HAMSTER

1112 Words
Setelah berhasil ditarik Ririn keluar ruangan, Karina menunggu di dalam mobil untuk meredakan amarahnya sementara Ririn menebus obat di apotik rumah sakit, lalu menyusul masuk ke dalam mobil. "Dok." Ririn melirik takut-takut Karina setelah memasang seatbelt. "Apa?" "Maaf ya dok, saya tidak menyangka dokter Rangga sekasar itu." Karina menjalankan mobilnya. "Bukan salah kamu kok, mulutnya orang itu aja yang jahat! Emang salah saya apa sih sampai dia seperti itu? Mengganggu kehidupannya saja tidak." "Dokter pernah mengatakan sesuatu yang menyinggung?" Karina mencoba mengingat lalu menggeleng. "Tidak." Di pet shop, di kebun binatang terus saat antar bi Murni, dirinya tidak ada bicara ke pria konyol itu. "Mungkin dokter itu capek." Ririn membela dokter plastik itu. Karina berdecak kesal. "Saya saja kecapekan, tidak pernah marah sama pasiennya." "Ya tidak bisa marah dok, yang dihadapin hewan!" "Hewan itu mengikuti naluri, sementara manusia punya otak buat menahan naluri, masa seperti itu saja kalah sama hewan? Dasar rese!" Karina memukul setir mobil dengan kasar. Ririn menghela napas dengan kecewa. "Kamu temani saya ke suatu tempat ya." "Kemana dok?" tanya Ririn waswas, dia kenal sifat Karina yang suka mencari tantangan. "Jangan aneh-aneh ya dok." "Buat apa aneh-aneh? Kita mau ke pasar hewan!" "Buat apa juga ke pasar hewan dok?" "Mau melihat sesuatu!" "Tapi saya ditraktir makan siang ya dok." Ririn coba merayu Karina. "Bukan siang lagi sekarang, ini sudah mau malam!" ucap Karina. Ririn melihat langit sudah mulai gelap. "Sudah jam berapa ini dok?" Karina melihat jam di dashboard tengah. "Jam setengah enam. Kita ke masjid dulu ya." "Iya dok." ____________ Setelah beribadah, Karina dan Ririn melanjutkan perjalanan ke pasar hewan. Karina berjalan menuju tempat jual hamster. Pasar hewan di tempat lain, biasanya tutup jam lima sore. Namun, di pasar hewan yang dikunjunginya, tutup tengah malam. Hal ini dikarenakan sebagian besar pembeli suka datang setelah sore atau di malam hari. "Dokter mau beli hamster?" tanya Ririn dengan penasaran. "Enggak. Mau lihat aja," jawab Karina sambil melihat gerombolan hamster di dalam akuarium berukuran besar. "Saya kok malah pengen punya hamster ya?" "Gara-gara hamster anak kecil itu?" "Tahu nggak, waktu itu bukan kali pertamanya saya periksa hamster tapi entah kenapa saat melihat hamster punya anak kecil itu saya jadi menginginkannya." Karina luluh dengan perhatian si kecil pada hamsternya. "Mendingan jangan pelihara hewan dok, siapa yang merawat? Masa bi Murni yang sudah tua merawat hewan?" saran Ririn. Karina berpikir dan membenarkan pernyataan Ririn, "Benar juga ya, rumah orang tua saya sudah besar, bi Murnipun dibantu art part time. Jika ditambah pekerjaan lain, takutnya semakin membebani dia." "Padahal dokter itu dokter hewan tapi tidak bisa pelihara hewan, sayang ya dok." Karina mengangguk lalu melihat hamster sekali lagi. "Iya." "Ibu Dokter!" Karina berdiri dan melihat Ica lari menghampirinya, "Ica!" serunya tidak percaya, baru saja dia memikirkan anak kecil ini, sekarang sudah muncul saja. "Bu Dokter masih ingat Ica?" tanya Ica setelah sampai di dekatnya. "Tentu saja saya ingat!" Karina berjongkok dan menjawil hidung Ica. Padahal dirinya ingat karena kesongongan om-nya Ica, "Ica kesini sama siapa?" "Sama kakek." Ica menoleh ke belakang dan kanan kiri. "Kakek ke mana ya? Tadi kayaknya di tempat makanan anjing." "Kita cari kakek Ica?" tawar Karina sambil menggandeng tangan anak kecil itu. "Tidak usah Bu Dokter. Nanti kakek telepon Ica, Ica bawa handphone kok." Ica mengangkat handphone jadul yang digantung di leher. "Tadi kakek kasih ini ke Ica." "Terus Ica kesini mau nyari temannya Matahari?" tebak Ririn di belakang Karina. "Iya!" Ica mengangguk lalu lari dan menyandarkan tangannya ke aquarium. "Hamsternya yang mana ya yang Bagus?" Karina mendekati Ica. "Carinya yang betina saja, warnanya Matahari kan cokelat, hitam dan putih. Nah, yang betina cari saja yang putih polos." "Biar anaknya bagus ya Bu Dokter?" tanya Ica polo. Karina membelai rambut lurus Ica sambil tertawa nakal. "Bukan. Itu warna kesukaan saya." "Ica juga suka warna putih." Ica menoleh. "Kalau begitu pilih warna favorit Ica saja ya, supaya Ica makin sayang sama temennya Matahari," saran Karina. Ririn yang berdiri di belakang mereka tersenyum. "Dok, tidak ingin menikah?" Karina yang baru saja memanggil penjual menoleh ke Ririn. " Masih tidak kepikiran." "Dokter keliatan sayang banget sama anak kecil, kenapa tidak buat aja?" Karina mengabaikan saran Ririn, dia bicara ke penjual untuk mencari hamster betina berwarna putih. Si penjual langsung mencarinya. Ica menarik baju Karina dan berbisik ketika Karina jongkok kembali. "Kasihan ya sama hamsternya sempit-sempitan gitu. Apa Ica beli semua saja bu dokter?" Karina menggeleng. "Kalau Ica beli semuanya justru kasihan juga sama hamsternya, Ica nanti tidak bisa mengurusnya." "Iya, Ica soalnya sering nginep di rumah sakit. Kasihan mbak di rumah jadi ikut ngurusin." Ica mengangguk paham. "Kakek juga sempat bilang gitu tadi di rumah, tapi kasihan." "Hamster itu bisa beranak sebulan sekali, menghasilkan empat sampai dua belas anak, Ica pasti tidak sanggup merawat sebanyak itu, lebih baik berdoa kepada Tuhan, supaya ada yang membeli hamster-hamster ini dan merawatnya dengan baik seperti Ica." Ica mengangguk antusias lalu berdoa di dalam hati. Karina menjadi luluh ketika melihat anak kecil itu menangkupkan kedua tangan untuk berdoa di dalam hati, tanpa sadar tangannya membelai kepala mungil anak itu. Tidak lama, seorang pria tua muncul dengan panik sekaligus bahagia. "Ica, kenapa kamu tidak menunggu kakek?" Ica melepas pegangan tangan Karina dan memeluk kaki kakeknya. "Ica lihat ada bu dokter, jadi lari." Andre tersenyum ketika melihat Karina lagi. "Eh, kita ketemu lagi." "Hallo pak," sapa Karina sambil mengangguk singkat. Andre menunjuk belakang. "Saya tadi cari makanan anjing di toko sana, tidak saya sangka malah Ica menghilang. Untung saja tadi saya bawakan handphone jadul." Karina menerima kotak yang diberikan penjual hamster dan membayarnya, lalu kotak itu diberikan ke Ica sambil berjongkok lagi. "Nah, ini hamster untuk teman Matahari, Ica." Ica menerimanya dengan malu. "Terima kasih, bu dokter." Andre merogoh saku di kantong bajunya. "Berapa saya harus membayar?" Karina menggeleng. "Tidak usah, saya memang ingin belikan untuk anak cantik ini." Andre menepuk kepala mungil Ica. "Nah, Ica. Bilang apa ke bu dokter?" Ica mengulang kembali ucapannya. "Terima kasih, bu dokter." Karina menjadi gemas sekaligus tertawa. "Sudah dua kali lho, Ica mengucapkan terima kasih. Tidak apa, saya suka Ica bisa merawat hamsternya dengan baik." Ica menyembunyikan wajahnya di kaki Andre sambil memeluk kotak hamster. Karina tersenyum lalu bangkit dan bertanya ke Andre. "Anda kesini sendirian?" Andre mengangguk. "Saya naik angkot ke sini." Karina tersenyum canggung, memang tidak bisa menilai orang dari penampilan saja. Mungkin tidak akan ada yang tahu kalau pria tua yang ada di hadapannya sekarang adalah orang kaya yang memiliki anak dokter songong. "Mau saya antar pulang?" Kedua mata Andre berbinar. "Bolehkah? Apakah tidak merepotkan?" "Tidak, sama sekali tidak." Karina bertanya kepada Ririn. "Kamu tidak masalah kan kalau saya antar mereka duluan?" Ririn tersenyum dan mengangguk. "Tidak masalah." Andre menghela napas lega, tidak perlu repot berdiri mencari angkot lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD