Bab 2 Mas Dewan

1486 Words
Setelah mengantar wanita bercadar itu pulang dalam perjalanan tiba tiba terdengar suara handphone berdering yang berasal dari bawah jok mobil. KRIIIING...KRING...!!! Virgoun yang sedang mengendarai mobil itu menoleh ke arah bos nya yang duduk di belakang sambil melirik kearah handphonenya yang tersimpan di saku kemejanya dengan mode silent. "Mas..apa itu suara handphone Mas Brian?"tanya Virgoun penasaran mengira suara itu berasal dari handphone bosnya. Brian mengernyitkan dahinya mencari sumber suara yang ada di bawah jok mobilnya dan mencoba untuk mengambil dengan tangannya. Tampak sebuah ponsel jadul dengan layar menyala tertera nomor tidak dikenal memanggil.Merasa penasaran ia menerima panggilan dari handphone itu. Sebelum ia sempat berbicara sebuah suara pria berbicara padanya. "Hallo Selina....menyerahlah dan menikah saja denganku karena anak buahku tidak akan pernah berhenti untuk menangkapmu...kau boleh lolos sekarang tapi tidak berikutnya daripada kau menjadi gembel dijalanan tidak punya rumah lebih baik kau menjadi istriku ...haha!!"ucap suara pria itu dengan nada mengancam. TUT...TUT...TUT... Panggilan telepon itu dimatikan sebelum Brian berbicara padanya.Brian mencoba berfikir dan memahami kata kata pria yang ditelepon tadi. "wanita itu dalam bahaya!"ucapnya sambil menyuruh ajudannya untuk kembali ketempat dimana mereka menurunkan wanita bercadar itu. "Mas...sebenarnya apa yang terjadi kenapa kita harus kembali ketempat itu lagi?'"tanya Virgoun merasa bingung melihat bos nya tampak khawatir. "Wanita itu butuh pertolongan kita saat ini,dia berbohong pada ku soal rumahnya yang berada di dekat sana pria di telepon tadi mengancamnya dan para preman yang mengejarnya tadi itu suruhan seseorang yang ingin menangkapnya"ucap Brian menatap jalan dari balik kaca mobil. "Mungkin saja pria itu suaminya mas,wanita itu kabur lalu ...". "tidak Vir..pria itu justru ingin menjadikan wanita itu istrinya...!".seru Brian. Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di halte tempat dimana mereka menurunkan wanita itu tadi.Brian segera turun dari mobil bersama ajudannya dan berjalan kesekitar halte mencari wanita itu yang sudah tidak ada lagi disana ia pun mencoba menyusuri gang yang ternyata itu adalah gang buntu dan tidak ada perkampungan didalamnya. "Pergi kemana dia?"ucap Brian mengamati kesekitar dan melihat di bangku halte itu seorang tunawisma yang tertidur lelap ia memutuskan untuk membangunkannya dengan hati hati berharap orang itu melihat kemana wanita bercadar itu pergi. "maaf saya membangunkan ibu,saya mau tanya apa ibu kenal dengan wanita yang mengenakan cadar serba hitam di sekitar sini?"tanya Brian dengan sopan kepada tunawisma itu. "Oh..wanita itu sudah pergi tadi,dia mengambil lapakku...jadi ku usir dia!!"sahutnya mengusap kedua matanya yang masih mengantuk. "apa kau tau dimana dia?"tanya Brian lagi penasaran. "aku tidak tau...pergilah aku mau tidur!!"sahutnya membaringkan tubuhnya lagi. "Heh..gak sopan banget kau!!!"seru Virgoun yang emosi melihat tunawisma itu mengusir Brian. Brian memberikan kode agar tidak membuat ribut di tempat itu kemudian bergegas masuk kedalam mobil. "Semoga wanita itu baik baik saja saat ini!"ucap Brian dalam hatinya menatap jalanan dari balik kaca mobil. "Sudahlah Mas tidak usah dipikirkan...wanita itu bisa menjaga dirinya sendiri lagi pula untuk apa mas repot repot mencarinya kita juga tidak kenal siapa dia !"seru Virgoun sambil menyetir mobil. "ya mungkin kau benar ...aku mencarinya disana karena aku hanya kasihan padanya!"sahut Brian pelan. