BAB 20: Pesta Malam

2022 Words
Di sinilah Rosea dan Atlanta sekarang, berdiri di antara keramaian orang-orang yang sedang berpesta di rumah Atlanta. Suara musik terdengar mengalun lembut membuat orang-orang yang berbincang satu sama lainnya tidak perlu bicara dengan keras. Rosea tidak menemukan orang-orang liar seperti apa yang dia bayangkan sebelumnya, semuanya terlihat terkendali dan menikmati waktu mereka. Orang-orang bermain billiard, berkumpul memegang sebotol corona sambil mengobrol, beberapa orang lagi sibuk berenang dan membakar daging. Ada pula sekumpulan cowok yang sibuk berbincang membicarakan modifikasi mobil klasik sambil minum dan duduk santai. Rosea tidak tahu jika pesta yang Atlanta buat tidak seburuk apa yang pernah ada di pikirannya. Apa yang Rosea lihat sekarang tampak biasa-biasa saja. Orang-orang hanya berpakaian terbuka, selebihnya tidak ada apapun yang terjadi. Rosea menyempatkan diri untuk berbicara dengan beberapa orang, berkenalan dan berbincang ringan. Sampai pada akhirnya, kini Rosea bersama Frans menuju halaman rumah Atlanta dan bertemu dengan pria itu yang kini tengah bermain bola voly di kolam renang bersama gadis-gadis cantik. Atlanta menengok dan tersenyum lebar melihat kehadiran Frans, sejenak pria itu membuk kaget melihat kehadiran tidak terduga Rosea yang kini berjalan terantuk-antuk di dalam rangkulang Frans. Atlanta segera berenang ke tepian, tangannya terangkat meraih tangan Frans yang mengajak bersalaman. “Apa kabar?” “Baik banget. Ngomong-ngomong, aku dan Kak Sea boleh ikutan pestanya tidak?” tanya Frans terdengar akrab. “Tentu saja. Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan selama tidak memakai dan membawa barang terlarang. Beberapa hari yang lalu beberapa temanku tertahan karena itu,” cerita Atlanta dengan sebuah seringai gelinya melihat reaksi Rosea yang langsung tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang memerah. Frans tertawa mengatakan bahwa dia anak baik-baik, pelukannya pada pinggang Rosea yang mengerat membuat pria itu tersadar akan sesuatu. “Ini kak Sea, sudah kenal belum?” Tangan atletis Atlanta menumpu pinggiran kolam, kepalanya mendongkak, matanya yang berkilauan keemasan itu kini tersapu pantulan biru dari air kolam. Pria itu kembali tersenyum merasa gemas dengan Rosea yang sejak tadi hanya diam. Atlanta menatap Rosea dengan lembut dan senyuman yang misterius. “Tentu saja kami sudah saling kenal. Semalam juga, kami tenggelam dalam suasana yang basah dan menghabiskan waktu sampai pagi. Ah, Sea pakaianmu juga masih tertinggal di kamarku” jawab Atlanta terdengar ambigu membuat Frans segera bergeser melepaskan rangkulannya dan menutup mulutnya menatap Rosea dengan tatapan tidak percaya. “Tidak, bukan seperti itu. Kamu jangan berpikiran macam-macam Frans” Rosea langsung kelabakan melihat reaksi Frans yang pasti sekarang berpikiran aneh-aneh. “Kamu yang benar dong jelasinnya,” tuntut Rosea pada Atlanta. “Jelaskan apa? Aku berbicara apa adanya,” jawab Atlanta dengan tenang. “Ucapan kamu ambigu tahu. Kalau bicara di pikirkan dong, kepala kamu kan isinya otak buat berpikir, bukan kotoran.” Atlanta terkekeh geli mendnegarkan ocehan Rosea yang marah. “Terus harus jelasin bagaimana? Semalam kita memang basah-basahan sampai kamu nangis tidak bertenaga buat berdiri.” “Astaga, cukup!” Potong Rosea. “Kak Sea kan sudah dewasa. Tidak perlu malu” bisik Frans semakin berpikiran kotor. “Bukan seperti itu!” Bentak Rosea setengah berteriak. “Lalu apa?” tanya Frans penasaran. “Terserah kalian saja!” Kaki Rosea menghentak lantai, dalam satu gerakan dia berbalik dan pergi memilih menyendiri. Kepergian Rosea tidak lepas dari pantauan Atlanta yang memperhatikan jika ternyata Rosea tidak memutuskan pulang, Rosea memilih berbincang dengan beberapa orang. “Hubungan kalian serius?” Pertanyaan yang terucap dari mulut Frans membuat Atlanta kembali mendongkakan kepalanya. “Apa?” tanya balik Atlanta tidak paham. Frans menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Kak Sea itu orangnya baik dan sangat lembut. Meski tidak tertarik untuk menikah dan memilih memiliki hubungan sebatas pacaran saja. Sebenarnya, dia tidak akan pernah mau beciuman atau bercinta orang yang dia cintai, masalahnya kak Sea adalah wanita yang sulit jatuh cinta.” “Benarkah?” bisik Atlanta lembut, tatapan di sorot matanya yang indah itu perlahan berubah, pria itu semakin lekat melihat Rosea yang berada di sekitarnya. “Frans!” Seorang perempuan langsung menyapa Frans dan membuat Frans segera berlari kearah temannya. “Beca.” Mata Frans terbelalak kaget, pria itu tertawa memeluk Beca dan langsung berbincang denganya, Frans dan Beca yang asik berbicara membuat mereka tanpa sadar kini meninggalkan Atlanta yang masih diam di tempatnya memperhatikan Rosea yang tengah berbicara dengan seseorang. *** Di keramaian Pesta, banyak orang yang berkumpul, banyak wajah baru yang Rosea lihat, dan ada beberapa orang yang dia kenal. Kini, Rosea tengah berbicara dengan seorang pria, mereka berdiri di sisi sebuah meja bar, keduanya terlihat dekat satu sama lainnya. Pria itu tidak berhenti menatap Rosea yang sudah lama tidak di lihatnya, dia tersenyum beberapa kali memperhatikan setiap Rosea berbicara. “Sudah berapa lama kita bertemu? Aku kaget banget kamu pindah ke sini,” ucap Aarav. Rosea memutar-mutar gelas kecil di atas meja, “Mungkin setengah tangun yang lalu.” Aarav tersenyum menatap lekat, “Aku pikir kita enggak bakal ketemu lagi.” “Bukankah aku yang harusnya berpikir begitu? Aku dengar kamu pindah ke Surabaya” balas Rosea dengan tenang. Aarav mengedarkan pandangannya, terdengar suara napasnya yang berat keluar dari mulutnya begitu dia kembali melihat Rosea di sampingnaya yang bersikap begitu biasa saja, sementara Aarav masih menyimpan banyak rasa untuk wanita itu di dalam hatinya. “Aku memang di Surabaya, tapi setiap bulan ke sini” jawab Aarav terdengar berat. Aarav menyesap minumannya dan melirik Rosea lagi, sulit untuk Aarav mengalihkan perhatiannya dari Rosea meski kini mereka sudah berpisah setengah tahun yang lalu. Aarav sempat berpacaran dengan Rosea meski hanya hanya bertahan dalam waktu lima bulan, mereka bertemu di salah satu perkumpulan kolektor perhiasan. Pertemuan dan perkenalan sederhana itu membawa mereka pada hubungan yang sangat menyenangkan menghiasi hari-hari Aarav. Ya, Aarav sangat menikmati waktunya saat bersama Rosea karena di mata Aarav, wanita itu memiliki jenis kepribadian yang langka. Sangat menyenangkan untuk di ajak berdiskusi, tahu waktu yang tepat ketika dia membutuhkan pertolongan Aarav, meski Rosea terlihat dingin dan berbicara seperlunya, dia sangat pengertian. Aarav menikmati waktu mereka karena dia bersama Rosea, Aarav merasa menjadi seseorang yang lebih rasional dalam mengontrol perasaan dan pikiran. Hari-hari yang menyenangkan itu berakhir dengan perpisahan meski mereka berpisah secara baik-baik. perpisahan itu di sebabkan Rosea merasa hubungan mereka sudah tidak ada rasanya lagi. Sesungguhnya Aarav tahu jika Rosea tidak memiliki niatan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Aarav. Satu hal yang masih membekas dalam ingatan Aarav saat sampai saat ini adalah, kisah membara mereka yang membuat Aarav merasa tergila-gila kepada Rosea. Sialnya, Rosea memutuskan Aarav saat Aarav benar-benar merasa menemukan jodohnya. Aarav mengembalikan kembali kesadarannya dari lamunan kecilnya setengah tahun yang lalu. Masih dengan tatapan lekat, Aarav melihat Rosea dan berkata, “Sea, sekarang kamu sama siapa?” tanya Aarav terdengar blak-blakan. Rosea hampir tersedak oleh minuman yang di teguknya, dengan cepat Rosea mengusap bibirnya yang kini basah. Rosea menggeleng dengan senyuman, “Sekarang aku sibuk dengan keperjaanku.” Rosea sudah pernah dekat dengan seorang pria biasa setelah berpisah dengan Aarav, namun hubungan itu tidak berlangsung lama karena pria itu pergi bekerja ke luar kota, tidak berapa lama setelah itu, pria itu memilih menikah. Aarav tersenyum tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya setelah mendengar jawaban Rosea. Aarav berdeham mencoba kembali bersikap tenang “Kalau begitu, kamu keberatan tidak jika aku menghubungi kamu lagi? Sebatas teman biasa buat ngobrol dan ketemuan untuk bersenang-senang biasa jika sedang tidak sibuk.” “Aku tidak keberatan. Asal, kalau aku telat balas pesan dan angkat panggilan kamu, kamu jangan mengomel” jawab Rosea terlalu jujur. Aarav tertawa malu merasa tersindir karena saat mereka berhubungan, Aarav terlalu posesif kepadanya. Pria itu mengangguk mengerti memahami sesuatu yang paling tidak Rosea suka darinya. “Guys” Suara keras seseorang sambil memukul sisi gelas dengan punggung sendok. Semua orang yang sedang sibuk berbincang dan beraktifitas akhirnya memusatkan perhatiannya pada seorang wanita berbikini hitam tengah berdiri di sisi kolam. “Kita mulai permainannya!.” *** Leonardo berdiri di depan pintu apartement Flora dan menekan bel beberapa kali, tidak berapa lama pintu di depannya terbuka. Sejenak Leonardo terdiam melihat penampilan Flora yang berdiri di depannya, wanita itu terlihat sangat cantik mengenakan lingerie hitam dan terlihat sudah berdandan hanya untuk menyambut dirinya. “Kamu ke mana saja? Kenapa lama sekali?” Tanya Flora penasaran. Sudah lebih dari satu jam dia menunggu, namun Leonardo tidak kunjung datang. “Aku dapat panggilan pekerjaan.” Flora tetap tersenyum, menyembunyikan rasa kesalnya karena Leonardo masih saja memikirkan pekerjaan meski sudah malam hari. Flora tidak bisa banyak protes kepada Leonardo karena dia sadar bahwa posisinya hanya sebatas wanita bayaran penghangat ranjang pria itu. Bahkan meski Leonardo bersikap baik dan loyal kepadanya, Flora harus berpikir dua sampai tiga kali apakah dia boleh terlena atau tidak. Flora segera membuka pintu lebar-lebar. Tanpa bertanya Leonardo segera masuk ke dalam, baru beberapa langkah dia masuk, Leonardo sudah bisa mencium aroma terapi vanilla yang lembut memenuhi ruangan. Suasana hati Leonardo yang malam ini bad mood Leonardo sedikit terobati dengan aroma itu. Temaram lampu ruangan yang kekuningan dan jendela apartement yang terbuka terasa cukup menyejukan dirinya. Pelukan Flora terasa di belakang Leonardo ketika pria itu berdiri di depan jendela, Flora bergelayut manja menjatuhkan wajahnya dia punggung kokoh Leonardo, “Leo, kata Yeri minggu depan kamu akan ada perjalanan ke Paris. Aku ikut ya?.” “Siapa yang mengizinkan kamu menanyakan jadwal pekerjaanku?” tanya Leonardo dingin. Flora menelan salivanya dengan kesulitan merasakan suasana hati Leonardo kembali tidak baik. “Aku tidak sengaja tahu Leo, jadi apa aku boleh pergi?” jawab Flora dengan terbata. “Aku tidak bisa. Itu perjalanan bisnis” jawab Leonardo terdengar datar, Leonardo tidak suka urusan hubungan gelapnya seperti ini di setarakan dengan urusan pekerjaan. Masalah pekerjaan lebih penting untuknya, wanita seperti Flora hanya dia perbolehkan ada di belakang kehidupan pribadinya karena mereka bersama sebatas pekerjaan. Leonardo memiliki uang dan Flora memiliki tubuhnya yang cantik. Flora mendesah kesal. “Ayolah Leo. Kita sudah bersama lebih dari dua bulan, apa kamu sama sekali tidak ingin memberikan aku izin untuk ikut dengan kamu sekali saja?” Rahang Leonardo mengetat, “Flora, kamu harus ingat kita bersama di dasari saling menguntungkan. Jangan mendesakku untuk memberikan hal yang lebih karena itu tidak akan mungkin terjadi,” komentar Leonardo terdengar cukup pedas dan membuat Flora hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat. Perlahan Leonardo melepaskan pelukan Flora dan berbalik, di tatapnya wajah cantik Flora yang terlihat sedih medengarkan ucapan pedas Leonardo, namun Flora tidak dapat membantah sedikitpun karena Leonardo yang memegang segala kendali dari hubungan mereka. Leonardo meraih wajah Flora dan mengusap pipinya, “Sebaiknya kamu di sini saja, aku siapkan villa untuk kamu liburan di Bali.” Flora hanya bisa mengangguk pasrah, sulit untuk Flora untuk tidak jatuh cinta pada pria seperti Leonardo. Pria itu sempurna dari segala sisi. Sayangnya Leonardo berada dalam ketinggian yang tidak bisa dia gapai sedikitpun. Melihat kesedihan Flora membuat Leonardo menangkat wajah wanita itu dan memperhatikan bola matanya yang berkaca-kaca. Sayangnya, kesedihan Flora sama sekali tidak bisa mengambil sedikit saja rasa simpati Leonardo. “Flora, apa kamu sudah tidak mau bersamaku? Aku tidak keberatan melepaskanmu malam ini juga.” Flora terbelalak kaget dengan jawaban Leonardo. Dengan begitu mudahnya Leonardo membicarakan sebuah perpisahan di antara mereka layaknya sebuah bisnis. Ada rasa sakit yang di rasakan hati Flora, ternyata selama dua bulan mereka menjalin hubungan, Leonardo selalu memanjakannya dengan uang-uangnya. Flora pikir kebaikan Leonardo adalah sebuah bentuk sinyal jika pria itu memiliki perasaan lebih kepada Flora. Tetapi ternayata, apa yang di pikirkan oleh Flora salah. Flora sudah salah menilai, Leonardo benar-benar masih tidak goyah dengan prisnispnya, pria itu tidak memiliki perasaan apapun kepadanya meski mereka sudah sering melewatkan malam yang panas di ranjang. Sungguh menyedihkan untuk Flora, dia sudah terlena dalam kebaikan dan pesona Leonardo hingga melupakan kebenaran yang sesungguhnya seperti apa. Flora membuang napasnya dengan berat, wanita itu menggeleng menolak hubungan mereka berakhir. “Kalau begitu aku ingin liburan ke Paris sendirian, boleh kan?” tanya Flora dengan pelan. Leonardo tidak langsung menjawab, pria itu sedikit merenung dan mempertimbangkan sesuatu yang harus dia ambil sekarang. Dalam satu langkah Flora semakin mendekat dan memeluk leher Leonardo dengan kaki berjinjit. Wanita itu mengambil inisiatif lebih dulu untuk menggoda agar permintaannya di penuhi Leonardo. “Leo.. boleh kan? Aku akan pulang lebih dulu sebelum kamu berangkat.” Perlahan Leonardo membalas pelukanya dan mengangguk menyetujuinya. To Be Continue..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD