Prolog

713 Words
“GAK MAU BUNDA!!!” Aku tidak perduli jika suaraku saat ini sudah seperti toa. Tidak perduli juga, kalau para tetangga mendengar teriakanku yang melengking, melebihi suaranya Kendal Jenner. Pokoknya aku gak mau. Gak mau. Gak mauuuuuu!!! “Ayolah sayang, sekali ini aja. Turuti permintaan Ayah sama Bunda, ya?” pinta Bunda.  “Aduh Bun, ganti permintaan yang lain aja deh, jangan yang ini. Terserah apa aja, pasti nanti aku turuti. Tapi jangan yang satu ini.” Aku yakin sekarang wajahku sudah sangat jelek. Karena sejak tadi, segala macam ekspresi sudah aku tunjukkan ke mereka. Gak papa deh jelek, penting berhasil dan rencana mereka gagal. “Ayah sama Bunda gak minta apa-apa sayang. Ini permintaan terakhir kami sama kamu.” Kan, kan, jurus pamungkasnya langsung keluar. Dari dulu juga bilangnya permintaan terakhir, tapi nyatanya enggak.   “Ayah serius sayang, setelah ini kami gak bakal minta apa-apa lagi sama kamu. Ini bener-bener permintaan terakhir kami," kata Ayah, seolah bisa membaca pikiranku.  “Tapi, kenapa harus perjodohan sih, Yah?” tanyaku frustasi. Bahkan aku kembali menangis.  Yah, kalian benar. Saat ini aku berada pada situasi dimana aku akan dijodohkan dengan orang, yang bahkan aku sendiri tidak kenal siapa namanya. Aku kira, yang namanya perjodohan hanya ada di jamannya Siti Nurbaya, pra-sejarah dan novel yang sering aku baca. Memang benar, cerita seperti itu sangat laris dikalangan pembaca. Tapi, kenapa aku harus merasakannya secara langsung?!!! Aku masih muda, aku masih ingin jalan dengan teman-temanku. Masih mau main sepuasnya. Ngecengin kakak senior, ngegoda adik junior yang keliatan bening. Shopping di mall berburu diskon. Nginep di apartemen temen terus joinan daleman. Aku masih pengen kayak gitu. Dan, kalau aku jadi menikah nanti, semuanya pasti bakal beda!!! Aku gak bisa ngecengin kakak senior lagi!!! Gak mauuuuuuuu.  Aku merasakan usapan lembut di kepalaku. Ayah memelukku dan tangisku malah semakin kencang. Selama ini aku selalu tergantung pada mereka. Aku selalu manja pada mereka. Bahkan, termadang aku masih tidur bersama mereka, jika aku tidak bisa tidur. Aku masih pengen menjadi anak kecil mereka. Aku belum siap jika harus menjadi seorang istri. Dan aku kian mengeratkan pelukanku pada Ayah. “Udah, jangan nangis. Masak anak Ayah masih aja cengeng sih,” lirih Ayah. Belaian lembutnya tidak kunjung berhenti untuk menenangkanku.  Sekiranya aku sudah bisa mereda tangis dan emosiku, aku mendongak menatap Ayah. Senyum tulus Ayah langsung tertangkap di mata coklatku. “Ayah serius mau jodohin aku?” tanyaku sekali lagi. Ayah dan Bunda sama-sama mengangguk. “Ayah sama Bunda gak mungkin asal pilihin pendamping buat kamu sayang. Laki-laki yang Ayah pilih, anaknya sangat baik, sayang sama keluarga, dan Ayah yakin, dia pasti bisa bimbing kamu buat gantiin Ayah.” “Ana belum siap jadi istri, Yah,” lirihku. “Kamu pasti bisa sayang. Kan, anak Ayah udah besar. Lihat nih,” ucap Ayah seraya merentangkan kedua tanganku, “bahkan bentar lagi, kayaknya, tinggi kamu melebihi tinggi Ayah. Itu berarti anak Ayah udah tumbuh dewasa.” “Tapi aku masih muda, Yah. Kuliahku juga belum selesai. Pasti nanti bakal ribet bagi waktunya.” Aku masih terus saja mencari alasan. Berharap dengan ini Ayah dapat mempertimbangkan lagi keputusannya. Demi Tuhan, aku masih belum siap.  “Terus kamu maunya gimana, Na? Mau nunggu Ayah sama Bunda bau tanah dulu, baru kamu mau nikah?”  Aku hanya diam. Tertunduk sedih. Aku tahu apa maksud Bunda bilang begitu. Aku juga tidak bisa mengelak jika, semakin hari usia mereka semakin menua. Ditambah dengan Ayah yang mempunyai riwayat penyakit jantung. Walaupun belum termasuk kronis, tapi tetap saja aku takut jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu dengan Ayah. “Tapi gak harus perjodohan juga kan, Bun? Pasti ada cara lain kok.” “Cara lain gimana? Sekarang Bunda tanya, emangnya kamu punya pacar? Kalau ada, sini, suruh ngadep ke Bunda sama Ayah.” Skakmat. Itu yang jadi masalah. Aku gak punya pacar, walaupun aku punya banyak gebetan yang sering ngajak jalan, tapi masalahnya apa mereka akan mau membantuku di situasi seperti ini?  Sedangkan mereka sangat tahu bagaimana watak Ayahku.  Sekarang aku harus bagaimana? Menerima perjodohan ini dan semua hal-hal yang biasa aku lakukan di luar sana akan terbatas. Atau aku menolak perjodohan ini? Tapi itu nanti akan berefek pada beban pikiran Ayah dan itu tidak baik untuk kesehatannya. Ya Tuhan, aku benar-benar bingung harus bagaimana. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang menyiksa. Mungkin benar ini permintaan terakhir mereka, tapi kenapa harus seberat ini? “Ayah kasih kamu waktu berfikir sampai besok pagi. Dan Ayah harap, keputusan kamu sesuai dengan yang kami inginkan sayang,” lirih Ayah, sebelum beranjak pergi dan mencium keningku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang bisa kulakukan saat ini hanya menangis, men angis, dan menangis. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD