Sampai di kantor, aku melihat Tio suddah berada di kantor duluan. Aku tak tau bagaimana caranya bisa memperbaiki hubungan baikku dengan Tio, karena selama ini dia banyak kecewa dengan sikapku. Aku menghampirinya dan mencoba membicarakan masalah ini. ”Apa kita bisa ngomong sebentar?” tanyaku. ”Penting?” ”Kita duduk disitu dulu sambil minum teh” kataku sambil menunjuk sofa. Aku memberikan secangkir teh kepada Tio berharap ia mau memaafkan semua kesalahan yang sudah ku buat. ”Apa yang ingin lo bicarakan?'1 tanya Tio. HApa lo masih marah sama gua?" ”Marah? Karena apa?” ”Selama ini kan kita sudah tak seperti dulu lagi, apa lo ga ngerasa kecewa sekantor sama gua?” ”Gua emang pernah kecewa sama lo, karena lo sudah memperlakukan istri lo seperti wanita yang tak punya harga diri, tapi melih

