"Ya sudah, mau bagaimana lagi...." Bu Ambar mendesah pasrah. Ia berjalan pergi meninggalkan Marco dan suaminya yang masih duduk di ruang tengah.
Marco melihat ibunya dengan perasaan sedih.
"Kapan sekiranya Papa bisa bertemu dengan Hana?" tanya Pak Rehan pada putranya. Rambutnya yang sudah beruban seluruhnya memperlihatkan usia senjanya.
"Mungkin nanti, Pa. Aku ke sini cuma mau ngasih tahu Papa dan Mama. Gimana pun juga dulu Papa dan Mama menolak Wenny, aku takut Papa dan Mama menolak Hana juga. Aku nggak mau Hana sakit hati seperti yang dirasakan Wenny. Papa tahu, Wenny tidak pernah mau bertemu denganku sampai Hana besar."
"Sudahlah, Nak. Ini sudah terjadi. Papa minta maaf karena ikut-ikutan seperti ibumu. Papa nggak nyangka akhirnya seperti ini."
"Aku juga nggak tahu, Pa. Ternyata aku udah punya anak gadis. Hana secantik Wenny, tapi sikap dia sepertiku."
"Kamu bilang Hana sekarang tinggal bersama kamu?"
"Iya, Pa."
"Bukannya terakhir kali kamu bilang, kamu tinggal bersama June. Apa June masih tinggal di rumah kamu, Marco?"
Marco mengangguk. "Rumah June masih belum selesai di renovasi, Pa. Dia masih tinggal di rumahku."
Pak Rehan diam sejenak. Ia nampak berpikir, "Apa tidak apa-apa June tinggal bersama anakmu? Bagaimana pun juga June laki-laki dewasa dan anak kamu juga bukan anak-anak lagi?"
"Maksud Papa?"
"Papa khawatir saja. Bagaimana juga June laki-laki normal kan? Bisa saja June berbuat macam-macam pada anakmu saat kamu tidak ada di rumah kan?"
"Nggak mungkin, Pa!" Marco menggeleng pelan. "Aku percaya pada June. Lagian June sudah punya pacar. June tidak akan berbuat macam-macam. Dia punya akalnya untuk tidak macam-macam dengan Hana."
"Baiklah," gumam Pak Rehan mencoba mempercayai putranya.
"Papa mau lihat foto Hana?" tanya Marco pada ayahnya.
Pria pensiunan Jaksa itu pun segera mengangguk. "Tentu aja. Papa mau lihat foto Hana."
Marco merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone miliknya. Ia mencari foto Hana di galerinya dan menunjukkan pada ayahnya. "Ini, Pa!"
Pak Rehan memegang ponsel Marco dan memperhatikan foto Hana. Karena tidak terlalu jelas, Pak Rehan menggunakan kaca mata yang biasa ia selipkan di saku kemejanya. "Cantik. Papa tidak sabar untuk bertemu dengan Hana." Pak Rehan tersenyum sambil menatap Marco. "Kamu kirim foto Hana ke nomer WA Papa, bisa kan?"
"Bisa, Pa. Sekarang kukirim." Marco menerima kembali ponselnya dan mengirimkan foto Hana ke nomer w******p ayahnya.
"Kirimkan juga nomer Hana!"
Marco menatap ayahnya sejenak kemudian mengangguk. Ia percaya pada Papa. Tidak mungkin jika ayahnya berbuat buruk pada cucunya.
***
Hana melihat Marco pulang dengan perasaan senang. Meskipun ia tidak mengungkapkannya, tapi hatinya senang karena bisa melihat ayahnya lagi.
"Udah pulang, Marc?" tanya June saat ia melihat Marco di rumah. "Gimana kabar Om Rehan dan Tante Ambar?" tanyanya lagi.
Hana yang ada di ruang tengah sambil memegang ponselnya pun hanya berani mendengarkan obrolan ayah dan Om June. Ia tidak mengenal orang tua ayahnya. Miris memang, tapi Hana sudah biasa dengan keadaannya sekarang.
"Mama dan Papa baik-baik saja. Kalian di rumah nggak buat masalah kan?" tanya Marco yang membuat alis June berkerut bingung.
"Rumah kamu masih baik-baik saja. Jangan bicara yang tidak-tidak!" kesal June. Ia melihat bawaan Marco yang sedikit. "Mana oleh-oleh dari Bandung?"
"Oleh-oleh apa? Aku tidak beli."
"Astaga! Hana coba lihat Papamu. Dia tidak membawa oleh-oleh!"
"Nggak papa kok, Om. Aku juga nggak pengen oleh-oleh kok. Kalau mau juga aku bisa beli sendiri di online shope."
June berdecak, tidak terima. "Kalian benar-benar ayah dan anak!"
"Kamu sedang masak apa?" tanya Marco. Ia memang datang saat jam makan malam. June sedang memakai apronnya dan mencuci selada di bak cuci piring.
"Burger."
"Oke. Aku akan mandi dan ikut makan malam." Marco segera berjalan menuju kamarnya.
June pun kembali memasak, sementara Hana bermain ponsel sepuasnya. Gadis itu tidak ada niatan untuk membantu June memasak. Sedangkan June memang lebih suka memasak sendiri tanpa bantuan orang lain.
***
Marco, June, dan Hana makan malam bersama sambil mengobrol. Meskipun Marco baru pulang dari luar kota, sama sekali tidak ada pembicaraan tentang kepergiaannya. Mereka malah membahas persoalan pekerjaan Marco dan June. Mereka bertukar pikiran seperti biasanya.
Hana yang sejak tadi diabaikan pun memilih scroll i********:. Ia melihat foto idol k-pop kesukaannya, BTS.
"Siapa itu?" tanya June sambil mencuri lihat hape Hana.
"Bukan siapa-siapa," Hana tidak ingin menjawab dan segera menyimpan ponselnya.
Marco melihat Hana yang kelihatan misterius. "Foto apa, Hana?" tanya Marco penasaran.
"Bukan foto apa-apa, Pa. Cuma foto idol k-pop kok."
"Idol k-pop?" tanya Marco dan June bersamaan. "Kamu suka K-Pop?"
"Semua teman-temanku suka," balas Hana santai.
Marco baru tahu itu. Sementara June kembali memakan makanannya.
"Kamu mau ke Korea?" tanya Marco tiba-tiba.
June lantas tertawa mendengar pertanyaan Marco. "Kamu nggak serius kan, Marc?"
"Memang kenapa? Katanya kamu suka K-POP? Anak teman Papa ada yang suka K-POP sampai pengen sekali ke Korea."
"Marc, Hana anak kelas 12 SMA, dia tidak ada waktu ke Korea." June memperingatkan temannya. Sejak tahu jadi ayah, Marco sepertinya mencoba sebaik mungkin menjadi ayah yang baik untuk Hana.
"Kita bisa ke Korea setelah Hana lulus SMA." Marco menatap Hana dengan serius. "Kamu mau kan, Han?"
"Terserah Papa saja." Hana sebenarnya sudah banyak berharap, tapi ia tidak banyak bicara. Penggemar K-POP mana yang tak mau pergi ke Korea? Itu seperti keinginan terbesar para penggemar halyu. "Pa, Om June, aku udah selesai makan. Aku mau ke atas dulu."
"Kamu nggak mau tambah burgernya?" tanya June sebelum Hana bangkit dari kursi.
"Nggak deh, Om," balas Hana lalu berdiri. "Aku udah kenyang." Setelahnya Hana pun berlalu menaiki tangga rumah.
June dan Marco kembali melanjutkan obrolan mereka. Seperti biasanya Marco selalu bisa bercerita di depan June. Pembawaannya June yang lugas membuat Marco nyaman bercerita.
"Sebenarnya alasan Tante dulu nolak ibunya Hana kenapa sih?" tanya June penasaran. "Rasanya aneh juga kalau Hana pun kena getahnya. Apalagi sekarang Wenny sudah meninggal. Sebagai ibu, Tante Ambar seharusnya tahu bagaimana kesedihan Hana."
"Entahlah, Jun. Aku nggak pernah paham ibuku sendiri." Marco mengedikkan bahunya. "Untungnya Papa mau menerima Hana. Papa bahkan minta nomer hape Hana. Aku harap Papa dan Hana bisa akur dan buat Mama berubah menyukai Hana."
"Pasti bisa! Cuma butuh waktu aja!"
Marco mendesah. Semoga saja apa yang dikatakan June benar! Bahwa hanya butuh waktu untuk membuat ibunya menerima Hana sebagai anaknya.
***
Hana berbaring di ranjangnya dengan dua bantal bertumpuk di belakang leher dan kepalanya. Matanya tertuju pada layar ponselnya.
Beberapa kali ia menyembunyikan notifikasi saat sedang scroll i********:. Namun, saat mendapati pesan WA dari nomer tidak dikenal, Hana menyempatkan membacanya.
Assalamu'alaikum, Hana. Saya Rehan Antonio, Papanya Marco, ayah kamu. Semoga kamu selalu dalam kondisi sehat, Hana.
Papanya Papa? Apa ini kakeknya?
Hana diam sejenak. Nyaris tak percaya dengan pesan masuk yang baru dibacanya. Apa saat bertemu orang tuanya, Papa memberikan nomernya pada sang kakek?
Mata Hana berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akhirnya ia memiliki kakek dan nenek lagi. Sudah sejak lama ia hidup sebatang kara bersama ibunya. Tak bisa Hana kira setelah ibunya tiada, ia malah mengenali ayah bahkan kakek neneknya.
Tak ingin membuat kekeknya menunggu lama, Hana pun segera membalas dengan kata-kata yang sopan.
Wa'alaikum salam, Opa Rehan. Aku Hanaca Aurelie. Senang rasanya karena Opa mau mengirimi pesan. Semoga Opa juga Allah kasih kesehatan selalu.
Hana berharap sang kakek segera membalas pesannya.
Oppa Rehan: Aamiin. Apa papamu sudah pulang ke rumah dengan selamat, Hana?
Hana kembali membalas setelah membaca pesan Pak Rehan.
Iya, Opa. Papa sudah sampai rumah dengan selamat.
Oppa Rehan : Alhamdulillah kalo begitu.
(Pict!)
Tak menunggu lama, Hana melihat foto seorang laki-laki tua berambut putih, mungkin seluruhnya tengah memakai kaca mata berbingkai coklat tua. Pria tua itu tersenyum menghadap kamera.
Hana pun segera membalas pesan Opanya.
Ini foto Opa? Opa mirip dengan Papa sekali. Opa ganteng!
Balasan pun segera Hana dapatkan.
Opa Rehan : Papamu memang mirip dengan Opa. Sudah malam! Apa kamu mau tidur? Omamu sudah berisik menyuruh Opa tidur.
Hana tertawa membaca pesan Opa Rehan. Hana jadi ingin tahu bagaimana cantiknya sang Oma.
Kalau begitu selamat tidur, Opa.
Hana kembali mendapatkan pesan singkat.
Opa Rehan : Selamat tidur juga untukmu, Hana.
Setelahnya Hana mendapati Opanya sudah off. Ia mendesah pelan lalu kembali melihat foto Opa yang baru dikirimnya.
"Ternyata begini muka Opa. Bagaimana dengan muka Oma ya?" gumam Hana penasaran. Namun, ia tak berani bertanya pada ayahnya. Kepergian Ayahnya ke rumah Opa dan Omanya saja tanpa kehadirannya. Mungkin ada kalanya nanti mereka bertemu.
Hana kamu harus bersabar!
***
Bersambung>>>