Sejatinya sakit yang dirasa Fatiya tak seberapa. Ia juga masih bisa menahannya setelah meminum obat dari rumah sakit. Tapi, ia sangat ingin tahu ayahnya sedang apa. Siapa tahu dengan menghubungi ayahnya ia bisa mendengar juga kabar seseorang. Fatiya menghela napas berat. Ia gagal untuk sekadar menanyakan kabar Huzam. “Sedang apa? Benarkah yang disampaikan ayahku?” Fatiya mengacak rambutnya, frustrasi. Bel pintu rumah Fatiya berbunyi. Sontak membawa Fatiya kembali pada kesadarannya setelah sebentar memikirkan Huzam. Ia beranjak dari kamarnya untuk kemudian membuka pintu. “Tante Maria?” “Kamu nggak apa-apa? Katanya sakit?” Maria tampak panik. Pasalnya ia bergegas ke rumah Fatiya begitu dihubungi Arbrito. Dalam pesan yang disampaikan Arbrito juga seperti kondisi Fatiya cukup gawat. “Tant

