Keperkasaan Pak Dekan

1583 Words
Manik Noelle yang bulat dan basah menatap Arunika dengan penuh harap membuat gadis itu tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk langsung membantah ucapan Mahadewan barusan. Anak kecil itu bahkan langsung memeluk lehernya dengan erat, seolah menemukan tempat aman yang selama ini ia cari. Arunika hanya bisa tertawa kaku sambil menepuk pelan punggung mungil itu, mencoba menenangkan diri sendiri sekaligus menenangkan Noelle yang masih terisak kecil. Beberapa menit kemudian perawat kembali memasang infus yang tadi sempat dilepas anak itu saat kabur dari kamar. Ajaibnya, setelah kembali berbaring, Noelle justru terlelap dengan cepat. Arunika tetap duduk di kursi di samping ranjang, memandangi wajah kecil itu yang kini terlihat jauh lebih tenang. Di sisi lain ruangan, pintu balkon terbuka sedikit dan terlihat sosok Mahadewan berdiri di sana sambil berbicara di telepon dengan nada rendah. Di dalam kamar itu sendiri ada dua orang lain yang tampak tidak kalah tegang, seorang pengasuh dan seorang perawat yang sejak tadi berdiri dengan wajah agak pucat. Arunika memperhatikan bagaimana keduanya berkali-kali melirik ke arah balkon tempat Mahadewan berada, seolah takut jika suara mereka terdengar terlalu keras. Dari ekspresi mereka saja sudah terlihat jelas kalau sebelumnya mereka pasti baru saja mendapat teguran panjang. Arunika akhirnya memberanikan diri memecah keheningan. “Mbak, maaf… boleh tanya sesuatu?” Kedua perempuan itu menoleh bersamaan. “Iya, Bu?” jawab perawat. “Mau tanya apa?” “Noelle ini… sebenarnya sakit apa ya?” “Leukimia, Bu,” jawab sang pengasuh yang tadi dipanggil Mbak Tania. “Kanker darah.” Arunika langsung terdiam. Mbak Tania melanjutkan, “Sudah hampir setahun Non Noelle menjalani kemoterapi. Kadang kondisinya stabil, kadang turun lagi. Sekarang dokter sedang mencoba terapi yang lebih intens supaya sel kankernya bisa ditekan.” “Pantas dia terlihat lemas,” gumamnya pelan. Mbak Tania mengangguk. “Dia anak yang kuat sebenarnya. Cuma kesalahan kami bicara sembarangan. Saya juga ingin minta maaf kepada Ibu, sudah membuat Non Noelle berfikir yang tidak-tidak. Kami kira Non Noelle sudah tidur waktu itu. Kami tidak menyangka dia mendengar pembicaraan yang harusnya tidak kami lakukan.” Perawat disana, Mbak Kara juga ikut mengangguk. “Benar, kami membuat image pacarnya Pak Dewan jadi tidak baik. Maaf ya, Bu.” Arunika tertawa hambar. “Tenang saja, Mbak. Saya bukan—” “Saya berharap tidak ada lagi pembicaraan yang tidak perlu di sekitar anak saya,” ucapan Mahadewan memotong, pria itu sudah selesai bicara rupanya. “Maaf, Pak—” “Saya tidak meminta penjelasan. Saya hanya meminta kalian bekerja sesuai tugas.” “Baik, Pak.” “Noelle tidak perlu mendengar spekulasi orang dewasa tentang kehidupan pribadi saya,” lanjutnya pelan namun tajam. “Jika itu terjadi lagi, kalian tidak perlu kembali bekerja di keluarga kami.” Kedua perempuan itu mengangguk cepat. “Dimengerti, Pak.” Mahadewan menatap mereka beberapa detik lagi sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Arunika yang masih duduk di kursi. “Ayo.” “Kemana?” “Pulang.” “Saya bisa pul— Pak, tunggu! Lepas dulu, saya bisa jalan sendiri.” Mahadewan meraih tangan Arunika begitu saja dan menariknya berdiri dari kursi dan membawanya keluar. “Pak, lepaskan.” “Diamlah,” ucapnya dengan tenang. “Saya tidak—” “Jika kamu terus berisik,” potong Mahadewan tanpa menoleh, “Saya akan memberi tahu Ayah dan Kakek saya bahwa kamu merusak arsip sejarah universitas.” Langkah Arunika langsung terhenti. Mahadewan baru berhenti beberapa langkah kemudian dan menoleh sedikit, tatapannya datar namun jelas penuh ancaman. “Kamu tahu apa yang akan terjadi setelah itu.” Arunika menggertakkan gigi. Ia ingin sekali menarik tangannya dan pergi begitu saja, tetapi bayangan tentang jurnal tua yang rusak itu langsung muncul di kepalanya. Akhirnya ia hanya menghela napas panjang dan membiarkan dirinya digandeng keluar dari kamar VIP itu. Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi. Mahadewan tetap menggenggam pergelangan tangan Arunika dengan kuat seolah takut gadis itu tiba-tiba kabur. Mereka turun ke basement parkir. Di sana deretan mobil mahal berjejer rapi di bawah lampu putih yang dingin. Mahadewan berjalan lurus menuju sebuah Range Rover hitam yang tampak gagah di sudut parkiran. Ia membuka pintu penumpang depan. “Masuk.” Arunika memandang mobil itu sebentar sebelum akhirnya menyerah dan masuk ke dalam. Pintu mobil tertutup dengan suara berat, diikuti Mahadewan yang memutar ke sisi pengemudi dan duduk di belakang kemudi tanpa mengatakan apa pun lagi. Namun begitu mobil itu naik ke jalan utama rumah sakit, suara gemuruh langsung memenuhi udara. Hujan turun dengan sangat deras, air menghantam kaca mobil seperti ribuan kerikil kecil, disertai kilatan petir yang menyambar langit Jakarta malam itu. “Jadi… apa maksud bapak bicara seperti itu pada Noelle?” “Supaya dia tidak sedih lagi dan fokus pada kesehatannya, jadi kamu… akan menjadi calon Ibunya sampai perawatannya sembuh.” “Pak?” “Tidak harus berakting didepan semua orang. Hanya di depan Noelle saja.” “Itu kebohongan paling kejam yang saya dengar. Bagaimana jika dia mengetahuinya? Apa tidak lebih sakit? Bapak seharusnya tidak melakukan ini.” “Saya harus melakukannya supaya dia sembuh. Saya tidak mau kehilangannya.” Kali ini ada yang berbeda dari nada suaranya, seperti… rapuh. Siapa sangka Arunika akan melihat sosok ini terlihat putus asa. Lebih mengejutkan daripada mengetahui ia punya anak padahal semua orang juga tahu ia adalah perjaka tua! “Saya akan kembalikan beasiswa yang kamu inginkan itu. Tapi tetaplah di sisi Noelle. Dan jangan khawatirkan jika semua ini harus berakhir, saya akan atur semuanya. Saat ini, prioritas saya adalah dia.” “Oke, tapi saya mau bicara dengan Bapak terkait pembatasan BEM.” Mahadewan tertawa. “Oke, saya akan beritahu kamu. Kita cari tempat yang nyaman, untuk menulis perjanjian juga.” Mobil pun berbelok, Arunika mengerutkan keningnya. “Saya mau dibawa kemana?” “Ke apartemen saya.” *** Sesuai dengan dugaan Arunika, apartemen Mahadewan berada di lantai paling atas di pusat Jakarta. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah ruang yang sangat luas dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kota. Malam itu Jakarta sedang diguyur hujan deras, sehingga lampu-lampu gedung yang berkilauan di kejauhan terlihat sedikit buram tertutup tirai air. Interior apartemen itu didominasi warna putih bersih dengan aksen keemasan yang membuat seluruh ruangan terlihat mewah. Ada juga sebuah kolam renang yang airnya berkilau tenang di bawah pencahayaan lembut. Arunika bahkan sempat berhenti beberapa langkah dari pintu, menatap sekeliling dengan ekspresi sulit dipercaya. Ia pernah melihat apartemen mewah di televisi atau media sosial, tapi berdiri langsung di tempat seperti ini rasanya seperti masuk ke dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya. Mahadewan berjalan melewatinya begitu saja, seolah tempat itu tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Apartemen ini satu lantai, tapi luas dan mewahnyaaaaa….. “Saya akan mandi dulu,” ucapnya singkat sambil membuka kancing manset kemejanya. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana.” “Saya tidak berniat kabur juga.” “Kalau kamu lapar atau haus, dapurnya di sana. Ambil saja sendiri.” Lalu ia menghilang ke dalam kamar. Suasana apartemen langsung menjadi sunyi, hanya suara hujan yang memukul jendela kaca besar yang terdengar jelas. Arunika menghela napas panjang. “Ya Tuhan…” gumamnya pelan. Ia berjalan beberapa langkah ke arah jendela dan memandangi kota Jakarta yang basah oleh hujan. Lampu kendaraan tampak seperti garis-garis cahaya yang bergerak pelan di jalanan yang mengilap. Jika beasiswa menjadi taruhannya, maka ia harus menjalani semua ini. Walaupun bagian dari dirinya merasa tidak enak karena harus membohongi Noelle. “Tapi aku juga butuh biaya hidup…” gumamnya lirih. Setelah beberapa saat, tenggorokannya terasa kering. Arunika akhirnya melirik ke arah dapur yang tadi disebut Mahadewan. Dapur itu terlihat sama mewahnya dengan ruang utama dengan meja marmer putih besar, lemari kabinet tanpa pegangan yang tampak seperti dinding rata, dan berbagai peralatan modern yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya. “Ini dapur atau laboratorium?” gumamnya bingung. Ia berjalan mendekati kulkas besar yang tampak seperti bagian dari dinding. Arunika menatapnya beberapa detik. Lalu mencoba menarik tapi tidak terbuka. Ia mencoba lagi dan masih tidak bergerak. “Loh?” Arunika kemudian berjongkok, meneliti bagian bawah kulkas itu seolah mencari tombol rahasia. “Ini dibukanya dari mana sih…” gumamnya pelan. Setelah beberapa saat menyerah, ia akhirnya beralih ke dispenser air yang berdiri di sudut dapur. Setidaknya benda itu masih terlihat cukup familiar. Arunika menekan tuasnya. Air langsung mengalir deras ke dalam gelas, namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu. “Tunggu… ini matinya yang mana?” Air masih terus mengalir membuat Arunika panik. “Eh… eh… eh…!” Ia mencoba menekan berbagai bagian dispenser itu, tetapi air tetap keluar tanpa henti sampai hampir meluber dari gelas. Saat itulah sebuah tangan tiba-tiba muncul dari sampingnya dan menekan tombol di bagian atas dispenser. Air langsung berhenti dan Arunika mengangkat kepalanya. Tubuhnya seketika membeku sebab Mahadewan berdiri di sampingnya. Rambutnya masih basah setelah mandi, tetesan air bahkan masih jatuh dari ujung helai rambutnya ke bahu. Ia tidak mengenakan atasan sama sekali, hanya handuk putih yang dililitkan di pinggangnya hingga memperlihatkan… otot-ototnya yang begitu kuat dan liat. Arunika langsung refleks mundur satu langkah. “Pa—” Siku Arunika tidak sengaja menyenggol meja dapur. Air yang tadi sempat tumpah di lantai juga ia injak saat tubuhnya tidak seimbang. “Aaaa!” BRUK! Refleks, tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan dan yang ia tangkap justru handuk yang melilit di pinggang Mahadewan. “Aw, sakit,” gumamnya sambil membuka mata dan…. “Aaaaaa!” Jeritannya jauh lebih keras dari sebelumnya saat menyadari apa yang baru saja ia lihat. Mahadewan tanpa sehelai benang pun tengah berdiri di dekatnya, terlihat jelas detail dan semuanya. Berurat, panjang, tebal dan.... mengerikan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD