74. Siapa kamu, Siapa diriku

1160 Words

“Serius?” ujar Fatiya tak percaya. Huzam mengangguk. Ia mempersilakan Fatiya membuka oleh-oleh darinya. Fatiya pun melakukannya. “Wah ... mahal pasti ini,” kelakar Fatiya. Huzam menggeleng. “Kalau pakai kurs rupiah masih wajar kok.” “Yang bener?” goda Fatiya seraya memandangi ikat dan jepit rambut itu. “Iya. Coba pakai,” pinta Huzam cukup berani. Fatiya lagi-lagi menurutinya. Hari ini ia memang tidak mengikat rambutnya seperti yang ia lakukan sebelumnya. Maka ia memilih jepit rambut dibandingkan ikat rambut. “Pas,” gumam Huzam—puas. Fatiya tersenyum senang. Ini bukan sekadar hadiah pertama dari Huzam. Ini adalah hadiah pertama yang ia terima dari seorang laki-laki selain ayahnya. Setelah menghabiskan santap siang di kedai mie ayam dan bakso itu, Huzam melanjutkan perjalanan. Kali

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD