu artinya jodoh yang? Gendu? Oh tidak. Ia malu campur kesal tapi ia juga merasa lucu dan tertawa bersama mereka. Tak lama bel masuk pun berbunyi, mereka pun kembali ke tempat masing-masing. Kelas Dhira memang termasuk kelas yang nakal, karena setiap harinya ada saja murid dari kelasnya yang membolos di jam pelajaran. Tapi, untuk urusan nilai juga tak bisa diragukan. Juara umum satu, dua, dan tiga selalu berasal dari kelas ini pula. Yaitu Renna, Dhira, dan Zella sebagai urutan. Renna memang lebih unggul dari Dhira di bidang perhitungan seperti fisika misalnya. Namun Renna sering sekali mengalah supaya Dhira mendapat juara satu, karena ia tahu bahwa Ayah dhira selalu menuntut Dhira menjadi yang pertama di bidang apa pun. Sebenarnya Adhira juga mengetahui hal tersebut, dan ia sangat berterima kasih sekali kepada Renna. Ada pun Zella iya tipe murid yang tak suka angka dan tak suka membaca. Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana ia bisa juara tiga? Zella belajar dari mendengarkan Dhira dan Renna saat belajar, Zella lebih suka mendengarkan. Ia berdalil bahwa telinga manusia diciptakan ada dua supaya kita lebih banyak mendengar tidak berbicara. Berfaedah sekali pemikiran Zella ini. Jangan lupakan ingatan Zella yang kuat, bahkan lebih kuat dari ingatan Renna dan Zella yang membaca buku berulang kali. *#* Saat ini Adhira dan kedua sahabatnya sedang berada di cafe yang tak jauh dari sekolahnya. Ya, mereka tak masuk di jam ketiga pelajaran, karena saat ini adalah jadwal membolos mereka bertiga. Di kelas Adhira memang ada jadwal membolos, bahkan jadwal tersebut lebih banyak peminat bacanya dari pada jadwal pelajaran dan jadwal piket. Jadwal itu dibuat juga untuk kemaslahatan bersama begitu ucap ketua kelas mereka, bijak sekali bukan? Hehe. “Malem ini Kalian nginep lagi aja di rumah Gue gimana?” Zella memberi usul kepada Renna dn Dhira. “Gue oke,” jawab Renna tanpa berpikir panjang. Renna pikir akan lebih baik jika menginap di rumah Zella, karena rumahnya juga terlalu sepi untuknya. “Ok, kalo Lo gimana Dhir?” tanya Zella sambil menyeruput minuman yang dipesannya. “Em, Gue sih mau Zell, tapi Bokap Gue yang rese. Gue ga tau bakal diolehin nginep lagi ngga. Tapi ntar Gue coba izin lagi deh,” ucap Dhira “Soalnya Gue pengen hangout bareng kalian, jalan-jalan malem gitu kemana aja deh. Soalnya Gue lagi penat banget, kalo bareng-bareng kan juga lebih serun nan asyik. Gue juga tau kalian pasti penat juga, kebetulan mobil Gue udah dimodifikasi semua. Jadi Gue yakin orang tua Lo ga bakal ngenalin mobil Gue Dhir,” Zella mengutarakan keinginannya. Adhira mengerti perasaan penat Zella, bisa saja penat yang ia rasakan tak ada apa-apanya ketimbang penatnya sahabatnya itu. Baiklah, Adhira akan berusaha untuk mendapat izin dari ayahnya. Kedua sahabatnya selalu ada untuk Adhira, maka ini saatnya Adhiralah yang menemani kedua sahabatnya. Semoga niat baik Adhira ini bisa terwujud. “Iya Zell Gue usahain oke,” ucap Dhira meyakinkan Zella. Makanan pesanan mereka pun sampai, mereka segera menyantapnya. Setelah beberapa menit, mereka telah menyelesaikan makannya. Ketika hendak ke kasir untuk membayar pesanan mereka tadi, mereka terkejut karena ternyata pesanan mereka sudah dibayar. “Maaf Mbak, pesanan atas nama Mbak Zella sudah dibayar semua,” ucap penjaga kasir dengan sopan, ia juga menunjukkan bukti pembayarannya. “Em, orang yang bayarin masih di sini Mbak? Laki-laki atau perempuan?” tanya Renna penasaran. “Laki-laki Mbak, dan orangnya langsung pergi setelah membayar tagihan Mbak tadi,” jawab penjaga kasir itu dengan sopan. “Yaudah Mbak terima kasih banyak.” Ucap Renna sebelum keluar dari cafe. “Iya sama-sama Mbak.” Ucap penjaga kasir dengan menangkupkan kedua telapak tangannya sopan. “Kok atas nama Gue ya?” ucap Zella bingung. “Berarti orangnya kenal sama Lo,” Dhira melihat orang yang sama saat ia temui di sekolah, sepertinya orang tersebut sedang mengawasi Zella sahabatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD