"Hmphh!" Hanina merasakan kesadarannya telah kembali, ia mengerjabkan matanya berkali-kali untuk memulihkan kesadarannya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sangat asing baginya. Ruangan yang sangat kotor, bahkan Hanina langsung mual saat melihat bangkai seekor tikus di sudut ruangan yang telah mengering. Sial! Siapa yang merencanakan semua ini? batin Hanina menggeram kesal. Ia memberontak, berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu tangannya di belakang kursi. Bahkan mulutnya juga dibungkam dengan lakban, membuat suara Hanina terbungkam. "Hmpphh! Tolnghh!" Namun usaha Hanina sia-sia saja, suaranya tak dapat keluar dengan jelas dan ia tak cukup kuat untuk melepaskan ikatan di tangannya. Ceklek! Pintu yang terbuka seketika membuat Hanina menjadi waspada, ia menatap tajam pada

