"Mau makan sesuatu, Jess?" Emily menyenderkan tubuhnya pada sofa empuk sembari menatap Jesse yang tampak santai pada posisinya.
"Gak usah repot-repot, gue cuma mau spaghetti with meat sauce, sama jus stroberi ya." Jesse memesan dan menatap maids di rumah Emily tanpa rasa bersalah sama sekali. "Oh iya, jangan kasih s**u dijus stroberinya, nanti gue gak bisa minum."
"Baik, Tuan." Maids itu mengangguk sejenak tanda ia mengerti sebelum kemudian ia permisi undur diri dari ruang tamu untuk membuat pesanan Jesse. Emily menatap Jesse dengan pandangan takjub, tak menyangka bahwa lelaki itu ternyata tak punya malu. Dan herannya lagi, Emily sesungguhnya terkejut saat tahu kalau Jesse memintanya mengajari tentang pelarajan.
"Gue gak nyangka kalo lo beneran mau belajar," ucap Emily sembari membuka buku cetaknya. "Gue pikir, lo tipe orang yang free, seakan gak punya beban hidup. Gue pikir, nilai anjlok bukan masalah besar buat lo."
Jesse meringis, “Gue gak pernah masalahin nilai sebenernya." Jesse mengedikkan bahu. "Tapi, bokap gue keras. Kalo sampe ortu gue dipanggil karena nilai gue jeblok, nanti mobil gue bisa disita."
"Segitunya?" Emily menaikan alisnya tertarik. "Tapi, kita baru kenal tadi pagi, lho. Gue gak sangka lo beneran mau nganterin buku sama belajar bareng gue."
"Gue ... gak tau harus minta bantuan siapa lagi." Jesse menghela napas. "Cuma lo orang terpinter yang gue kenal. Dan kita sudah sekelas lebih dari satu bulan, itu berarti kita udah kenal lama, bukan dari tadi pagi," koreksi Jesse.
"Ya, ya." Emily hanya mengangguk-angguk, “Btw, lo gak ngerti di bagian mana?"
Jesse mendekat ke arah Emily dan mengambil buku cetak tebal milik gadis itu. Alisnya bertaut menjadi satu saat ia melihat rumus-rumus asing yang sama sekali tidak ia ketahui fungsinya.
"Gue gak ngerti semua."
Emily menghela napas, “Emang lo gak pernah perhatiin ya kalo guru jelasin?"
"Gak." Jesse kembali mengedikkan bahunya pasrah. "Perhatiin gak perhatiin, apa bedanya? Ujung-ujungnya gue tetep gak ngerti."
Emily kembali menghela napas, “Mudah nyerah banget."
"Siapa? Gue?" Jesse menunjuk dirinya sendiri. "Gue cuma capek perhatiin guru mulu, di saat gue gak ngerti apa-apa." Jesse memutar-mutar penanya sembari menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Btw, gue mau nanya," sambung Jesse.
"Tanya apa?" Emily masih fokus memperhatikan buku cetaknya tanpa tertarik untuk menatapi Jesse.
"Lo deket sama Tyler?" tanya Jesse sembari memperhatikan reaksi Emily. "Gue lihat di IG, dia like semua foto lo."
"Jadi lo nge-stalk akun gue?"
Jesse membulatkan matanya sempurna seraya menggeleng cepat, “Enggak! Gue gak sengaja aja lihat!" seru Jesse.
Emily terkekeh geli saat melihat responss Jesse yang rada berlebihan, “Santai aja kali, gue cuma nanya, bukan nuduh," balasnya.
Jesse mendengus, “Jadi bener lo deket dengan dia?"
"Apa urusannya sama lo?" balas Emily.
Jesse mengernyit kesal, “Gak ada sih. Dia kan sahabat gue, jadi gue pengen tahu aja."
"Oh." Emily mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat kemudian, maids di rumah Emily datang sambil membawakan jus stroberi yang suda diblender. "Silakan, Tuan."
Jesse tersenyum tipis, sangat tipis sampai wajahnya tampak tidak berubah jika tidak diperhatikan dengan seksama. "Terima kasih."
Emily hanya bisa mendengus geli saat Jesse tampak menikmati jusnya. Lelaki itu bersikap santai sekali seakan mereka adalah teman dekat yang sudah akrab lama. Padahal nyatanya, mereka baru saja mulai mengenal satu sama lain. "Tadi pagi, Tyler tiba-tiba bilang sama gue gini, 'Lo naksir gue gak?'"
"Pft!" Jesse hampir saja memuncratkan jusnya saat mendengar cerita Emily, membuat sweater yang dikenakan lelaki itu terciptrat stoberi di mana-mana. Ia meletakkan jusnya kembali ke meja dan mengelap mulut serta sweaternya dengan tissue.
"Ceroboh banget," gerutu Emily.
"Dia bilang gitu ke elo? Seriously?" tanya Jesse terkejut.
Emily mengangguk, “Iya. Btw, kapan kita belajarnya kalo gini?" gerutu Emily lagi. "Kalo lo masih penasaran soal Tyler, lo bisa tanya ke dia aja ya."
Jesse hanya bisa mengangguk meskipun ia masih kebinggungan.
Tyler? Menyukai Emily si kacamata? Yang benar saja?!
Jesse tahu betul kalau selama ini Tyler lebih menyukai wanita dewasa yang tidak ketergantungan pada ikatan. Lelaki itu adalah lelaki yang bebas, sama seperti Jesse yang cinta kebebasan. Hanya bedanya, Jesse sama sekali tak percaya dengan kata cinta. Itu omong kosong. Bagi Jesse, cinta itu hanya bentuk atau kata lain dari rasa ingin memiliki. Dan rasa ingin memiliki itu sebenarnya adalah obsesi, jadi bagi Jesse ... cinta itu hanyalah kata-kata manis yang digunakan untuk menutupi maksud lain di dalamnya.
"Jesse, gue tanya ... kapan kita belajarnya kalau gini terus?" Emily melirik jam di ponselnya. "Sudah hampir jam 10, gue ngantuk."
"Ntar, abis gue makan, ya," jawab Jesse tanpa rasa bersalah. "Soalnya, otak gue gak bisa mikir kalo lagi laper."
"Bilang aja memang gak ngerti sama sekali," cibir Emily.
Jesse mengangguk, “Tuh tahu."
**
Pagi yang cerah sudah dimulai lagi. Semua orang sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, termasuk semua murid di kelas XI MIPA 2. Jesse memasuki kelas dengan mata yang hampir terpejam karena mengantuk. Well, semalam Jesse dan Emily belajar sampai jam 1 malam, dan itu pun Emily sudah hampir tertidur karena tak tahan lagi dengan kantuk yang menyerangnya.
"Mata lo kek panda." Jessse meletakan tasnya dan duduk di samping Emily. "Sorry, gue buat lo begadang semalem."
Emily menguap sembari menutup mulutnya, sebelum ia menoleh ke arah Jesse dan mengangguk, “Gue juga belajar kok sambil ngajarin lo. Jadi, it's okay."
Jesse mengangguk dan kemudian lelaki itu hendak mengeluarkan headsetnya. Ia meringis saat tangannya terasa perih karena pukulan seseorang.
"Woy! Chat gue semalem gak dibales!" Mikael merengut. "Padahal semalem banyak banget cewek seksi di club, rugi banget lo gak ikut."
"Gue sibuk." Jesse meringis sembari mengelus tangannya yang memerah, karena pukulan Mikael.
"Yaila, sok sibuk lo anying. Lo langsung tidur ya habis gue sama Tyler pergi semalem?" tebak Mikael. "Atau, jangan-jangan lo bohong sama kita dan lo nge-date sama cewek?!"
"Apaan sih." Jesse memutar bola matanya. "Gue belajar fisika semalem. Hari ini ada ujiannya."
"HAH? HARI INI UJIAN FISIKA?" Mikael membulatkan matanya sempurna sembari memandang Jesse terkejut.
Jesse mengangguk, “Gak tau kan lo? Mangkanya, punya otak jangan digunain untuk mikirin clubbing doang, belajar dong!"
"Elah, bacot lo anjing." Mikael mendengus. "Tapi, kok lo tahu sih hari ini ujian? Biasanya lo 'kan senasib sama gue. Apalagi semalem lo nyantai-nyantai aja, tuh."
"Tahulah, gue kan gak males kayak lo." Jesse menyombongkan diri lagi.
Mikael menghela napas sembari mengelus dadanya, “Dosa apa gue punya temen kek lo. Udah b**o, banyak bacot lagi." Lelaki berambut cokelat itu menggerutu.
"Eh, ngajak berantem lagi lo? Dasar si b**o yang gak tahu diri," tukas Jesse.
Mikael hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala. Ia sedang tidak dalam mood untuk berdebat dengan Jesse karena perdebatan mereka pasti akan panjang dan tidak ada akhirnya. Pandangan Mikael teralih pada Emily yang tampak lesu di sebelah Jesse. "Btw, hai Emily. Gue Mikael Chandra, salam kenal."
Mikael menggeser tubuhnya dan mendekati Emily sembari tersenyum. Sedangkan Emily hanya membalas ungkapan Mikael dengan senyum tipis.
"Emily."
Mikael mengangguk, “Gue tahu nama lo kok. Tapi, lo kok keknya pucet ya, Em? Lo sakit?"
"Idih, perhatian," sindir Jesse. "Entar yang di sekolah lain jealous oi. Eh, lupa, pacar lo kan banyak ya Kel? Bukan cuma Helena."
Mikael mengernyit, “Sewot aja sih, anaknya Ryan! Gue serius tahu, muka Emily pucet banget kek kapas, sumpah."
Jesse mengalihkan pandangannya kepada Emily dan membenarkan ucapan Mikael saat melihat wajah gadis itu tiba-tiba memucat. Padahal tadi wajah Emily masih tampak normal sebelum Mikael datang.
"Em, lo sakit gara-gara begadang sama gue semalem, ya?"
Mikael membulatkan matanya lagi, “Eh buset, kalian ngapain? Main bareng ya?"
"Otak lo udah terkontaminasi sama Gerald dan Sam ya?" Jesse menoel kepala Mikael. "Gue semalem ke rumah Emily gara-gara barangnya kebawa. Terus, gue minta dia ajarin fisika."
"Oh, pantes aja lo tahu hari ini ujian." Mikael mangut-mangut. "Btw, Jess, keknya taruhan ini gue deh yang menang. Siap-siap ngabulin tiga permintaan gue, ya!" bisik Mikael.
"Pede bener," balas Jesse malas. Kemudian pandangannya kembali teralih pada Emily. "Gue serius Em, lo gak mau ke UKS?"
Emily menggeleng pelan, tanda bahwa ia tetap ingin mengikuti pelajaran.
"No, i'm fine, Jesse."
**