Semenjak mengetahui bahwa area pemakaman kedua orang tuanya akan dibongkar, Arunika tidak pernah benar-benar tidur dengan tenang. Malam-malamnya dipenuhi bayangan tanah yang diratakan, nisan yang dipindahkan, dan kenangan yang seolah akan dipaksa hilang bersama debu proyek. Tempat itu bukan sekadar pemakaman. Di bawah pohon rindang yang akarnya menjalar tenang, dua nisan berdampingan ayah dan ibunya adalah satu-satunya ruang di mana Arunika merasa masih punya “rumah”. Ia bisa duduk di sana berjam-jam, berbicara tanpa suara, menangis tanpa malu. Dan kini, semua itu terancam hilang. Di apartemen, Arunika sering kali hanya duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Bahkan keberadaan Mahadewan pun menjadi sesuatu yang… sam

