DUA BELAS.

759 Words
Benji meraih tubuh Mentari ke dalam pelukanya, walau gadis itu terus menolak. "Hiks.. hiks... aku mohon jangan giniin aku" ujar Mentari dengan terus menangis. "Maaf gue nggak tau mau ngomong apa, tapi yang jelas gue serius sama lo gue harap lo bisa buang semua pikiran buruk tentang gue. Karena gue sedikit pun nggak ada niat buat nyakitin lo, dan jangan suruh gue buat jauhin lo" ujar Benji tulus. Mentari terdiam di pelukan Benji dia, masih tak percaya dengan ucapan Benji. Dia menggelengkan kepalanya "Nggak nggak mungkin" ujarnya dengan berusaha mendorong d**a Benji. Benji melepaskan pelukanya lalu dia menangkup kedua pipi mentari. "Terserah lo mau percaya atau enggak, yang pasti gue nggak pernah main-main dengan omongan gue" ujar Benji serius. Mentari melihat kedua mata Benji berusaha mencari kebohongan di sana, namun nihil hanya ada ketulusan yang ada. Nggak dia nggak boleh percaya karena Romi pun juga begitu dulu kepadanya. Dia nggak akan tertipu lagi sekarang. Apalagi dengan pria seperti Benji. "Udah gue bilang jangan pernah nilai orang dari penampilanya, apalagi nyamain gue dengan mantan lo yang berengsek itu" ujar Benji yang mengetahui isi pikiran Mentari. Mentari melebar kan matanya terkejut, bagaimana Benji bisa tau. Benji tersenyum miring " kenapa lo kaget, karena gue tau semua tentang lo" ujar pria itu. Mentari terdiam kaku bagaimana Benji bisa tau. Dia benar-benar penguntit batinya mengatai Benji. "Bagus kalau kakak udah tau, jadi harusnya kakak juga tau kalau aku nggak akan pernah percaya lagi dengan yang namanya cowok" ujar Mentari. Buk.. Benji memukul tembok yang ada di belakang Mentari. Membuat Mentari terlonjat kaget, pria itu menatap Mentari sangat tajam sekarang. "Udah gue bilang jangan samain gue sama dia, atau cowok lainya" bentaknya tepat di depan wajah Mentari. Mentari semakin takut sekarang air matanya terus keluar. "Masuk" suruh Benji yang tak mau semakin menyakiti mentari dengan amarahnya. "Aku mau pulang hiks..." ujar Mentari lirih dengan menunduk takut tidak mau menatap Benji. Benji menghembukan napasnya berusaha meredakan amarahnya. Dia meraih tubuh Mentari lalu menggendongnya. Dengan replek Mentari mengalungkan tanganya ke leher Benji. Dia sudah tidak berani bicara dan hanya bisa pasrah. Benji menidurkan Mentari di ranjangnya, lalu dia juga merebahkan badanya di sebelah gadis itu. Dia meraih tubuh mentari dalam dekapanya, Mentari masih menangis sesegukan. " maaf gue nggak maksud begitu, sekarang lebih baik lo tidur" ujar Benji menenangkan Mentari. Bukanya reda tangis Mentari semakin menjadi. Dia membalikan badanya membelakangi Benji. Benji memeluk Mentari dari belakang dan menenggelamkan wajah nya di leher gadis itu. "Maaf" ucapnya lirih. Namun Mentari diam saja tidak menjawab. Setelah beberapa menit berlalu Benji tak mendengar lagi suara tangis Mentari. Dia membalikan tubuh Mentari, gadis itu sudah tertidur dengan air mata yang masih tersisa di pipinya. Benji menyelipkan rambut Mentari di kupingnya, lalu dia menghapus air mata Mentari dengan ibu jarinya. "Maaf" ucapnya sekali lagi. Dia memandang lekat-lekat wajah Mentari. Membuatnya teringat saat pertama kali melihat gadis ini. Tepatnya satu tahun yang lalu, Benji melihat Mentari yang selalu sendirian, selalu di asing kan dan di bully. Tapi dia tetap tersenyum cerah saat tiba di kampus, secerah namanya Mentari. Mereka juga mempunyai kesamaan sama-sama kesepian. Walau mungkin mereka juga menyukainya. Dari situ Benji mulai tertarik kepada Mentari, tapi waktu itu dia tidak mau untuk mendekati Mentari dulu. Karena dia harus memastikan perasaanya terlebih dulu. Selama setahun dia mencari tau tentang gadis ini, sehingga dia tau tentang Romi mantan kekasih Mentari. Yang membuat gadis nya takut untuk dekat dengan pria lagi. Tapi Benji bertekat untuk meyakinkan Mentari kalau dia sungguh-sungguh. Ini juga pertamakalinya dia mencintai wanita selain ibunya. Cup Benji mengecup kening Mentari lama, lalu mengerat kan pelukanya. Dan menyusul mentari ke alam mimpinya. **** Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela mengusik tidur Mentari. Dia mengucek matanya karena silau rasanya sangat berat untuk membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya dan mulai membuka matanya. Dia mengeliatkan badanya dan merasakan sesuatu yang berat di perutnya. Itu pasti tangan Benji batin nya. Dia membalikan badanya menghadap ke arah pria itu. "Pagi.." ucap Benji serak dengan mata yang masih terpejam. Rupanya dia juga sudah bangun. Mentari tak menjawab sapaan Benji dia segera menyingkirkan tangan pria itu, dan berlalu pergi menuju kamar sebelah. Benji tersenyum simpul melihat tingkah Mentari yang sedang kesal, dia memejamkan matanya lagi untuk lanjut tidur. Biar kan saja nanti pasti Mentari bakal baik lagi. Mentari memutuskan untuk tidak bicara dengan Benji, biarkan saja pria itu kesal lalu melepaskanya. Mentari langsung mengambil bajunya yang kemarin dia pakai, dia mau langsung mandi dan terus pulang. Kalau Benji tidak boleh juga dia akan nangis guling-guling sampai di buka kan pintu. Biar saja kalau di bilang seperti anak kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD