Dokumen D-18

1116 Words
Keesokkan paginya, tepat satu hari setelah wasiat diumumkan, sesuai dengan undangan yang diterima pada sepucuk surat yang terselip dalam bucket bunga di hari kematian ayahnya, Alira, saat ini sudah berdiri di hadapan pusara mediang ayahnya, menepati janji dengan sang pengirim surat. Matanya sendu menatap batu nisan sang ayah. Kedua tangannya saling melipat di depan d**a, seperti memeluk dirinya sendiri bagaikan perisai. Ia mengenakan gaun kasual sederhana bernuansa pucat. Rambutnya digerai menjuntai melewati bahu. Matahari pagi itu bersinar tipis diantara pepohonan. Langit nampak cerah, memberi kesan hangat dan lembut, seakan-akan memberikan ruang hening bagi Alira. Alira telah tiba lebih awal. Sebetulnya sedikit ragu, karena jadwal pembacaan wasiat kemarin mundur satu hari dari jadwal yang seharusnya jatuh di hari sabtu dan surat undangan yang ia terima untuk pertemuan ini adalah satu hari setelah pengumuman wasiat. Alira sempat khawatir, apakah orang itu tahu jadwal pembacaan wasiat dan juga bila ada perubahan waktu. Namun di hari itu Alira tetap datang karena ia tidak bisa menghubungi balik orang misterius itu. “Selamat pagi non Alira” ucap pria yang tiba-tiba berdiri di belakang Alira. Alira sempat terkejut, seperti mengenali suara itu. Perlahan ia membalikkan badannya. “Pak Tarmo?” “Bapak ngapain ke sini?” Pria paruh baya itu tersenyum tipis “Saya ada janji dengan anak istri ke-5 mediang non” “Jadi…. Pak Tarmo sendiri yang ngirim surat dan bunga itu?” Alira sedikit meninggikan suaranya. “Hehe…iya non, saya pelakunya” Pak Tarmo sambil mengusap tengkuknya. Alira menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya kegelisahannya sedikit berkurang. Orang misterius yang mengajaknya bertemu ternyata adalah orang yang sangat ia kenal. “Kenapa harus sampai seperti ini pak? dan kenapa harus di tempat ini?” tanya Alira. “Karena di rumah tidak ada tempat aman non. Mediang sudah mewanti-wanti agar dokumen ini sampai kepada non Alira tanpa ada yang tahu dan hanya tempat ini yang paling mudah untuk membuat janji dengan komunikasi kita yang terbatas” Pak Tarmo tanpa banyak basa-basi kemudian mengeluarkan map plastik transparan yang ia selipkan pada saku jaketnya di bagian dalam dan menyerahkannya pada Alira. Dari luar, terlihat isi map plastik itu adalah amplop coklat tersegel. Alira segera mengambilnya dari pak Tarmo. “Jagalah baik-baik dokumen ini non. Jangan sampai ada satu pun orang yang tahu, sekalipun orang itu non percaya” “Terkadang jika kita sudah dekat dengan saudara kita, kita memang nyaman untuk bercerita dan akrab” ujar pak Tarmo satir. “Uhuk… uhuk” Alira terbatuk merasa Pak Tarmo sedang menyindirnya dengan Raka. Padahal memang iya. Pak Tarmo sedang menyindir Alira dan Raka yang kebetulan momennya pas. “Maksud Pak Tarmo?” “Yaaaah…..kalo kita sudah percaya sama orang, kita kan jadi nyaman bercerita non. Nah, untuk dokumen rahasia ini, jangan sampai ada satu kepala pun yang tahu. Ini pesan almarhum non.” “Kebetulan saat ini kita sedang berada tepat di hadapan pusara almarhum. Jadi penuhilah janji anda” Alira menelan ludah singkat dan berusaha mengendalikan situasi. “Iya Pak Tarmo, saya akan berusaha menjaga amanah ini” Pak Tarmo menganggukkan kepalanya tanda iya percaya ucapan Alira. Kemudian, Pak Tarmo bersuara “Saya pun tidak tahu apa isi dari dokumen itu non. Saya hanya menjalankan amanah dari beliau” “Jadi, pak Tarmo nggak tahu sama sekali rahasia papa?” Pak Tarmo menggelengkan kepalanya “Beliau tidak sembarang mengumbar rahasianya termasuk pada orang yang sangat ia percayai dan beliau sangat presisi” Alira mencoba bertanya “Tapi kenapa harus saya pak?” “Mungkin non Alira akan tahu setelah membaca dokumen itu. Maaf non, saya hanya perantara saja” “Nanti setelah non Alira membaca isi dokumen itu, jangan katakan pada saya sedikitpun perihal isinya” Alira mengernyit. Pak Tarmo seperti menambahkan “Karena apabila non Alira memberitahu saya, itu sama saja anda sudah memberitahu pada pihak lain dan melanggar janji anda dengan ayah anda” “Baik pak, saya akan berusaha menepati janji saya” Tutup Alira. “Saya percaya non Alira. Sama seperti beliau yang mempercayakan semua ini pada non Alira” Alira tersenyum getir. Untuk beberapa saat mereka memandang pusara dan berdoa untuk mediang dengan khidmat. Pertemuan itu akhirnya ditutup. Alira pergi menuju toko dessertnya, Pak Tarmo kembali ke kediaman utama. Keduanya sama-sama menggunakan transportasi umum. *** Sepanjang perjalanan menuju toko dessertnya menggunakan taksi, Alira memandangi sisi kiri jalan. Perasaannya sedikit gelisah dan diliputi rasa penasaran dengan isi dokumen yang baru saja ia terima. Setibanya di toko, ia disambut oleh beberapa karyawannya. “Pagi mbak Alira” Sapa beberapa karyawannya secara bersamaan. “Pagi semua” Alira menyahuti mereka dengan senyuman ramahnya. “Wah masih jam segini, udah rame aja ya” tambahnya. Salah satu karyawan menjawab “Iya mbak, mereka lagi seneng-senengnya sama varian yang baru” Alira tersenyum melihat pengunjung toko dessert nya dan karyawannya. “Ya udah kalau gitu saya ke ruangan dulu ya” “Silakan mbak” jawab salah satu karyawannya. Alira bergegas berjalan masuk ke ruangannya yang memang tidak besar. Ada meja dan kursi kerja, kursi tamu dan sofa kecil dengan sentuhan interior minimalis khas anak muda. Cukup nyaman bagi Alira untuk mengatur dan memantau bisnisnya. Alira, usianya saat ini masih muda, 21 tahun. Bisnis dessertnya ia bangun sejak satu tahun lalu dan dimodalkan oleh mediang ayahnya, sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 20 tahun. Alira memang tidak tertarik untuk berkontribusi aktif dalam perusahaan seperti kakak-kakak tirinya kelak. Ia ingin membangun usahanya sendiri, terlebih ia memang ingin mengeksplorasi hobinya dalam membuat dessert. Saat ini, ia tengah memasuki semester akhir bangku kuliah di salah satu kampus bisnis swasta terkemuka di dalam negri. Sesampainya di dalam ruang kerjanya, ia segera mengunci pintu ruangan. Ia letakkan tas nya pada meja kerjanya. Diambilnya map plastik dari dalam tas. Dengan tenang, sambil menarik nafas dalam, ia membuka penutup map plastik itu, walau tangannya tetap bergetar. Dikeluarkannya amplop coklat yang berada di dalamnya. Sejenak ia terpaku menatap amplop itu dengan seksama. Di bagian depan amplop tertulis “Dokumen D-18” dengan ciri khas tulisan tangan menggunakan spidol hitam. Hurufnya besar-besar, seakan menegaskan kerahasiaan dokumen itu. Perlahan ia membuka segel amplop tersebut dengan hati-hati, lalu duduk di kursi kerjanya. Di dalamnya terdapat selembar surat, kotak kecil yang berisi 2 kunci ruangan dan 1 USB kecil. Wajahnya mengernyit kebingungan Ketika melihat kunci dan usb itu. Ia mulai membaca isi dokumen itu dengan penuh konsentrasi. Huruf demi huruf ia baca dengan perlahan seolah tidak ingin sampai salah membaca. Dahinya berkerut. Beberapa kali menelan ludah cukup berat. Tangannya bergetar hebat. Selesai membaca isi dokumen itu, tubuhnya bersandar pada kursi, mencoba meredakan detak jantungnya. Matanya menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong. Pah, kenapa papa memberikan semua ini untuk Alira? Darimana Alira harus memulai memecahkan semuanya pah? Hatinya bertanya-tanya kepada mediang ayahnya. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD