Alana merutuki kebodohannya ketika pikirannya kembali memutar kejadian beberapa jam yang lalu, dimana Lucas yang hampir saja menciumnya jika saja Cila tidak tiba-tiba datang. Alana kembali merasakan pipinya seperti terbakar. Ia buru-buru menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sambil guling-guling tidak jelas di atas kasur. Ting! Alana meraih ponsel yang berada tak jauh darinya. Lucas: Yang. Alana tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Lucas. Alana: Kenapa, Cas? Lucas: Sayang dong, jangan Cas. Jari Alana gemetaran ketika akan mengetik kata sakral tersebut. Alana: Iya. Kenapa, Yang? Lucas: Lo lagi dimana? Alana: Di rumah. Kenapa? Mau ngajak jalan? Lucas: Ko pede banget? Ala

