Dinner Mate 16

1788 Words

Dia... Dia yang datang ternyata bukan yang Sano harapkan, tapi dia yang datang adalah tamu tak terduga. Mendadak tangan Sano yang berada di bawah meja terkepal kuat. Bagaimana bisa seorang yang tidak ingin dia lihat sekarang ada di depannya. "Terima kasih karena telah mengizinkan saya masuk, Dokter," ucapnya tersenyum manis. Dulu, dulu sekali senyum itu adalah senyum termanis dan paling indah di dunia bagi Sano. Namun sekarang kebalikannya, senyum itu bagaikan racun yang paling mematikan di seluruh dunia. Yang bisa membuat siapa saja seperti terjatuh terpelosok jauh sekali ke dalam jurang. "Boleh saya duduk?" "Kalau kamu mau konsultasi, silahkan duduk. Tapi maaf, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Karena saya ada keperluan di luar," ucap Sano, tidak mau menatap orang itu, berpur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD