87. Badai Kepedihan

1205 Words

Huzam kalap menyaksikan kejadian itu di depannya. Bagaimana mungkin Bintang memilih mengakhiri hidup dengan begitu menyakitkan. Ia yang sepenuhnya sadar pun terguncang dan jatuh pingsan. Setelahnya ia tak ingat apa-apa selain terbaring lemah di sebuah kamar hotel nan mewah. “Sebaiknya kita segera bersiap, Zam. Jenazah Bintang sudah diurus orang-orang kita.” Arbrito menyambut kesadaran Huzam dengan pemberitahuan yang tidak diharapkan Huzam tentunya. Huzam berusaha mengumpulkan kesadaran, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening. “Apa kamu bilang? Orang-orang kita?” Arbrito mengangguk. Ia memang sudah mengoordinasikan semuanya. “Kita akan membawanya ke Indonesia dan memakamkannya di Magelang, sesuai perintah Bapak.” Huzam sedikit tersentak. Ia sendiri tak memikirkannya. Ia bahkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD