Ruis merasakan kulit pada tulang pipinya ditarik kencang, membentuk lengkungan lebar dengan hati membuncah bahagia. Ia tidak bisa berkata-kata, tetapi luapan emosi dengan memeluk erat tubuh Sekar sudah menunjukkan segalanya. “Selamat, ya, Tuan Ruista. Istri Anda positif hamil.” Sekali lagi dokter keluarganya mengucapkan kalimat yang mengandung makna mendalam bagi Ruis. Ia akan memiliki bayi. Istrinya dinyatakan hamil dengan perkiraan usia janin lima minggu. Tidak seperti yang dirasakan Ruis, Sekar lebih kepada tidak percaya dengan kehamilannya. “Ini tidak salah, 'kan?” bisiknya di dalam pelukan Ruis. “Apa maksudmu salah?” tanya Ruis melepaskan pelukannya lalu menatap Sekar dengan lembut. “Kau mengandung anakku.” “Ya, bukankah ini terlalu cepat?” Mata perempuan itu masih saja menunjuka