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir tengah malam,kunjungan dapil hari ini terasa cukup melelahkan karena banyak tugas yang harus diselesaikannya sekaligus warga yang antusias untuk bertemu dan berfoto foto dengannya. Karena mengingat ibunya yang akan berulang tahun ia memutuskan untuk langsung pulang kerumah tanpa harus menginap di hotel agar ia bisa menghadiri pesta ulang tahun ibunya besok. Di Tepi jalan ia melihat sebuah masjid besar ia yang belum sempat untuk solat isya dan jarak kekediaman rumahnya masih satu jam lagi ia meminta Virgoun untuk singgah disana sebentar. "Vir..berhenti di depan masjid itu aku mau solat sebentar kamu tunggu saja di mobil !"seru Brian bergegas keluar dan masuk kedalam masjid itu. Ia segera mengambil wudhu dan melaksanakan solat isya sendirian setelah itu ia melangkah keluar dari masjid tapi tiba tiba terdengar suara tangisan seorang perempuan dari balik pembatas tirai itu. Langkahnya pun terhenti dan mendekati tirai pembatas itu karena penasaran ia mencoba berkomunikasi dengan wanita yang berada didalamnya. "Maaf...tengah malam begini apa yang mbak lakukan di sini..saya tau masjid itu tempat untuk beribadah tapi maksud saya apa mbak tidak di cariin sama keluarganya?"tanya Brian dengan hati hati berdiri di balik tirai. Tiba tiba tangisan itu tidak terdengar lagi dan suara yang terdengar tidak asing itu membuatnya penasaran. "Maafin saya mas,saya belum izin sebelumnya kalau saya mau numpang beristirahat disini,besok setelah salat subuh saya janji akan pergi dari sini tolong jangan usir saya ya mas ..!"sahut Selina dengan suara pelan muncul dari balik tirai itu menemui pria yang dikira marbot masjid itu. Sontak Selina terkejut melihat pria yang berdiri dibalik tirai pembatas itu,pria yang sudah menyelamatkannya dari anak buah pak Ridwan. "Tu..tuan...kenapa ada disini???"tanyanya tertunduk malu. "justru saya yang harusnya bertanya kenapa kamu disini dan sebenarnya apa yang terjadi padamu,kamu bilang sama saya kalau rumah kamu dibelakang halte itu tapi ternyata gang itu buntu dan malah berada dimasjid ini?"tanya Brian dengan serius. "Tuan mencari saya...saya tidak bermaksud membohongi Tuan tapi saya tidak mau merepotkan orang lain dengan masalah hidup saya ini".ucapnya menunduk sedih. "kamu bisa ceritakan semua ke saya apa yang sebenarnya terjadi,kamu enggak perlu takut...!"ucap Brian merasa kasihan padanya. Selina terdiam ia ragu untuk menceritakannya tapi melihat pria yang ada dihadapannya itu terlihat baik iapun mencoba menceritakan kesulitan dan ancaman yang ia hadapi saat ini. "Jadi pria itu adalah rentenir yang sudah mengambil rumahmu dan memaksamu untuk menikah dengannya?".tanya Bryan lagi. Ia mengangguk pelan dan berkali kali menghapus airmatanya yang mengalir dari balik cadarnya. "Lebih baik sekarang kamu ikut dengan saya pulang dan tinggal sementara dirumah saya,besok kita akan menemui pria itu dan selesaikan masalah hutangmu dengannya bagaimana??"tanya Bryan. "jangan Tuan ..tidak usah ini sudah tanggung jawab saya untuk membayarnya!".sahut Selina pelan . "jangan menolak,,sebagai seorang wakil rakyat saya tidak bisa diam saja melihat rakyat kecil sepertimu terzolimi". "kalau begitu sekarang kamu bisa ikut dengan saya"seru Bryan mengajaknya masuk kedalam mobil. "Mas...wanita ini?".tanya Virgoun terkejut melihat Bryan datang bersama Selina tiba tiba dan ikut masuk kedalam mobilnya . "Dia akan ikut kita pulang kerumah Vir...!"seru Bryan. Selina hanya menunduk malu duduk di samping Bryan,tercium aroma parfum yang menyerbak pria itu membuat Selina merasa gugup didekatnya. "Oh ya...siapa namamu?"tanya Bryan menoleh kearah Selina ."saya Selina Tuan....!"sahutnya pelan. "jangan panggil saya Tuan..usia saya belum kepala 3"ucapnya tersenyum. "iya Mas...". "panggil Mas dewan,mas Bryan ini seorang anggota komisi IV DPR dan juga pewaris tunggal keluarga Darmawan yang memiliki aset dimana mana dan salah satu keluarga terkaya di negara ini jadi kau harus sopan dan hormat padanya !"celetuk Virgoun dengan wajah sinis melihat dari kaca spion . "santai saja...enggak usah kaku gitu Virgoun!"ucap Bryan mendengar ucapan Virgoun. "iya Mas Virgoun,sekali lagi saya ucapin terima kasih Mas dewan dan mas Virgoun sudah menolong saya ,saya tidak tau harus bagaimana membalasnya!". "sudah...sudah...yang terpenting kamu selamat dan punya tempat beristirahat untuk saat ini!". Akhirnya mereka tiba disebuah Rumah yang sangat besar dan mewah berlantai lima yang berlokasi didalam kompleks perumahan elite. Mereka segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. "saya pamit dulu Mas izin kekamar !"ucap Virgoun menuju kamarnya yang ada di basement lantai satu. Brian hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya bersama Selina memasuki lift yang ada diujung ruangan itu. "inilah rumah saya dan saya harap kamu nyaman tinggal disini... dan dirumah ini hanya ada saya dan beberapa art yang bekerja.".ucap Brian menjelaskan . "orangtua mas dewan tidak tinggal disini ?"tanya Selina penasaran melihat rumah sebesar ini yang hanya ditempatinya sendiri. "orangtua saya tinggal dirumah mereka di Deket pusat kota,mereka hanya sesekali berkunjung kesini".sahut Brian lagi dengan nada sopannya. Selina yang baru pertama kali menggunakan lift merasa gemetar ia memejamkan matanya saat lift bergerak ke lantai 4. "kamu takut ya?"tanya Brian tersenyum memperhatikan wanita itu menutup matanya dari balik cadar. "iya mas...saya baru pertama kali naik alat ini,saya takut jatuh!"sahutnya pelan. "ini namanya Lift alat untuk naik dan turun secara otomatis karena rumah saya ada 5 lantai kalau naik tangga setiap hari saya bisa kurus ..oh ya untuk sementara kamu akan menempati kamar tamu yang ada dilantai 4."sahutnya menjelaskan sambil tersenyum melihat tingkah Selina. Ting..!! lift itu berbunyi tanda mereka sudah berada di lantai ruangan yang dituju,mereka segera masuk kedalamnya yang tampak luas dan megah yang diisi dengan barang barang mewah yang belum pernah Selina lihat sebelumnya. Brian berhenti didepan pintu kamar dan membukanya sebuah tempat tidur berukuran besar yang terlihat nyaman lengkap dengan lemari pakaian berada disana. "nah ini kamarnya,kamu beristirahatlah besok sore kita akan pergi menemui rentenir itu kalau kamu butuh apa apa jangan sungkan kamu bisa panggil asisten pribadiku dengan telepon itu kalau begitu saya juga mau beristirahat !"ucap Brian menjelaskan dan meninggalkan Selina disana. "Mas Brian pria yang sangat baik...."ucapnya memandangi kamar yang tampak mewah seperti kamar hotel itu sambil merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dan mengantuk. Sebelum tidur ia menatap langit kamar masih tidak percaya jika saat ini ia sedang berada dirumah mewah milik orang asing yang sudah menolongnya tadi. Ia berharap masalahnya dengan rentenir itu akan segera selesai dan ia bisa melanjutkan hidupnya kembali membuka lembaran baru untuk dirinya sendiri. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD