KLINIK KECANTIKAN

1090 Words
Ririn menemui Len ke pet shop tempat kerjanya, diantar menggunakan Taxi online. "Len," sapanya setelah menemukan Len jongkok di tempat makanan kucing. "Mbak Ririn. Ada apa?" tanya Len, tanpa menoleh dan kedua tangannya sibuk menata rak makanan kucing. "Siang ini dokter Karina tidak datang?" "Libur mbak," jawab Len, "Kemarin siang dokter kesini karena ada pasien emergency." "Iya saya tahu jadwalnya dokter, saya kira dokter kesini soalnya di rumah tadi kosong," Ririn membantu Len, "Kira-kira kemana ya dokter?" "Sudah ditemui ke kliniknya?" "Katanya libur, besok juga libur digantikan sama temannya." "Memangnya mbak ada urusan apa sama dokter?" tanya Len kepo. "Masalah wanita," Ririn mengambil ponsel di saku jaketnya, "Dari tadi aku telepon gak diangkat soalnya." "Atau mungkin menemani bi Murni? Soalnya hari ini jadwal bi Murni check up." "Oh... iya juga ya, makanya handphonenya tidak diangkat," Ririn mencoba hubungi Karina lagi dan diangkat. "Hallo!" "Dokter!" Ririn meletakan makanan kucing di rak, "Dokter dimana sekarang?" "Saya menemani bi Murni check up. Ini mau pulang, kenapa?" Ririn mengerang, "Dokter, temeni saya ke suatu tempat ya, kalau tidak ada dokter, saya tidak beraniii." "Bilang saja butuh ojek gratis." "Enggak kok dokter. Sumpah! Saya saja tadi datang naik TAXI online, saya hanya mencari temen." Karina mendesah, "Jauh nggak kira-kira? Aku capek banget soalnya." "Masa capek sih nemenin saya? Ayolah dok," bujuk Ririn. "Ya sudah saya temenin." "Asyyyiiiik, jemputin saya di pet shop seperti biasa ya dok, nanti saya bantu dokter jadi cantik deh!" Ririn bersorak kegirangan. "Kamu ini- ya udah saya nurunin bibi, mandi terus langsung kesana." "Siap dokter baik hati dan tidak sombong." Ririn menutup teleponnya. "Nyambung mbak?" tanya Len. "Iya. Nyambung kok, ternyata memang nemenin bibinya," Ririn membantu Len lagi, "Aku bantu kamu ya. Sekalian nungguin dokter jemput aku." "Iya mbak." *** Karina melihat sekeliling ruang tunggu dengan kesal. Tadi pagi dia menemani bibi dan pak Andre, sekarang harus kembali di rumah sakit sama dengan Ririn. Antrian sekarang malah melebihi antrian sebelumnya. "Rin! Ngapain sih kita kesini?" Lagi! Tambah Karina dalam hati. Tadinya Karina kira antar ke tempat lain, ternyata sama dengan rumah sakit yang didatangi. Heran, kok ada rumah sakit yang menyediakan tempat kecantikan. "Haduh dokter, mumpung dokter libur dua hari kita harus perawatan wajah, masa dokter nggak mau cantik?" jawab Ririn sambil menurunkan majalah fashion kelas menengah. "Ya mau sih tapi tidak sekaranglah," Tunggu! "Saya libur dua hari? Berita dari mana?" "Besok petshop tutup soalnya mau diperbaiki sedikit makanya hari ini tidak menerima pengunjung pet hotel. Terus saya tanya ke Len katanya besok teman dokter yang incharge, tukeran jadwal katanya." Karina menepuk keningnya. Oh iya, dirinya sempat menggantikan jadwal teman yang tidak bisa masuk jadi hari ini jadwalnya ya? "Nah. Mumpung libur, kita ke dokternya para seleb." Perasaan Karina mulai tidak enak, "Maksudnya dokter Rangga?" "Dokter tahu dokter Rangga? Oh iya! Waktu itu kan dokter Rangganya ke tempat kita." "Ke tempat lain saja yuk," Karina berdiri. Ririn menahan tangan Karina. "Yah dokter, ini tuh sudah dokter Bagus masa ke tempat lain sih!" "Tapi inikan dokter bedah plastik!" Karina menurunkan suaranya. Takut orang lain yang mendengar jadi tersinggung. "Dokter bedah plastik kan sama dengan dokter kulit dok. Dokter ini gimana sih?" Masa sih? Karina kembali duduk, tidak lama handphone miliknya bergetar, sengaja memasang mode getar dari kemarin. Dia melihat siapa yang menelepon. Kak Ditya! "Hallo, mas!" "Wah semangatnya adik mas, lagi dimana nih?" "Di klinik dokter bedah plastik eh, maksud Karina klinik dokter kecantikan!" "Apa?! Kamu mau operasi plastik? Nggak puas sama hidung kamu? Ya ampun Karina, Kucing mahal saja yang dicari pesek, masa kamu minder sih?" Karina menyentuh hidungnya yang nggak pesek juga nggak mancung. Papanya sama mas Ditya mancungnya kebangetan sementara mamanya pesek jadinya pas lahir Cuma Karina yang hidungnya setengah-setengah. "Ih! Mas jahat ih sama Karina!" Terdengar suara tawa Ditya. "Ya habisnya tumben kamu ke klinik kecantikan, saran mas yang butuh diperbaiki itu d**a dan p****t kamu. Orang utan disini saja badannya semok-semok, masa kamu seperti triplek." Ya ginilah susahnya punya kakak dokter hewan, dikit-dikit disangkut pautin sama hewan, "Mas, sekali lagi gitu, Karina tutup telponnya!" "Eits! Iya ya maaf, minggu depan mas mau balik ke Jakarta, jemputin mas ya." "Udah selesai disana?" "Sudah dong! Tapi habis gitu mas mau nemenin papa di Amerika." "Papa sama mama di Amerika?" "Kamu belum dikabarin?" "Enggak ada!" "Mereka 'kan selalu e-mail kita... jangan-jangan kamu nggak buka e-mail ya?" Karina nyengir, "Hehehehe. iya maaf. Karina sibuk." "Sesibuk apapun, harus rajin cek e-mail. Kalau ada apa-apa atau emergency dari papa sama mama gimana?" "Iya maaf, mas." "Ya sudah gitu aja sih, nanti mas kabarin selanjutnya." "Eh mas! Oleh-oleh," rengek Karina. "Beliin camilan kuku macan ya." "Mana duitnya?" "Ih pelit!" "Heh! Kamu kira aku disini dibayar banyak? Yang ada aku malah jadi relawan, untung saja papa masih berbaik hati kirim duit buat bayar kontrak rumah, ada AC-nya lho." "Itu mah mas saja yang manja!" "Biarin! Punya papa berduit banyak ya harus dimanfaatin mumpung masih ada, kalau sudah nggak ada baru kita bingung nyari duit!" Karina tertawa. Sudah lama Karina tidak mendengar motto kakak kesayangannya ini. Sebenarnya Ditya tipe mandiri dan suka mencari uang sendiri, tapi pada dasarnya orang tua suka khawatir dengan anak makanya kadang kala dimanjakan. Terakhir papa mereka mencak-mencak karena Ditya mendapat kamar sempit yang ventilasinya sedikit, kebayang panas di dalam kamar, akhirnya papa mereka memaksa Ditya kontrak rumah yang ada AC-nya dengan ancaman akan menarik Ditya ikut dirinya ke Amerika. Akhirnya mas suka bolak balik motto saking kesalnya dengan papa. Memanfaatkan uang orang tua. "Ada lagi yang mau dipesan? Mumpung mas belum keluar cari oleh-oleh." "Itu saja deh." "Jangan lupa transfer, lho ya!" "Iiihhh yang itu serius? Papa 'kan selalu transfer uang ke mas!" "Memangnya mas kamu ini suka minta-minta? Perjanjiannya hanya membayar uang kontrakan saja, nggak lebih! Jadi, kalau mau titip oleh-oleh wajib transfer!" Karina memonyongkan bibirnya. "Iya deh. Karina transfer habis ini, tapi jangan sampai lupa pesanan Karina." "Beres! Soal itu mas tidak akan lupa!" Ditya menutup sambungan telepon, Karina memasukan kembali handphonenya ke dalam tas. Meskipun sering bertengkar, hubungan mereka berdua sangat dekat. Karina kadang kala suka curhat dengan kakaknya. Mungkin di dunia ini, tidak ada kakak sebaik Ditya. "Dokter Ditya?" tanya Ririn dengan raut wajah penasaran. "Ya." Angguk Karina. Ririn tersenyum. "Dokter Ditya juga tidak kalah gantengnya, lebih ke macho pula. Saya selalu melihat sepak terjangnya di media sosial." Karina tersenyum. Kamp tempat Ditya bekerja, memang memiliki media sosial dan membagikan cerita untuk edukasi ke masyarakat biasa, meskipun yang mengunjungi hanya sedikit, namun mereka tidak menyerah untuk edukasi masyrakat. "Dokter Ditya sangat hebat, saya kagum," kata Ririn dengan mata berbinar. Karina mengangkat salah satu alis dengan heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD