Di rumah, datanglah sesosok laki-laki berpakaian serba putih. Rambut panjang hitamnya dikepang menjadi satu mirip pria Cina zaman kuno yang sering kulihat di film Jet Li. Laki-laki itu menyalurkan energi kepada Awan dan Johan. Melalui telapak tangannya, muncul sinar-sinar kecil yang menyusuri tiap jengkal luka yang ada. Perlahan luka yang ada di tubuh Awan mulai menutup kemudian menghilang tak berbekas, wajah Johan pun mulai merona kembali. Aku lega melihat keadaan mereka mulai membaik. Kutatap Teresa yang duduk di sampingku. "Kak, maaf." Aku berusaha menahan tangis, namun suaraku terlanjur parau. Teresa tidak menampakkan rasa marah ataupun kecewa. "Pelangi, kumohon jangan salahkan dirimu. Memang sudah resiko bagi Hunter kehilangan nyawa kapan pun. Mereka sudah paham dengan konsekuensi i

