Dinner Mate : 5

2007 Words
*** Setelah Anne membersihkan tubuhnya. Saat ini dia sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk ke bawah. Rasanya baru kemarin dia datang ke Bali dengan perasaan yang bahagia. Tapi ternyata hanya sementara, atau sama sekali tidak bahagia. Bagaimana bisa orang yang dia bela-belain datang malah berbuat seperti itu. Bagi Anne tidak ada hari yang buruk, selain hari ini. Anne menoleh ke setelah mendengar suara nada dering teleponnya yang berada di atas nakas. Dia beringsut untuk mengambil ponselnya. Anne mendesah pelan melihat nama Bora, sang sahabat yang ada di layar ponselnya. >> Hallo Bor. Kenapa? Anne bertanya setelah mengangkat panggilan dari sang sahabat. Di sana Bora menghembuskan napas lega. Syukurlah Anne mengangkat telponnya, setelah beberapa kali dia menelpon Anne. Pikir Bora. > Kenapa lo baru angkat telepon gue? Anne tersenyum kecut. Jangankan ingat telepon atau menelpon sang sahabat. Dirinya saja hampir bunuh diri kalau tidak ada orang datang menolong. > Ne ... Panggil Bora karena Anne tidak menjawab pertanyaannya, malah terdiam cukup lama. >> Iya kenapa, Bor? > Lo yang kenapa Jihyo? Ditanya malah balik bertanya. Lo di sana baik-baik saja kan? Anne terkekeh pelan. Tapi nada suaranya seperti orang yang benar-benar rapuh sekarang. >> Gue--- Anne bingung harus bilang apa ke Bora. > Ne. Jawab gue. Lo nggak apa kan di situ? Bora mendadak panik mendengar nada suara sang sahabat. Sementara Anne memegang dadanya karena rasa sakit itu kembali datang. Seperti menyayat-nyayat hatinya sekarang. Rasa sakit yang tidak pernah dialaminya sejak dia dilahirkan ke dunia. Tidak lama kemudian Anne mulai terisak. Dia ingin meluapkan semuanya lewat air mata. > Ne! Jawab gue!! Bora semakin panik mendengar sang sahabat yang sedang menangis. Sebelum Anne berangkat ke Bali. Bora sudah mempunyai firasat buruk. Seperti akan ada sesuatu yang ada di depannya. >> Gue .... Dengan terbata sekaligus menangis, Anne menceritakan semuanya yang terjadi di Bali. Di sana Bora diam saja, sesekali mengumpat kesal. Bora bisa merasakan apa yang Anne rasakan. Rasanya Bora ingin menyantet mantan pacar sang sahabat. > Gue pesan tiket dan ke sana sekarang. Bora ingin menyusul sang sahabat ke Bali. Dia tidak mungkin membiarkan Anne kenapa-napa. Semenyebalkannya Anne, tetap saja Bora sangat menyayangi pemilik nama lengkap Jihyo Adrianne itu. >> Nggak usah, Bor. Gue baik-baik saja kok. Lagipula besok sore gue dah balik ke Jakarta. > Are you sure? >> Yeah ... nggak usah datang, okay ... > Ok ... gue tunggu di Jakarta, Ne ... Selama lo di situ. Lo harus sering-sering kabari gue, Anne! Awas aja kalau nggak, gue ngambek nih ... Anne terkekeh pelan mendengar ancaman sang sahabat. Bertemu dengan Samantha Debbora adalah suatu yang ia syukuri. >> Ya udah ... gue mau istirahat dulu, Bor ... Di sana Bora mendesah pelan. Pengen nyusul Anne tapi mau bagaimana lagi. Anne tidak boleh mengizinkan dirinya datang ke Bali. > Ya udah ... lo istirahat sana. Anne mematikan teleponnya setelah menjawab deheman buat Bora. Kemudian Anne menghembuskan napas pelan. Anne tidak ingin Bora membuang-buang waktu datang menyusulnya ke Bali. Toh, besok dia sudah pulang ke Jakarta. Anne juga tidak mau berlama-lama di sini. Mungkin ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya Anne datang ke Bali. Dia kapok dan takut teringat lagi tentang Randy. Mantan pacarnya. Anne merebahkan diri di kasur sebentar, sambil menunggu seseorang yang mengajaknya pergi datang. Lambat laun, akhirnya Anne tertidur. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Dalam tidurnya Anne menggeliat pelan. Kemudian dia mengumpulkan kesadarannya. "Ya ampun ... ini udah jam berapa," gumam Anne. Tok tok tok! "Astaga ...." Anne langsung terlonjak kaget setelah mendengar ketukan pintu kamarnya. Anne beranjak dari tidurnya. Dia merapikan rambutnya yang mungkin berantakan. "Kenapa Mbak?" tanya Anne, setelah membuka pintu kamarnya. Di hadapan Anne. Ira tersenyum. Dalam hati Ira sedikit iri dengan gadis di depannya yang berhasil menarik perhatian dari sang atasan. Sano Mahendra. Si dingin tapi tampan dengan wajah bule dan mata birunya. "Kenapa Mbak?" tanya Anne karena Ira hanya diam saja menatapnya. Anne bahkan mengecek kedua mata dia takut ada kotoran tertinggal, makanya Ira malah diam saja. Ira sedikit gelegapan, lalu menggeleng pelan. "Itu Bapak sudah menunggu Mbak di depan Hotel." Anne mengerjapkan matanya beberapa kali. "Mau pergi sekarang, ya?" Ira mengangguk dengan senyum kecil. "Iya Mbak ... Bapak bilang mau pergi sekarang." "Oh ya sudah. Tunggu aku lima menit. Aku mau ke kamar kecil dulu," ucap Anne dengan senyum tipis. "Baik Mbak ...," jawab Ira masih dengan senyuman. Kurang lebih lima menit Anne keluar dari kamar yang di tempatinya. Dia berjalan dengan kaki sedikit sakit, karena ada beberapa yang lecet. Anne tersenyum kecil saat ada orang yang menyapanya. Sedikit heran kenapa ada sebagian orang menyapanya, padahal dia bukan siapa-siapa di situ. Hanya seorang tamu dari Jakarta. Apa mungkin setiap orang diperlakukan seperti ini. Pikir Anne. Anne tidak tahu saja. Kenapa sebagian orang menyapa dia karena mereka berpikir Anne adalah pacar dari pemilik Hotel itu. Dari kejauhan Anne melihat seseorang yang menolongnya semalam, sedang bersandar di mobil sambil memegang benda pipih berwarna hitam. Tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis. Anne bersyukur bisa diselamatkan olehnya, sebelum dia pulang ke Jakarta hanya tinggal nama. "Sudah siap?" tanya Sano tanpa menoleh. "Hemm ...." Sano menghentikan jarinya yang sedari tadi mengetik pesan buat Nanba, lalu memasukkan benda pipih itu dalam saku. Sano memindai penampilan Anne dari atas sampai bawah. Satu kata buat gadis di depannya menurut Sano yaitu, cantik. Anne yang ditatap seperti itu menundukkan wajahnya. Entah kenapa mata biru itu, seakan menghipnotis dia, membuat pipinya bersemu seketika. Anne mengalihkan pandangan ke arah lain. "Sudah," jawab Anne gugup. Dia tidak berani menatap pemuda yang sedang menatapnya. Sano yang melihat tingkah gadis di depannya. Hanya tersenyum kecil, ralat sangat tipis. "Ya sudah, ayo masuk," ucap Sano sembari membuka pintu mobil untuk Anne. Anne hanya mengangguk pelan, tapi masih tidak berani menatap pemuda itu. "Terima kasih." Anne langsung masuk setelah masuk ke mobil. Sano juga masuk setelah menutup pintu mobil. Kemudian dia mulai melajukan mobilnya membelah jalan raya. Tidak ada obrolan keduanya. Karena masih terasa asing buat mereka. Apalagi sebelumnya mereka tidak pernah bertemu sama sekali. Tujuan dari perjalanan ini adalah Pantai Gunung Payung. Pantai itu lumayan sepi tapi tempatnya jangan ditanya. Sangat indah. Salah satu surga yang Bali miliki selain Pantai lainnya. Hanya sejam perjalanan berkendara dari Kota Denpasar, tepatnya di kawasan Nusa Dua, Bali. Sano memakirkan mobilnya setelah sampai di tujuan. Anne langsung keluar. Kemudian mulut dia ternganga takjub dengan indahnya pemandangan yang ada di depan. "Ini benar-benar surga ...," teriak Anne kegirangan. Sano geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu. Dia seperti membawa anak kecil berpergian. Kegirangan, bahkan sampai berjingkrak-jingkrak. "Kamu boleh luapkan semua masalahmu di sini. Tinggalkan kenangan burukmu, dan hanya mengingat yang indah-indah saja," ucap Sano. Anne menoleh ke arah pemuda yang membawanya kesini. Dia tersenyum kecil. Apa yang dikatakan oleh pemuda itu memang benar. Dia harus melupakan semuanya. Anne kembali menatap laut di depannya. Dia menarik napas panjang. "Aku benci kamu Randy ...," teriaknya sekuat tenaga. Anne berulang kali mengatakan itu. Sampai tangisnya pecah lagi. Dia berjongkok sambil menangis tersedu-sedu. Sano tidak terkejut sama sekali dengan gadis itu. Dia mendekat ke sang gadis lalu mengelus punggungnya. Kurang lebih setengah jam Anne menangis meluapkan semuanya. Semoga ini tangisan yang terakhir menangisi mantan pacarnya. Sano membantu Anne berdiri. Beruntung tempat ini tidak terlalu ramai wisatawan yang datang. Sano sendiri sengaja memilih tempat ini karena dia tahu tempat ini sepi dari pengunjung. Setelah mereka duduk. Sano menyodorkan Anne sebotol air minum yang diterima Anne dengan senang hati. "Feels better?" tanya Sano. Anne meneguk minuman sebelum menjawab pertanyaan dari pemuda di depannya. Anne mengangguk pelan. "Terima kasih." "Hem ... sama-sama," jawab Sano. "Aku berutang banyak padamu," ucap Anne. Sano terkekeh pelan. "Anggap aja, sebagai perikemanusiaan." Anne berdecih. Namun tapi bisa pungkuri, hatinya menghangat karena pria di depannya. "Tempat ini apa namanya?" tanya Anne memandangi tempat yang mereka datangi. "Ini Pantai Gunung Payung. Tempatnya di Nusa Dua Bali," jawab Sano sembari membuka botol minuman untuknya. Anne mengangguk-angguk kepalanya. "Ini sangat indah. Tapi kenapa tidak ramai ya?" "Ini adalah salah satu surga tersembunyi di Bali. Makanya tidak ada orang tahu tempat ini." Anne ber-oh ria mendengar penjelasan pemuda itu. Dia lahir di Semarang dan dia hanya tahu Jakarta, itupun hanya tempat sekitar kerjanya. Anne tipe anak rumahan walaupun dia terlahir sebagai anak orang kaya yang serba kecukupan. Apalagi dia adalah anak bungsu di keluarganya. "Mari kita pergi. Saat ada di Bali, belum lengkap kalau tidak mencoba kuliner di sini," ucap Sano sembari beranjak dari duduknya. Anne hanya mengangguk pelan, lalu beranjak dari duduknya juga. "Kita mau kemana?" tanya Anne setelah masuk mobil. "Hanya sekitar sini. Soalnya nanti malam saya mau packing, karena besok sore saya akan pulang ke Jakarta," jawab Sano tanpa menoleh. Dia sedang fokus menyetir mobilnya. "Oowh ... kamu orang Jakarta juga?" Sano hanya menjawab dengan deheman. Anne tidak menyangka kalau orang yang sedang bersamanya, adalah orang Jakarta juga. Anne pikir pemuda itu orang Bali. "Terus kamu sedang apa di Bali? Apa sedang liburan juga?" Sano mengerjap beberapa kali. "Anggap saja begitu," jawab Sano melirik gadis sampingnya sebentar dan kembali fokus menyetir. Anne menganggukkan kepalanya paham. Setengah jam. Mobil yang dikendarai Sano tiba di salah satu kedai makan yang ada di Bali. Mereka berdua keluar setelah mobil terparkir sempurna. Mungkin bagi yang sebagian orang melihat mereka seperti pasangan kekasih atau mungkin ada yang beranggapan bahwa mereka sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu. Sano memesan ayam betutu khas Bali. Ayam betutu adalah salah satu makanan favorit Sano ketika ada di Bali. "Silahkan dicoba," ucap Sano setelah pesanan mereka sampai. Anne meneguk saliva melihat makanan di depannya. Dia membasahi bibirnya. Pasti sangat lezat. Pikir Anne. "Sepertinya ini lezat." Sano terkekeh pelan, lalu mendekatkan ayam betutu ke gadis itu. "Jangan dilihatin saja kalau menurutmu lezat. Cobalah." Anne mengangguk dengan tatapan tidak beralih dengan ayam betutu di depannya. Ayam bumbu Bali itu seakan melambai-lambai menyuruhnya untuk dicicipi dia. Anne berdoa sebelum mulai mengambil ayam. "Mari makan ...." Anne langsung melahap ayam itu ukuran besar, sampai pipinya menggelembung seperti bapau. Benar-benar lezat. Pikirnya. Anne terus mengunyah makanan yang di meja. Anne memang suka makan. Beruntung tubuhnya tidak cepat melar seperti Bora. Sang sahabat akan langsung diet ketat, kalau dirasa tubuhnya melar. Dan Anne paling suka menggoda sahabatnya. Sano tersenyum kecil. Biasanya dia risih kalau ada seseorang apalagi seorang gadis yang makan seperti Anne. Belepotan dan sangat rakus. Tapi melihat gadis di depannya makan malah senang. Aneh, bukan. "Kamu tidak makan," ucap Anne tanpa menoleh. Dia sangat asyik dan kelaparan juga. Wkwkkk Sano berdehem sebentar lalu mulai memakan makanannya. "By the way ... kita seperti pasangan yang lagi Dinner ya," celetuk Anne tiba-tiba. "Uhhuk ... uhhuk ... uhhuk ...." "Ya ampun ... hati-hati dong," peringat Anne, sambil menyerahkan segelas air putih. Sano langsung menyambar air putih yang Anne kasih. "Terima kasih." "Maaf kalau tadi kaget sampai tersedak gitu," ucap Anne merasa bersalah. "It's okay ...," jawab Sano setelah meredakan tenggorokannya. Mereka kembali menikmati makanan. Anne tidak lagi berbicara aneh takut pemuda di depannya tersedak. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke hotel. Berulang kali Anne menguap. Sementara Sano hanya tersenyum tipis. "Oh ya! Kita belum berkenalan." Anne baru sadar kalau mereka belum berkenalan. Aneh banget, jalan sudah kaya pasangan tapi belum kenal satu sama lain. Sano memutar matanya sebentar. "Pertemuan di lain waktu, baru kita berkenalan." "Maksudnya?" tanya Anne dengan kening berkerut. "Kalau kita bertemu lagi, baru kita berkenalan." "Mana bisa begitu dong," protes Anne. "Aku nggak mau hutang ke kamu." "Ya sudah kita buat pertemuan. Kita ketemu di Danau Sunter di Minggu ketiga bulan ini. Nanti saya sebutin nama ketika kita bertemu." Anne tersenyum. "Nah gitu kan enak," ucap Anne sembari menyenderkan tubuhnya ke kursi. Diam-diam Sano menghembuskan napasnya pelan. Bertemu dengan gadis unik ini entah menjadi kesialan dan keberuntungannya. Yang jelas dia sendiri bingung dengan dirinya sekarang. Setelah mereka sampai hotel. Anne dan Sano masuk ke kamar masing-masing. Karena besok malam pulang. Anne mulai beres-beres barangnya. Sejenak dia bisa melupakan sakit hatinya. Semoga saja dia benar-benar melupakan Randy dan segala kenangannya. Anne sendiri sudah memberitahu Bora untuk menjemput di Bandara nanti. Di kamar berbeda ... Sano mendudukkan dirinya di kasur setelah setelah mandi dan melakukan kewajiban dia. "Gadis aneh tapi juga unik," gumamnya pelan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD