Bab 18 - Tak Terduga Gue yang sedang melangkah dengan santai di belakang Mama, tiba-tiba saja ditarik oleh Beliau yang baru saja putar balik saat menyadari jika orang yang sedang diomelinya sudah tertinggal cukup jauh di belakang. “Kamu tuh ya! Bukannya cepet, malah sengaja jalannya dilama-lamain. Biar apa coba?” “Ya biar ketinggalan lah, Ma.” Mama langsung memelotot garang begitu mendengar jawaban santai yang gue berikan. “Lagian, ngapain sih kita jengukin dia? Kayak enggak ada kerjaan yang lebih penting aja.” Seharusnya gue dan Mama sudah on the way ke apartemennya Bang Raka, bukannya mengunjungi rumah sakit seperti sekarang. “Re, kamu tuh enggak boleh begitu.” Mengabaikan teguran dari Mama, gue kembali bersuara. “Nanti dianya kegeeran, terus—” Mama menarik napas panjang. “Jang

