Ruis terus memperhatikan prosesi pemakaman berlangsung, di sampingnya ada Sekar yang tampak tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ruis memilih untuk berada di barisan paling belakang. Banyak keluarga luar Julliane yang sudah lebih dulu menjejali area di mana peti jenazah Hasan akan di kebumikan. Ruis menggapai ujung jemari Sekar, menarik pundak wanita itu agar jatuh ke dalam dekapannya. Ia tahu, rasa cinta Sekar sudah mengisi namanya, tetapi Hasan tidak pernah hilang dari ingatan dan Ruis harus bisa memaklumi bagian itu. “Apa kau ingin melihat dari jarak dekat?” tawarnya. “Tidak. Begini sudah cukup. Aku hanya butuh melihat kalau dia tidak kabur, tapi kecelakaan.” Sekar menghela napas, mengusap air mata yang lolos begitu saja tanpa bisa dicegah. “Apa ini lebih baik?” Ruis bertanya de

