Battle.

1336 Words

  Suara gedebuk yang cukup keras --lebih tepatnya seperti orang terjatuh menarik kami dari moment romantis. Aku khawatir jika ada sesuatu yang jatuh di penthouse Jaret. Pikiran konyol itu segera aku tepis saat menyadari betapa tinggi lantai penthouse Jaret berada. Namun ekspresi Jaret mengatakan jika semua pemikiranku salah.   "Aku akan melihatnya, " wajah Jaret mengeras. Dia seolah tau suara apa yang tadi terdengar. Aku mengangguk, tapi tidak bisa mengalihkan pandanganku dari pantatnya yang basah dan terbalut celana renang. Memandangnya seperti sebuah dosa, dosa yang dengan senang hati aku terobos.   Dia mengambil bathrobe yang tergantung rapi dan memakainya. Benda itu berhasil menyadarkan mataku hingga ingat untuk berkedip.   Serta merta aku mengambil bathrobe dan mengikuti Jaret.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD