Ali Aryan, anak ketiga Yuni Susanti dan suaminya Heri Sanjaya. Berparas garang dan bersikap arogan. Dia mungkin terlihat garang dan kerap kali bersikap egois jika berbentrokan dengan keinginannya, namun dibalik sisi egoisnya itu, dia masih memiliki rasa simpati terhadap Alisha yang mana merupakan adik langsungnya. Berbeda dengan Amina Azhara si anak kedua yang tak pernah perhatian atau mau akur dengan Alisha.
Amina Azhara memiliki sifat dengki dan benci terhadap Alisha, karena kerap kali dibanding bandingkan dengan Alisha yang terkenal dengan kecantikannya. Sementara dia terkenal jelek karena badannya yang kurus, kaki kanannya yang tak bisa melangkah sempurna, serta wajah yang biasa biasa saja.
Melihat Alisha menutup pintu dengan keras sembari mengunci kamarnya rapat rapat, tentu saja membuat Ali merasa khawatir kepada Alisha. Dia terus mengetuk ngetuk pintu kamarnya, namun tak mendengar jawaban apapun dari dalam kamar Alisha.
"Ngapa dah nih bocah, dipanggil panggil gak mau nyahut juga, beneran kesambet lu?" tanya Ali sembari mengetuk pintu Alisha.
Amina yang merasa terganggu dengan teriakan Ali, segera bangkit dan berkata, "Berisik tahu!"
"Biarin aja sih, tar juga keluar sendiri kalau laper!"
"..." Ali yang juga sudah lelah karena tak direspon mengikuti saran kakak perempuannya dan perlahan pergi keluar rumah.
"Mau kemana Lo?" tanya Amina penasaran.
"Cari angin kak, di rumah bete!" Ali pergi seraya melambaikan tangannya.
Sementara itu, Alisha yang berdiam diri di dalam kamarnya tak kunjung keluar hingga membuat ibu serta Ali khawatir. Atas ijin ibu nya, Ali mendobrak pintu kamar Alisha seraya berkata, "Minggir Lu, jangan di belakang pintu!
Brakkk!!! Pintu kamar Alisha terbuka lebar berkat dorongan keras Ali. Amina yang penasaran turut mengintip ke dalam kamar Alisha yang terlihat gelap karena tidak menyalakan lentera. Sementara waktu saat itu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh malam.
"Udah magrib jangan di dalem mulu, mana gelap lagi!"
"Mau kesambet lu?" ucap Ali sembari menyalakan lentera dengan korek api yang selalu dia bawa di dalam saku celananya.
Alisha tak merespon sembari meringkuk takut akan ancaman pria asing yang berkata bahwa dia akan kemari lagi. Dengan pikiran tak ingin merepotkan yang lain lagi, Alisha perlahan mengangkat kepalanya dan berkata, "Eh ... ibu ... , udah pulang ya?"
"Maaf kalau aku membuatmu khawatir, aku hanya rindu sama Ayah dan kak Rehan," balasnya lemas.
"Apa benar cuma itu alasannya?" Yuni nampak khawatir karena melihat Alisha nampak murung.
"Iya, cuma itu aja kok," Alisha berusaha menutupi ketakutannya, lalu bersikap seakan tak terjadi apa apa. Setelah shalat bersama, mereka pun makan malam seperti biasa di dalam lindungan cahaya lentera.
Malam pun telah berlalu, Alisha yang perlahan melupakan kejadian kemarin terbangun dari tidurnya dengan perasaan lega. Perasaannya menjadi semakin tenang setelah berdoa kepada yang kuasa dikala adzan subuh masih berkumandang.
Akan tetapi ketenangan Alisha tak dapat bertahan lama, semua karena panggilan ibunya yang berkata bahwa ada seorang pria yang sedang mencarinya. Dengan maksud melamar dan membahas perbincangan kemarin. Dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya, ibu Yuni mengetuk pelan pintu kamar Alisha seraya berkata, "Memangnya perbincangan apa yang dia maksud?"
Alisha menarik napasnya dalam dalam sebelum menjawab pertanyaan ibunya. Dia nampak takut saat itu, namun karena masih di dalam kamar, tak ada yang mengetahui perasaan asli Alisha. Dia takut, tapi tak bisa menceritakan itu. Semua karena dia tahu bahwa keluarganya yang miskin dan lemah tak akan mungkin melawan seorang pria yang terdengar arogan itu, terlebih saat Alisha bertanya soal rupa pria itu. Ibu Yuni menjawabnya dengan takjub, dia menceritakan setelan mahal pakaiannya, serta wajahnya yang tergolong tanpan dan dapat menaklukkan banyak hati wanita. Dari caranya berbicara mungkin seperti orang kota, namun dari segi wajah dia nampak seperti bukan orang indonesia.
Setelah mendengar penjelasan Ibunya, Alisha hanya bisa terdiam. Tak peduli setampan apapun orangnya, dia tak akan pernah tertarik pada seorang pria. Baginya tak ada pria yang dapat dijadikan sandaran seperti halnya Ali yang kerap kali bersikap seenaknya, maupun ayah dan kakaknya yang pergi keluar kota tanpa kabar sedikitpun hingga saat ini. Sedangkan adik adiknya yang masih kecil dititipkan ke keluarga buyutnya karena kesulitan ekonomi.
'Gimana nih!'
'Pria asing itu beneran datang kemari!' batin Alisha gemetar sembari sesekali menghela napas karena saking paniknya.
"Neng?"
"Mau ditemuin gak?"
"Kalau gak, biar Ibu yang ngomong ke orangnya," Ibu Yuni kembali mengangkat suaranya karena Alisha belum juga membuka pintu. Sementara Alisha yang terus mengingat ancaman sang pria tak dapat melakukan apapun kecuali berkata, "Bi ... biar aku saja yang menemuinya Bu!"
"Yo Wis, Ibu pergi ke dapur dulu ya ... "
"Kalau ada apa apa tinggal panggil Ibu aja," Ibu Yuni perlahan pergi meninggalkan pintu kamar Alisha. Wajahnya nampak sedikit lega, karena berpikir bahwa Alisha mulai melupakan traumanya terhadap sosok pria.
Kreeeet ....
Alisha membuka pintu kamarnya perlahan dengan perasaan takut yang coba dia sembunyikan. Rasanya ia ingin memberitahukan perasaan takut itu kepada Ibu dan kakak kakaknya, namun karena tak ingin merepotkan mereka, dia pun perlahan pergi menuju ruang tamu.
Baju kokoh putih yang nampak bermerk, celana kain berwarna hitam yang nampak sopan, sepatu pantofel yang terlihat mengkilap dan berbahan kulit, tersematkan Lengkap disekujur tubuh pria itu.
Wajahnya nampak ramah, cukup tampan berambut hitam lebat namun masih terbilang sopan, terlebih kopiah hitam yang tersematkan dikepalanya juga menunjukkan sebuah kealiman. Alisha mulai ragu dengan apa yang dia lihat.
'Apakah dia benar benar orang yang waktu itu?' pikir Alisha bimbang.
"Kenapa kau terus melihatku dari jauh?"
"Duduklah kemari dan mengobrollah denganku," tatapan pria itu merendahkan Alisha. Seakan dia berada diatas segalanya. Dari caranya berbicara, sorot matanya dalam menatap Alisha, hanya ada kesombongan dan keyakinan akan kemampuannya dalam mendapatkan apapun yang dia mau.
'Di ... dia benar benar orangnya!'
'Pakaian sopannya hanya kedok untuk menipu keluargaku!' pikir Alisha sembari melangkah ragu.
"A ... Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Alisha gemetar. Dia enggan untuk duduk dan berbicara dari kejauhan.
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku ingin menikahimu?"
"Kau harusnya beruntung karena berhasil membuatku tertarik," tegas pria itu dengan pandangan Sombong.
"Ke ... kenapa harus aku?" tanya Alisha gemetar. Dia tak bisa menutupi ekspresinya karena pria itu perlahan mendekat sembari berusaha menyentuh dagunya.
"Ja ... jangan sentuh aku!" Alisha menampik tangan pria itu dengan tangan yang gemetar ketakutan.
"Sempurna!"
"Jadi rumor tentang kau takut terhadap pria itu benar ya?"
"Aku jadi semakin ingin menundukkanmu," Pria itu menyeringai sembari perlahan melangkah mundur karena mendengar suar langkah kaki Ibu Yuni yang mengarah mendekat dari arah dapur.
"Ada apa Neng?"
"Suara apa tadi?"
"Kaya ada suara tamparan?" Ibu Yuni nampak panik, sementara pria itu menunjukkan tangannya yang memerah karena habis ditampik Alisha.
"Bukan apa apa tante, aku hanya mendapat hadiah perkenalan disekitar tanganku," jawab pria itu dengan nada sopan sembari menunduk dan tersenyum sesekali.
Ibu Yuni yang mendambakan menantu yang Alim segera tersentuh akan tingkah palsunya itu. Dengan cekatan dia pun segera meraih tangannya sembari berkata, "Tanganmu gak papa, Nak Zain?"
"Gak papa kok tante, salahku juga mencoba mengajak Alisha bersalaman, padahal kami kan seharusnya bukan mahrom," jawab Zain sopan.
"Ya ampun Nak Zain, kamu kok baik sekali."
"Ngomong ngomong bener kalau nak Zain pernah ke pesantren?" tanya Ibu Yuni bersemangat.
"Ya dong tante, masa Saya bohong sih?"
"Gimana pun juga, Saya kan anak Haji Anton," jawab Zain sembari tersenyum sopan.
"Bukannya Ibu bilang tadi gak kenal?"
"Kenapa sekarang malah terdengar akrab?" tanya Alisha kesal.
"Ibu hanya melakukan permintaan Nak Zain, jangan khawatir Neng, dia anaknya orang bener kok!" jawab Ibu Yuni senang.
"Lah kalau begitu kita anak orang apaan dong Bu!?" tanya Ali yang baru datang dari luar.
"Anak orang miskinlah, emangnya apa lagi!" sambung Aminah yang baru keluar dari kamarnya. Tatapannya terlihat sinis setiap kali mengetahui ada pria yang mencari cari Alisha. Biasanya dia tak pernah keluar kamar saat ada orang, namun karena mendengar Alisha keluar untuk menemui sang pria tak seperti biasanya, dia pun penasaran.
'Sial, lagi lagi pria yang tampan. Mana kayaknya dari keluarga berduit lagi!' pikir Amina kesal.
"Lo aja lah yang jadi anak orang miskin!"
"Gue mah ogah!" Ali tak terima akan candaan Amina. Sementara Amina yang kesal terus menanggapi dengan berkata, "Listrik aja kagak mampu bayar, kalau bukan miskin apaan emangnya!?" tanya Amina kesal.
"Cih, suka hati Lu lah!"
"Gue mau mandi!" Ali melempar pakaiannya yang kotor ke muka Amina, lalu pergi menuju kamar mandi.
"Dasar Adek sialan!"
"Gak ada hormat hormatnya ama kakak sendiri!" bentak Amina kesal.
"Pret, kalau mau dihormatin jadi bendera aja lah!" teriak Ali yang telah menjauh.
"Keluarga Ibu unik ya?" tanya Zain sembari tersenyum.
"I ... Iya ... ," Ibu Yuni nampak tak enak saat melihat kelakuan buruk yang dilakukan kedua anaknya.
'Yang unik itu kamu tahu! Dasar pria bermuka dua!' umpat Alisha di dalam hatinya.