BRYAN POV Sejujurnya Aku sangat kasihan melihat Reina yang kecewa karna Aku tidak membawanya ke tempat pembuat tatto milikku. Tapi, Aku juga sangat suka melihat wajah cemberutnya. Dia sangat menggemaskan. Aku menarik kembali tangannya dan merangkul erat tubuhku. Reina menyandarkan wajahnya di pundak besar milikku. Selama perjalanan dia tidak membicarakan apapun. Aku sudah sampai di Apartmentku berjalan memasukki lift dan memencet angka 7. Reina masih diam tak bersuara. "Kau kenapa? Kau marah padaku hanya karna sebuah tatto?" Tanya Bryan mencoba menghibur Reina dengan menyenggol pundaknya dan menaikkan satu alisnya lalu tersenyum. Reina hanya menaikkan pundaknya dan tidak menjawabku. Suara lift menandakan kami sudah berada di lantai 7 Apartementku. Aku memasukkan passwordku dan melang

