SEPULUH.

864 Words
Mentari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dia menatap langit-langit kamarnya. Kenapa mereka harus bertemu lagi. Dia tersenyum kecut, saat mengingat kata-kata pria itu. maaf katanya, bukanya sudah sangat terlambat untuk di ucapkan. Sekarang Mentari sudah tidak butuh kata maaf itu lagi. Mau seribu maaf pun yang pria itu ucapkan. Tidak akan menghilangkan sakit hati yang Mentari rasakan selama ini. Mentari memejam kan matanya rasanya sangat lelah, tidak mau mengingatnya lagi. *** Mentari baru saja menyelesaikan kuliahnya, hari ini badanya sangat lesu bahkan pagi tadi dia malas untuk pergi kuliah. Sudah berkali-kali dia menghembukan napas lelah. Mentari benar-benar tidak semangat untuk menjalankan aktivitas nya hari ini. "Ikut gue.." ucap seseorang dan langsung menarik tangan Mentari begitu saja. "Lah mau kemana kak.." ujar Mentari kaget. Saat Benji tiba-tiba menarik tanganya. Mentari berusaha melepaskan tanganya. "Ih lepasin.." ucapnya, namun percuma tenaga Benji jauh lebih kuat darinya. Yang ada tanganya jadi tambah sakit karena Benji semakin kuat mencengkram tangan Mentari. Benji tak peduli dia terus menarik tangan Mentari, bahkan semua orang melihat ke arah mereka sekarang. "Ni orang udah kayak jelangkung aja, datang nggak di jemput, pulang nggak di antar." batin Mentari mengrutu kesal. Setiba di parkiran Benji langsung memasukan Mentari kedalam mobilnya. "Ih kak kita mau kemana?" Tanya Mentari saat Benji sudah memasuki mobil. "Diam." ucap Benji dengan nada mengancam, lalu dia melajukan mobilnya. Mentari menelan ludah susah payah, kenapa semakin lama nggak ketemu, Benji semakin serem aja. Akhirnya dia memilih diam takut kalau Benji semakin marah. Hari ini rasanya hari Mentari semakin buruk saja. Mentari mengerutkan keningnya saat mobil yamg dia tumpangi berhenti di salah satu banguna tinggi. "Ini kan apartemen, kenapa Benji membawanya kesini?" batin Mentari bertanya. "Ayo turun" ajak Benji dengan keluar dari mobil. Nggak dia nggak akan turun, Mentari tetap diam di tempatnya. Mentari takut Benji mau berbuat yang tidak-tidak. Benji memicingkan matanya saat melihat Mentari tak kunjung turun, dia berjalan ke arah pintu penumpang. Lalu membuka pintu dengan kasar. "Turun gue bilang, lo budek." ujar Benji kesal, saat melihat Mentari tetap duduk di tempat nya. Mentari tetep kekeh, dia terus menatap kedepan tidak mau melihat ke arah Benji. "Aku nggak mau turun, lagian ini apartemen siapa?" Tanyanya. "Kata lo mau ke rumah gue kemaren" "Hah kapan?" Kagetnya dengan menoleh ke arah Benji. Kapan Mentari bilang mau ke rumah Benji. "Ck udah nggak usah banyak nanya, sekarang turun" ujar Benji mulai kesal. "Nggak, nggak mau pokoknya, aku nggak ada bil...." Ucapan mentari terpotong oleh Benji yang menggendongnya di pundak seperti karung beras. Dia memegang kacamatanya yang hampir jatuh, untung ketangkep. "Ih turunin..." teriak Mentari dengan memukul punggung Benji. "Lama tau nggak lo.." ucap Benji sinis. Tanpa menurun kan Mentari. Huh huh huh Napas Mentari tersengal dia capek teriak. Semua orang menatap ke arah mereka sekarang, membuat Mentari malu, sementara Benji terus berjalan dengan santainya. "Apa-apaan sih, gendong orang sembarangan.." protes Mentari saat Benji sudah menurunkanya di dalam apartemen pria itu. Benji tak peduli, dia meninggakan Mentari begitu saja masuk ke dalam kamarnya. Mentari menghembuskan napas lelah, percuma bicara sama Benji. Benji tidak akan mendengarkan ucapan Mentari. Dia mendudukan dirinya di salah satu sofa yang ada di sana. Matanya menatap ke sekeliling apartemen Benji, bagus dan mewah dua kata itu yang mewakilkan semuanya. Benji sepertinya benar-benar kaya. Dia melihat ada satu foto berukuran besar yang tergantung di dinding, itu foto seorang anak kecil dan seorang perempuan mereka sedang tersenyum lebar. Mentari berjalan mendekat ke arah foto itu. Mentari mengerutkan keningnya saat merasa tak asing dengan perempuan tersebut, dia seperti pernah melihatnya tapi dimana. "Dia ibu gue" Mentari terlonjat kaget, kenapa Benji selalu saja muncul tiba-tiba. "Benar-benar jelangkung" gumanya. "Apa lo bilang?" Ujar Benji. "Ah nggak, nggak papa" Mentari mengibaskan tanganya. "Masak sana, gue laper" suruh Benji. "Apa?" Tanya Mentari, kenapa setiap kali mereka bertemu Benji selalu saja menyuruh Mentari untuk masak. "Ck, kayak nya bukan mata lo yang sakit, tapi kuping lo yang perlu di periksa." ucap Benji. "Tapi tunggu dulu.." ujar Benji dengan mendekat ke arah Mentari. Benji mengibaskan tanganya di depan mata Mentari. "Lo nggak burem gitu ngeliat gue?" Tanyanya heran padahal kan Mentari nggak pakai kacamata. Mentari menjauhkan tangan Benji "Mata aku sehat nggak kenapa-napa" "Lah si b**o, ngapain lo pakek kacamata setebel itu" ejeknya. Nah kan Benji itu memang punya dua kepribadian, kadang galak juga serem, dan sekarang banyak omong dan nyebelin. "Yeh malah bengong udah sana masak. lurus aja, terus belok kiri dapurnya ada di sana" ujar Benji lalu berlalu pergi. Mentari menggelengkan kepalanya heran. Nggak mau ambil pusing dengan tingkah Benji. Dari pertama mereka ketemu Benji memang selalu aneh. Mentari segera pergi kedapur untuk masak. Di ajak kesini cuma di suruh masak. katanya kaya kenapa nggak beli aja, batin nya. dengan berjalan ke dapur seperti arahan Benji tadi. Mentari langsung menuju ke kulkas untuk melihat ada bahan apa saja yang bisa di masak. Seketika dia merasa lesu saat melihat di dalam kulkas hanya ada telur, sisanya hanya minuman kaleng. Cuma masak telur mana kenyang, mana nggak ada beras lagi. "Ini nih katanya orang kaya" grutunya. "Mau masak apa coba, masak air soda? bukanya kenyang yang ada kembung." Mentari terus menggerutu kesal. Dia membuka lemari yang ada di sana, untungnya dia menemukan mie instan Mentari pun segera memasaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD