Si Monster, Jason

2383 Words
Selesai kelas, Alice kabur ke unit Violet. Sahabatnya itu mengomel habis-habisan, pasalnya Alice tidak menceritakan apa pun tiba-tiba sudah menikah dengan seorang konglomerat dari keturunan Herbert. "Gimana ceritanya, cepet bilang sama gue. Jangan-jangan lo ngibulin gue, ya?" Violet melipat kedua tangannya ke pinggang, mengindimidasi. Hidup Alice memang penuh kejutan, baru minggu lalu gadis itu mengatakan ingin menikah di usia tiga puluh, saat sudah sukses menjadi model terkenal dengan segala kehebatannya. Lalu sekarang apa? Plot twist yang sangat meresahkan! "Daddy gue terancam bangkrut, dia kalah taruhan judi." "Kok bisa bangkrut, harta bokap lo nggak sedikit, Alice!" Alice mengacak rambutnya frustasi. "Itu dia. Ternyata Daddy udah main judi semenjak nyokap meninggal, Vio. Alasannya karena stress. Dia udah beberapa kali kalah, tapi tetap aja kecanduan. Niat main lagi buat kembaliin modal awal, eh malah punya banyak hutang sama Jason. Yang terakhir kali ini bener-bener di ambang jurang, dia kalah banyak. Kalau Daddy nggak ngasih gue sebagai imbalan, perusahaan kami bakal ditarik dan pindah kekuasaan ke tangan Jason. Daddy bisa dipenjara, gue jadi gembel." Violet mondar-mandir tidak keruan rasa. "Terus gimana cara lo jelasin sama Bang Sammy kalau udah punya suami? Jangan bikin malu gue dong, dia cowok baik-baik. Tau gini, gue nggak bakal comblangin lo ke sepupu gue." "Jangan kasih tau Bang Sammy dulu, gue juga bakal cerai kok sama si om-om itu. Pernikahan gue nggak bakal lama, Vio, gue jamin dia nggak betah hidup sama gue." "Omong kosong. Yang ada itu elo yang nggak bisa lepas dari dia. Lo jangan main-main, Alice, dia bukan orang sembarangan. Polisi aja nggak berani tangkap dia, apalagi elo yang cuman butiran debu." "Lo jangan nakutin gue dong, nggak seru amat. Harusnya lo dukung gue, biar bisa kabur dari Jason. Gue ngeri liat dia, mesumm banget. Gue takut diiket di ranjang, Vio, bisa habis nyawa gue." Alice menggeleng ngeri saat membayangkan perlakuan kasar Jason. Bisa saja pria itu berencana membunuhnya dan kembali mengambil aset daddynya, 'kan? "Makanya lo jangan cari gara-gara, turutin aja apa yang dia mau." "Lo bercanda? Ogah gue!" "Nggak ada pilihan lain. Mau berontak juga percuma, dia lebih kasar dan punya banyk kekuasaan daripada lo. Ambil hatinya, buat dia jatuh cinta sama lo." "Ide gilaa! Orang kayak Jason nggak gampang jatuh cinta, mungkin malah nggak ada perasaan. Liat aja dari cara dia menindas orang selama ini, kayak ibliss." "Hidup lo penuh kejutan, Alice. Siapa suruh sering ngakalin orang. Akhirnya Tuhan hukum lo dengan cara kayak gini." "Yah, yah ... jangan bawa-bawa Tuhan dong. Gue cuman iseng aja, lagian yang gue begoin udah maafin." "Terpaksa, Alice. Mereka nggak berani lo cakar." Alice terkekeh, menaikkan bahu. Dia berbaring gelisah, menutup wajahnya dengan bantal sofa. "Gue nggak siap pulang, gue sembunyi di sini aja deh. Jangan lo kasih tau siapa pun gue di sini, nanti ketahuan Jason. Dia punya banyak antena, sinyalnya di mana-mana." "The Herbert Apartement, jangan lupa kalau gedung pencakar langit ini milik suami lo. Entah apa yang terjadi kalau dia tau lo di sini, bisa-bisa lo diseret tanpa ampun." "Lo emang hobi banget nakutin gue, heran!" Violet memukul kaki Alice, duduk di sisi paling ujung. "Pulang gih, sebelum suami lo ngamuk. Udah tau sifat dia gimana, nggak udah bikin pesakitan. Turutin saran gue, aman hidup lo." "Gue bisa jadi budakk sekss dia kalau nurut kayak anak anjing. Tega lo liat gue digituin?" "Tega nggak tega, harus gue lakuin. Habisnya Daddy lo juga ada-ada aja dah. Tapi emang iya sih, dia agak oleng setelah nyokap lo meninggal, kesian." "Berapa ya utang Daddy sama Jason, kali aja bisa gue cicil setelah jadi model terkenal nanti." "Kekayaan bokap lo berapa? Itu aja nggak sanggup menutupi hutang dia, makanya lo yang jadi sasaran empuk Jason. Lo jual diri seumur hidup aja nggak yakin gue bisa lunas tuh utang. Belum lagi kalau Jason licik, dia bisa menambah dengan bunganya. Hitung aja dari beberapa tahun yang lalu pas nyokap lo meninggal." "s****n emang si Jason. Bisa-bisanya dia sejahat itu." Violet mendorong pelipis Alice, gemas. "Makanya ikuti saran gue, Alice Dominic. Jangan pembangkang, jangan bikin Jason murka. Untung-untung kalau lo langsung dibunuh, kalau diajak menderita sampai tua gimana? Di dunia dapat neraka, di akhirat pun belum tentu masuk surga. Ah elah, gue hiperbola amat. Tapi gue kepikiran aja." Alice beranjak dari sofa, mengangkat kedua tangannya. "Gue migren mikirin nasib gue yang udah jadi muntahan kucing. Nggak bisa diselamatin lagi kayaknya." "Mau apa lo?" "Makan, Vio, laper." "Delivery aja, belum belanja bulanan gue. Cuman ada sosis dalam kulkas." Alice kembali dengan membaca jus jeruk kemasan. "Gue stress, Vio, ke club yuk?" "Nggak mau! Gue takut disandera suami lo. Sekarang gue harus hati-hati mau main sama lo, takut jadi tawanan pengawal dia." Violet meringis seram, tidak ingin ikut masuk ke kandang harimau. "Bukannya lo mau jadi sahabat sehati dan sejiwa sama gue? Jadi istri kedua Jason aja yuk, Vio, biar tinggal bareng gue di kediaman Herbert. Lumayan gue ada temen, kita bisa manfaatin kekayaan Jason sama-sama." Violet menangkup pipi Alice, meniup ubun-ubun gadis itu. "Amit-amit cabang bayi, Alice. Gue ogah banget senasib sama lo dalam urusan satu ini. Serem amat sampai ngajakin gue berbagi suami, emang udah sinting lo ya!" Untung saja Violet sadar dan masih berfungsi akal sehatnya, andai tidak ... terjadi lagi plot twist membagongkan. Alice maupun Violet saling memandang setelah beberapa saat lalu saling diam dan bergelut dengan pemikiran masing-masing. "Siapa yang datang?" tanyanya memegangi tangan Violet. "Jangan bilang Jason ya, gue bisa jantungan!" "Tukang laudry, ini jadwalnya dia ambil pakaian kotor gue. Tunggu di sini lo, nggak usah banyak ulah." Violet mengambil keranjang pakaian kotornya di dapur, lalu membawa ke depan. Namun belum sempat membuka pintu, keranjang itu jatuh dari genggaman Violet. "Astaga ...!" Dia lantas berlari ke ruang televisi, refleks menyuruh Alice sembunyi. "Kenapa?" "Suami lo dan dua pengawalnya di depan. Gue bilang juga apa, mereka bakal nemuin lo meski lo lari ke ujung dunia sekali pun." "Bilangin gue nggak ada di sini!" "Kalau ketahuan gue nggak bakal tanggung jawab, habis riwayat lo." "Makanya pinter-pinter memanipulasi. Santai, jangan tegang. Pura-pura b**o aja bilang kalau kita misah habis kelas tadi." Violet mengangguk, Alice langsung berlari ke kamar sang empu unit di lantai atas, bersembunyi di dalam lemari. Takutnya Jason juga nekat mengecek kamar, 'kan? Sebelum pintu dia buka, Violet berdehem sebentar sembari mengatur napas. "Apes banget hidup gue, Alice!" Dia berdecak, cepat-cepat menyembunyikan sepatu Alice ke dalam lemari. "Eh, siapa ya? A-aku pikir tukang laundry." Violet berusaha mengulas senyum ramah, meski sebenarnya ingin sekali kabur. Tuhan, dia seperti berhadapan dengan malaikat maut! Seorang pengawal berbisik pada Jason, kemudian pria itu mengangguk. Rupanya kebohongan Violet sudah tercium dari gelagatnya. "Hai, Violet. Bisa panggilkan Alice? Saya ingin menjemput dia pulang." Dalam hati, Jason menggerutu kesal. Suaranya terdengar menggelikan. Tidak pernah dia bicara selembut ini selain pada mendiang ibunya dulu. "A-apa? A-alice nggak ada di sini, kami berpisah setelah kelas." "Panggil dia atau saya jemput sendiri." Violet menggerutu, tapi tetap keuh-keuh menggeleng. "Aku sudah jujur." Jason menatap pengawalnya, segera mereka mengamankan Violet sementara dirinya mendatangi persembunyian Alice. "Hei, Tuan kurang ajar. Nggak sopan banget. Aku nggak rela ya kamu ke kamarku, itu privasi!" Violet ingin mendatangi Jason yang sudah menaiki tangga, tetapi kedua pengawal itu menghalanginya. "Cih, kalian berdua sama brengseknyaa." Dari layar kecil pada jam tangannya, Jason tahu di mana keberadaan Alice. Sejak di luar tadi dia sudah memantau bagaimana gerakan Alice menuju kamar di lantai dua, gadis itu berlari terburu-buru. Tanda merah menunjukkan jika Alice sedang berada di ruang pakaian, Jason tersenyum miring. Perlahan dia masuk, kemudian berdiri di depan lemari tempat Alice bersembunyi. Akan menyenangkan melihat wajah syok gadis itu saat mengetahui keberadaannya, 'kan? Jason mengetuk pintu lemarinya, persis seperti dua anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Alice yang bersembunyi, Jason yang jaga. Astaga, baru sehari menikah dia sudah direpotkan dengan kelakuan istri kecilnya. Alice berniat memanggil Violet, namun dia urungkan saat mengetahui jika Jasonlah yang berdiri di depan sana. Andai dia punya pintu ajaib menuju wonderland, Alice memilih menghilang dan tersesat di sana saja daripada berhadapan dengan Jason. Sayangnya ini dunia nyata, tidak ada minuman penyusut, tidak ada pula kelinci berompi yang akan membawanya ke dunia lain. "Saya yang masuk ke dalam sana atau kamu yang keluar, Alice?" Cukup lama diam, akhirnya Alicelah yang mengalah. Dia mendesis, memasang wajah masam. "Ngapain? Bisa-bisanya kamu tahu aku ada di sini, aneh!" Jason menyeringai. "Kamu bukan lawan yang sebanding dengan saya." Alice melangkah duluan meninggalkan kamar Violet, lalu mendatangi temannya dengan amarah memuncak. "Kalian apain teman gue, huh?" Dia refleks meninju salah seorang pengawal, berusaha membebaskan Violet yang tangannya dikunci ke belakang. "Sakit jiwa lo berdua!" Pengawal membereskan barang-barang Alice, Jason hanya memerintah melalui tatapan matanya. "Ayo, pulang!" Dia mencekal lengan Alice, tidak memberi kesempatan wanita itu berontak. "Jalan sendiri atau saya gendong kayak karung beras?" Alice mengalah, akhirnya memasuki lift tanpa perlawanan. "Besok ketemu lagi, Vio, maafin gue." Setelah itu pintu lift tertutup rapat, dia menghela kasar. "Kamu ini nggak sopan, Om. Masa masuk kamar orang sembarangan." "Siapa suruh sembunyi di sana?" "Lagian kamu tahu dari mana aku ada di lemari?" Memicing, berusaha mengintimidasi. Jason tidak mengacuhkan, tubuhnya tinggi tegap dan memandang ke depan. Lift terbuka, dia mengenakan kacamata hitamnya, menyuruh Alice melangkah tanpa membuat masalah. Alice menyerah, suaminya ini lebih kejam daripada preman yang pernah dia temui di jalanan waktu itu. *** "Mau apa lagi? Cepatlah mandi, atau mau saya tiduri sekarang juga?" Alice menganga kaget, menggeleng tegas. "N-nggak, aku nggak mau." "Mandi cepat, bersihkan diri kamu. Kenakan baju tidur itu, saya tunggu lima belas menit." Matanya mengarah pada gaun tidur merah mudah berbahan sutra. "Nggak, aku tidur pakai celana panjang dan hoodie aja, ini lagi musim dingin, bisa masuk angin pakai baju seksi kayak gitu." Melihat tatapan maut Jason, Alice bergidik, akhirnya kembali mengalah. "Oke, oke. Astaga. Kamu ini bisa banget nakutin aku, kayak setann!" Pintu kamar mandi tertutup nyaring, Jason memijat pangkal hidung, pusing. Dia memutuskan turun ke bawah, berniat makan malam yang sempat tertunda akibat mengurus seseorang tadi. Tidak sampai lima menit, Alice sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur yang Jason berikan. Dia menuju balkon, lalu melihat ke bawah. "Tingginya, gimana cara kaburnya nih!" gerutunya setengah tidak yakin. Alice mencari kain panjang yang bisa dia sambung hingga beberapa bagian. Hanya cara itu yang bisa dia lakukan untuk kabur, meski agak sedikit berbahaya. Simple, jika jatuh paling Alice mati. Lebih baik meregang nyawa daripada tidur bersama Jason! Cepat-cepat gadis itu mengikatkan kain tersebut ke gagang pintu balkon yang dia rasa paling kokoh, salahnya balkon Jason sendiri tidak menggunakan pembatas teralis. Dia kembali memastikan keadaan di bawah, dirasa aman, Alice mulai melancarkan aksinya secara perlahan. Kain panjang itu sengaja tidak langsung dia julurkan semua, takut ketahuan pengawal yang sedang berkeliling. Setelah susah payah berjuang, penderitaannya belum selesai juga. Ternyata kain itu tidak begitu panjang seperti perkiraan Alice, tidak mungkin juga dia melompat dari ketinggian kira-kira lima meter itu, bisa patah tulang ekornya. "Tahu gitu ditambah aja tadi tali kainnya." Cukup lama bertahan sembari berpikir sejenak, tangan Alice mulai tidak kuat lagi menahan bobotnya. Alhasil dia beneran terjatuh ke bawah. "Ya Tuhan, sakitnya. Hampir aja pingsan!" Menutup mulutnya agar tidak menjerit dan memancing perhatian. "Aws, aws!" ringisnya saat berusaha kabur dari sana. Alice mendengar suara seseorang menuju ke halaman itu, dia bergegas bersembunyi di balik bonsai, mengendap pelan-pelan ke bonsai berikutnya. "s**l, kenapa rumah Jason besar banget sih!" Rupanya pengawal menyadari kain yang menjuntai tinggi dari arah kamar tuannya, secepatnya dia melaporkan hal itu kepada Jason sebelum terlambat. Jam tangan canggih tadi Jason letakkan di dalam laci nakas, makanya dia tidak mengetahui jika Alice kabur dari kamar. "Kerahkan pengawal, jangan sampai dia berhasil melewati gerbang utama!" Jason menyudahi makannya yang sejak tadi belum selesai, dia sambil mengecek berkas dan mempelajarinya untuk persiapan meeting besok siang. Waktunya banyak tersita mengurusi beberapa hal hari ini, termasuk menghadapi kelakuan istri nakalnya. Biasanya Jason tidak berminat melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, tapi kali ini Alice begitu menyulut emosi. Beruntung Jason mengambil jalan keluar menuju pintu rahasia miliknya, ternyata Alice tengah berada di balik bonsai. Gadis itu tengah memastikan situasi sebelum kabur, berdiri dengan posisi membelakangi Jason. Lihat saja kelakuannya, Alice bahkan berniat kabur masih menggunakan pakaian tidur yang dia berikan. Begitu seksi dan menggoda. Mau menjadi santapan orang jahat di tengah jalan, huh? Jason diam sambil mendengarkan gerutuan Alice menyumpahi para pengawal dan dirinya juga. Masih belum sadar jika Jason berada di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di dadaa. "Si Jason s****n, ngapain punya pengawal banyak-banyak. Memangnya harta dia sebanyak apa? Siapa juga yang mau maling ke kandang harimau gini, sama aja cari mati!" Saat Alice akan beranjak, Jason lebih dulu melingkarkan lengan pada pinggangnya. Alice memekik kaget, kemudian berusaha melepaskan diri. "Kamu ini beneran siluman setann, ya? Kok tau mulu aku ada di mana!" Memukul dadaa Jason, berusaha menciptakan jarak meski hasilnya nihil. "Sekarang sudah habis kesabaran saya!" Jason mengangkat Alice seperti karung beras, membawanya ke dalam tanpa memedulikan teriakan gadis itu meminta tolong maupun tatapan kaget para pengawalnya. "Bibi Pet, tolong aku. Ya Tuhan, pria ini lagi kesurupan." Alice berusaha berpegangan pada tangga, nyatanya tenaga Jason lebih kuat. Sesampainya di kamar, Jason melempar Alice ke ranjang, memenjarakan gadis itu hingga dia tidak bisa pergi ke mana pun. "Jason, maaf, maaf. Jangan kayak gini, kita bisa baikan. A-aku tadi cuman mau ngajakin kamu main petak umpet lagi, suer!" Alice berusaha menghindar saat Jason akan meraih bibirnya, alhasil hanya mendarat di pipi. "Jangan kayak gini, pliss! A-aku takut, Jason, a-aku belum siap." "Saya sudah berusaha baik sama kamu, Alice. Saya bukan malaikat yang punya banyak kesabaran, jangan menguji saya!" Alice mengangguk paham, menahan dadaa Jason agar tidak melakukan sesuatu yang sejak tadi menghantuinya. "A-aku mau pipiss, Jason. Tunggu aku buang air dulu, k-kaki aku juga kotor. Nanti kasur kamu banyak kuman." "Persetann, Alice, kamu pikir saya peduli?!" Jason berdiri, melepaskan kancing kemejanya satu persatu sembari menatap Alice yang tidak bisa berbuat apa-apa. "Silakan kabur lagi, kalau kamu berani." "A-aku mau ke kamar mandi dulu, a-aku nggak bohong. Aku jujur, ini udah kebelet." Saat dirasa Jason tidak menghalangi jalannya, Alice segera berlari dan mengunci pintu kamar mandi. Napas memburu, lalu tubuhnya ambruk ke lantai saking lemasnya. "Saya bisa membuka pintu ini kapan aja, Alice. Jangan coba membuat saya marah sekali lagi." "I-iya, iya. Sabar, aku sekalian berakk dulu. Kebiasaan kalo lagi takut, bawaannya mules." Jason mengusap wajah, kepalanya pusing sekali. Kenapa dia harus memiliki istri serepot Alice? Bukannya membuka jalan menuju kemudahan, malah memperumit keadaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD